
"Pagi, Kak!"
Suara renyah dan ceria Anita mengagetkan Fira yang sedang menyiram bunga di halaman rumahnya.
"Eh, Anita! Kok aku tidak dengar kamu tiba? Naik apa memangnya?" Fira celingukan mencari keberadaan mobil Anita.
"Diantar sama sopir. Aku lihat pagar nggak dikunci dan kakak sedang menyiram bunga. Jadi aku langsung masuk." Anita menjelaskan.
"O gitu. Lengkap banget penjelasanmu Nit. Mirip seperti pebisnis yang menjelaskan proposalnya demi menang tender." Fira menggoda Anita sambil terus sibuk menyiram bunga bunga kesayangannya.
"Kak..!" Anita memanggil Fira dengan nada manja.
"Hm." Fira tidak mengalihkan pandangannya. Dia masih tetap fokus dengan kesibukannya.
"Kak Fira! Lihat aku dong!" rengek Anita.
"Apa sih?" Fira melirik sekilas lalu kembali menatap bunga bunga.
Fira menghentikan tangannya yang sedang menekan selang. Ia menoleh dan matanya membola.
"Anita!!" serunya. Sepang yang ada di tangannya langsung ia lepaskan begitu saja.
"Tarrraaa..." Anita merentangkan kedua tangannya.
"MasyaAllah. Cantik banget. Pantas tadi aku seperti melihat hal aneh tapi kok nggak ngeh gitu."
Fira memutar tubuh Anita demi melihat penampilan barunya.
__ADS_1
"Yeee...kakak saja yang lemot." canda Anita.
"Berani ya ngatain aku lemot." balas Fira sambil mencubit lengan Anita.
"Aduh kak, sakit! Ampun!" rengek Anita pura-pura kesakitan padahal Fira tidak terlalu keras mencubitnya.
Fira melepaskan cubitannya diiringi senyum lucu.
"Jadi aku nggak disuruh masuk nih? Dibiarkan di luar begini?"
"Ha iya lupa. Ayo masuk Nit!" Fira menggandeng tangan Anita mengajaknya masuk.
"Lha, terus itu bagaimana?" Anita menunjuk sepang yang tergeletak di atas rumput.
"Itu nanti saja. Nanti juga ada yang merapikan." Ucap Fira sambil tersenyum dan mengangkat alisnya.
"Duduklah Nit!" Fira mempersilahkan Anita duduk saat mereka sudah masuk ke dalam rumah.
"Kok sepi, Kak? Kemana anak anak?" Anita bertanya sambil menaruh tubuhnya di sofa.
"Mereka pergi, ikut papanya ngegym. Mau minum apa Nit?" Fira beranjak hendak ke dapur.
"Sudah kak, nggak usah. Nanti aku ambil sendiri saja. Bolehkan?" Anita menahan tangan Fira.
"Bolehlah. Anggap saja rumah sendiri." Fira lalu duduk di sebelah Anita.
"Mmm Nit, apa kamu baik baik saja?" tanya Fira setelah sempat ragu ragu.
__ADS_1
Anita tersenyum. "Kak Fira mau menanyakan tentang Kak Alan kan?"
Fira mengangguk kecil." Kau boleh tidak membahasnya kalau tidak mau."
"Nggak papa kak. Aku rasa Kak Fira sudah tahu kan kalau Kak Alan meninggalkan rumah?" ucap Anita getir
Fira menatap Anita penuh iba.
Anita menunduk sebentar lalu kembali menegakkan kepalanya seraya menghembuskan nafas panjang.
"Nita sudah pasrah, Kak." lirihnya dengan bibir bergetar.
"Apa itu juga yang menjadi alasanmu merubah penampilanmu?"
Anita menoleh. Ia menggeleng.
"Aku hanya berusaha menjadi lebih baik kak. Bukan demi siapapun. Tidak juga demi agar Kak Alan mau menerimaku. Tapi demi aku sendiri. Aku berharap jika aku sudah baik, maka akan ada orang baik yang datang padaku."
"Kau akan melepaskan Alan?"
Anita tersenyum kecut. "Apa yang harus dipertahankan kak?" jawabnya sambil mengusap ujung matanya yang mulai basah.
Melihat Anita akan menangis, Fira segera merengkuh dan memeluknya.
"Menangislah, jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik." bisiknya.
Anita menumpahkan tangisnya dalam dekapan Fira. Tubuhnya bergetar hebat. Fira ikut larut dalam kesedihan Anita. Ia pun menitikkan airmata.
__ADS_1