Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Menggugat cerai


__ADS_3

Setelah empat hari opname, Alan akhirnya diijinkan pulang. Aku merasa lega karena nggak perlu lagi bolak-balik ke rumah sakit hanya demi supaya Alan mau minum obat. Bu Riya selalu mengingatkan akan batasanku saat aku bersama Alan. Sungguh, tanpa diingatkanpun aku tahu posisiku.


"Selamat pagi, Pak!"


Aku menoleh saat mendengar Dewi memberi salam. Ku lihat Alan berjalan menuju ruangannya. Banyak rekan rekan sesama staf mengucapkan selamat atas kesembuhan Alan.


"Fir! Kamu nggak memberi selamat atas kesembuhan Pak Alan?" si usil Dewi mulai kepo.


"Sudah.' jawabku pendek sambil terus mengetik laporan pengajuan ceraiku.


"Fir! Ini?" Dewi menunjuk layar komputerku. "Kau sungguhan mau cerai dari Andre?" tanyanya.


Aku mengangguk.


"Akhirnya!" Dewi memelukku dengan senyum bahagianya.


"Kau ini. Ada teman mau cerai malah gembira." gerutuku.


"Maaf. Tapi aku gembira karena kau akan terlepas dari pria tak bertanggungjawab itu. Dan....." Dewi menggantung ucapannya.


"Dan apa?" aku meliriknya dengan ekor mataku.


"Dan bisa menikah dengan Pak Alan." katanya sambil membuat simbol cinta dengan ibu jari dan jempolnya.


Ku ketok jidat Dewi, "Jangan asal ngomong. Bisa jadi bahan gosip nanti."


"Hehehehe.... Tapi aku berdoa agar kalian bisa bersama. Aku tahu dari caranya menatapmu kalao bos Alan itu menyukaimu."


"Ck. Jangan menghalu." sahutku.


"Beneran. Kalau sedang memandangmu seolah ada cahaya terpancar dari matanya lurus hanya padamu. Crass...nggak belok-belok. Hanya fokus padamu saja."  Dewi mengarahkan jari telunjuk dan tenganya ke arahku.


Aku tertawa mendengar analisanya yang sebenarnya aku akui kebenarannya. Aku juga merasa pandangan Alan terhadapku sangat hangat dan penuh cinta. Namun entah mengapa, aku justru takut melihatnya.

__ADS_1


"Fir!" suara bariton Alan yang sudah berdiri di depan pintu ruanganku mengagetkan kami.


"Ya, Pak." jawabku sambil berdiri. Dewi ikut berdiri.


"Ke ruanganku!" Alan berbalik dan pergi.


Dewi mencolekku, "Tuh sana! Dah kangen kayaknya."


Ku cebikkan bibirku ke arah Dewi yang usil bin jahil lalu kutinggalkan dirinya yang terkikik menggodaku


 


 


Tok tok tok


Ku ketuk pintu ruangan Alan sebelum membukanya.


"Assalamualaaiku!" Aku terlonjak kaget karena begitu pintu terbuka, sosok  Alan berdiri dihadapanku. "Kau?"


"Duduklah!" titahnya.


Aku duduk.


"Aku sudah bicara dengan bagian kepegawaian. Urusan perceraianmu bisa diproses lebih cepat jika ada bukti perselingkuhan Andre. Jadi aku menyuruh orang menguntit Andre dan ini yang kudapat." Alan membeberkan beberapa foto Mas Andre dan istri keduanya dihadapanku.


"Aku juga sudah mendapatkan tanda tangan dari saksi pernikahan mereka dalam map ini." Alan menepuk map merah yang ia letakkan di dekat foto-foto Mas Andre. "Temanku yang di bagian kepegawaian akan membantumu mengurus semuanya."


Aku terdiam menatap nanar kemesraan Mas Andre dan istri keduanya.


"Fir! Kamu tidak apa-apa?" Alan menyentuh pundakku.


Aku menggeleng. Ku ambil semua bukti yang Alan kumpulkan, "Aku akan melampirkan bukti buti ini pada surat permohonanku."

__ADS_1


Aku berdiri.


"Fir!" Alan mencekal pergelangan tanganku. "Kamu pasti bisa." Ia menyemangatiku. "Aku akan menemanimu." katanya kemudian.


"Terima kasih, Lan. Aku kembali ke ruanganku dulu." pamitku.


"Ya. Setelah surat pengajuannya kamu tanda tangani, berikan padaku. Akan aku bawa ke temanku itu."


"Biarkan aku yang membawanya Alan. Aku akan menghadap langsung ke pimpinan." jawabku lalu meninggalkan ruangan Alan.


Ku hempaskan tubuhku di kursi. Ku pandangi layar monitor komputerku sambil menghela nafas.


Begini rasanya jadi yang ditinggalkan. Baiklah, aku nggak mau menjadi penghalang kebahagiaan orang lain.


Ku lanjutkan mengetik pengajuan permohonan ceraiku dan mencetaknya. Setelah ku tanda tangai, aku memasukkannya ke dalam map dan beranjak dari ruanganku untuk membawa pengajuan itu ke pimpinan bagaian kepegawaian.


Dua minggu setelah suratku masuk, aku mendapat surat ijin untuk melakukan perceraian. Aku tahu ada Alan dibalik cepatnya proses pengajuan ijin ceraiku. Karena bisanya proses permohonan ijin cerai itu panjang dan lama. Namun aku begitu singkat. Mungkin juga karena bukti-bukti yang aku sertakan.


Berbekal surat ijin itu aku kemudian menggugat cerai Mas Andre ke pengadilan agama. Seminggu kemudian surat panggilan sidang pertama aku terima.


"Kamu bisa Fir. Kamu kuat." kataku menyemangati diriku sendiri. Namun tak urung titik bening meluncur dari sudut mataku.


"Fir, ada yang mencarimu." Dewi tiba-tiba membuka pintu ruanganku. "Kamu menangis?" tanyanya sambil mendekat.


Aku tersenyum getir. "Siapa Wi?" Tanyaku sambil meraih minuman agar sesak didadaku ikut tertelan bersama air.


"Mmm namanya Salman."


"Uhuk!" aku tersedak begitu mendengar nama Kak Salman di sebut Dewi. Untuk apa kak Salman ke sini.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2