
Keesokan harinya adalah libur lebaran terakhir bagiku yang hanya dapat jatah libur seminggu, tiga hari sebelum dan tiga hari sesudah lebaran. Alan melaksanakan open house di rumahnya dan karena masa pandemi maka ia hanya mengundang staf yang ada di kantornya. Undangan jam 8 pagi. Aku sedang bersiap saat Mas Andre mendekat dan bertanya.
"Mau kemana dik?" tanya Mas Andre.
"Mau memenuhi undangan Pak Alan, Mas. Kan semalam aku sudah ijin." jawabku sambil merapikan jilbabku. Mas Andre mendekatiku dan memelukku dari belakang.
"Tamunya belum pulang ya dik?" bisiknya sambil merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Aku merinding saat kurasakan sesuatu yang keras menekanku dari belakang. Rupanya Mas Andre sedang kepingin. Aku diam bimbang. Ku cengkeram pinggiran meja riasku. Mas Andre pasti tahu jika tamu bulananku sudah selesai karena tadi ia melihatku sholat subuh. Tangan Mas Andre mulai menjelajahi tubuhku. Menyentuh bagian bagian yang sensitif di tubuhku.
"Mau kan dik!" kembali Mas Andre berbisik. Jika menuruti ego, aku ingin menolak mentah-mentah ajakan Mas Andre. Tapi aku tahu aku tidak boleh melakukannya.
Mas Andre semakin berani saat aku diam dan tidak menolak sentuhannya. Akhirnya kamipun melakukannya.
"Terimakasih dik. Mas kangen banget sama kamu." kata Mas Andre sambil mengecup keningku. Aku segera bangkit dan menuju kamar mandi. Selesai membersihkan tubuh aku kembali bersiap untuk menghadiri undangan Alan.
"Harus secantik itu ya dik?" tanya Mas Andre. Ada nada cemburu dalam suaranya.
Aku berhenti berdandan. Kuputar tubuhku menghadap Mas Andre.
"Mas, kalau Mas Andre tidak ridlo, aku tidak akan berangkat." kataku.
"Mas ridlo adik menghadiri undangan Alan hanya saja Mas mohon jangan terlalu cantik dandannya." jawab Mas Andre.
"Mas, aku sama sekali nggak dandan yang berlebihan. Lihatlah, aku hanya memakai bedak. Itupun tipis dan lipgloss agar tidak pucat." aku menjelaskan kepada Mas Andre.
"Tapi wajahmu tampak sangat natural dik. Dan itu sangat cantik."
Aku mendengus kesal. Bukan karena marah sama Mas Andre tapi aku bingung dengan sikapnya.
"Mas, kalau aku secantik itu, kenapa Mas berpaling dariku?"
Mas Andre diam.
Aku kembali melanjutkan merapikan jilbabku.
"Dik, jangan memakai baju warna ungu." kembali Mas Andre bersuara.
"Kenapa, Mas?" tanyaku heran, "Apa warna ungu juga membuatku lebih cantik?"
"Bukan begitu. Warna ungu itu warna janda. Jika kau mengenakan warna ungu, apa kau ingin mengumumkan kalau kau sudah janda?"
"Astqghfirullah mas." Aku mengembalikan gamis unguku ke dalam almari. Aku mengeluarkam gamis lain yang berwarna hijau gelap.
"Dik jangan menggunakan warna gelap karena kulit putihmu akan semakin bersinar jika kamu memakai warna gelap." kembali Mas Andre berkomentar.
__ADS_1
Ku taruh juga gamis hijau gelapku."Baik mas, aku akan memakai baju putih dan tak akan memakai riasan. Biar wajahku pucat kayak mayat. Jadi aku bisa benar benar mirip pocong" aku menggerutu.
Ku dengar suara tawa Mas Andre. "Kau luci dik. Itulah yang membuatku mencintaimu" katanya lalu ia menggulung tubuhnya di bawah selimut. Dan tak perlu menunggu lama aku sudah mendengar suara dengkurnya.
"Ck..kebiasaan." gumamku sambil memilih gamis yang ku anggap pantas untuk menghadiri open house di rumah Alan.
Aku tiba di rumah Alan sepuluh menit lebih lambat dari waktu yang tertera di undangan.
"Kenapa telat?" tanya Dewi, "Mentang-mentang teman Bos ya." candanya.
Ku pukul lengan Dewi sebagai jawaban kata-katanya.
"Ra!" sebuah panggilan membuatku menoleh.
"Bu!" Aku melihat ibunya Alan melambai ke arahku. Ku hampiri beliau dan kucium tangannya.
"Apa kabar bu?" tanyaku.
"Alhamdulillah baik. Kau juga tampaknya semakin membaik ya." Bu Riya, ibunya Alan memandangku setengah meneliti tubuhku dari ujung kaki sampai kepala, "Kau semain cantik."
Aku tersenyum.
"Ra, ikut ibu yuk! Ada yang ingin ibu sampaikan." Bu Riya menggandengku masuk ke dalam rumah besarnya.
"Iya, Bu." Aku mengangguk.
"Baguslah." Bu Riya lalu mengambil sesuatu dan menaruhnya di hadapanku. Sebuah foto wanita yang sangat cantik dan masih muda. "Namanya Anita. Dia putri dari teman ayahnya Alan almarhum. Aku berharap Alan dan Anita bisa menikah. Anita sangat pantas menjadi pendamping Alan. Selain cantik, ia juga lulusan universitas ternama dan dari keluarga yang latar belakangnya sama dengan kami. Ayahnya pernah menjadi anggota DPR lo Ra."
Inilah. Inilah yang dulu membuatku tidak menanggapi ucapan cinta Alan. Keluarga kami beda. Alan dari keluarga berada, sedangkan aku? Semua tahu bahwa untuk meraih gelar sarjanaku, aku harus membanting tulang siang malam.
"Ra!" panggilan Bu Riya menyentakku dari lamunan masa lalu.
"Iya Bu." suaraku sedikit tergagap.
"Kau mau kan menolong ibu. Kau adalah teman lama Alan. Alan pasti mau mendengarmu. Tolong ibu dekatkan mereka dan juga tolong ibu awasi Alan di kantor. Kalau Alan mendekati wanita, kau bisa melaporkannya pada ibu. Kalau wanita itu sederajat dengan kami, maka aku akan mengijinkan mereka bersama. Kalau tidak maka aku akan memaksa Alan menerima Anita."
Aku diam. Bagaimana caraku menolongmu Bu.
"Ra, kau mau kan?"
Kupandang mata Bu Riya yang penuh harap padaku. Entah mengapa aku mengangguk. Bu Riya langsung memelukku.
"Terima kasih, Ra. Aku tenang sekarang. Oh ya, bagaimana kabar suami dan anak angkatmu?"
__ADS_1
Hatiku sedikit nyeri mendengar sebutan anak angkat untuk Ryan. Tapi sudahlah, kenyataannya memang begitu. Aku tak bisa menyalahkan Bu Riya.
"Alhamdulillah, baik bu." jawabku pendek.
"Ra, kenapa kau malah duduk di sini bersama ibu? Di cari anak-anak tuh di depan?" Alan datang dan langsung menyela obrolan kami.
"Bukan apa-apa. Iya kan Ra? Kami hanya melepas rindu." Bu Ira yang menjawab sambil menyembunyikan foto Anita. "Ra, terima kasih sudah menemani ibu. Kamu anak baik. Semoga hidupmu bahagia." Doa Bu Ira sebelum meninggalkan aku dan Alan.
"Jangan bohong!" kata Alan tiba-tiba.
"Bohong apa?" jawabku sambil berdiri dan melangkah menuju tempat halal bihalal. Alan mengekor di belakangku.
"Ibu menyuruhmu melakukan sesuatu kan?" tebak Alan dan sialnya tebakannya tepat.
Aku menghentikan langkahku dan buk..Alan menubrukku dari belakang. Tubuhku hampir terjungkal ke depan kalau Alan tidak menahannya. Alhasil tangan Alan melingkar di pinggangku.
"Maaf. Kamu sih berhenti mendadak." kata Alan membela diri sambil melepaskan tangannya dari pinggangku. Aku diam. Ya aku yang salah.
"Lan, ibumu ingin kamu segera menikah." kataku kemudian.
Alan tersenyum, "Apa dia melamarmu untuk jadi istriku?" ia malah nyengir.
"Jangan bercanda! Ibumu sudah punya calon untukmu, namanya Anita."
"Aahh...dia lagi." komentar Alan tampak tidak tertarik.
"Lan, kalau kamu tidak menyukai Anita, carilah wanita lain yang sesuai dengan kriteria ibumu. Dan kenalkan pada beliau. Pasti beliau akan senang. Jangan terus menerus jomblo seperti ini. Membuat ibumu khawatir." aku mencoba menasehati Alan.
"Sok tahu aku jomblo." jawab Alan. Matanya menghujam ke mataku. Aku langsung mengalihkan pandangan.
"Syukurlah kalau kau punya kekasih. Kenalkan dia pada ibumu donk." usulku.
"Sayangnya tidak bisa..belum bisa."
"Kenapa?"
"Karena kami LDRan."
"Oo begitu. Pantas aku tidak pernah melihatmu bersamanya."
"Ih nih orang sok tahu lagi, aku sering bersamanya." jawab Alan.Ia kembali menatapku dengan sorot mata itu. Sorot mata yang membuatku salah tingkah.
"Lan, jangan bohong. Mana ada LDRan sering bersama."
__ADS_1
"Ada. LDRanku beda sama yang lain. LDRanku itu akunya di sini, dianya dipelukan pria lain." jawab Alan sambil mendekatkan mulutnya ke telingaku. Ia lalu meninggalkanku yang termangu mendengar jawabannya.