
Mobil yang dikendarai Salman sampai di pelataran hotel tempat resepsi pernikahan Alan. Salman memarkir mobilnya lalu turun bermaksud membukakan pintu untuk Fira namun Fira sudah membukanya sendiri tanpa menunggu Salman. Salman menatap istrinya. Dari wajah cantik Fira yang masam dan datar, Salman tahu kalau Fira sedang merajuk.
Apa dia kesal karena Elsa?
Ternyata bukan hanya Salman yang menyadari sikap acuh Fira. Elsa juga menyadarinya.
“Ra, Man, aku duluan.” Elsa meninggalkan pasangan suami istri itu tanpa menunggu jawaban mereka.
Maafkan aku, Ra. Lagi-lagi aku merusak kebahagiaanmu. Tapi sungguh, aku tidak bermaksud untuk itu. Aku benar-benar sudah merelakan Salman untukmu karena aku tahu selamanya aku tidak akan bisa mendapatkan hati Salman, dan lagi,hidupku sudah tidak lama.
Elsa terus melangkah memasuki ballroom tempat resepsi pernikahan Alan.
Di luar, Salman sibuk membujuk Fira.
“Kamu kenapa sayang?” Salman merengkuh pinggang Fira.
“Mas! Lihat-lihat tempat kenapa sih.” Omel Fira kesal.
“Kenapa? Kamu istriku. Mau bermesraan kapanpun dan dimanapun sah-sah saja.” Salman kian mendekatkan tubuh Fira.
Fira berpaling saat wajah mereka sangat dekat.
“Sayang.” Salman memegang dagu Fira dan mengarahkan wajah istrinya itu untuk menatapnya.
“Apa ini karena Elsa? Kau cemburu?’ Salman mengulum senyum melihat muka be-te Fira.
“Apa sih. Lepaskan!” Fira kembali membuang muka menyembunyikan wajahnya.
“Ah.” Fira kaget saat Salman justru menyecap lehernya.
“Mas.” Pekiknya mendorong kepala Salman menjauh.
“Jawab dulu atau kita pulang dan aku akan membereskanmu!” ancam Salman.
Fira menunduk. Ia tahu Salman tidak pernah mengeluarkan ancaman kosong.
“Kenapa tidak bilang kalau kau pulang bareng Elsa?”
“Bareng Elsa dan Ardi.” Salman mengoreksi ucapan Fira.
“Iya..iya. Tapi kan tetap saja ada Elsa.”
Salman menarik hidung Fira gemas.
Fira memberengut lalu mengusap hidungnya yang terasa panas.
“Karena Elsa bukan hal penting yang harus aku laporkan padamu. Dia hanya mantanku. Tak lebih. Dan kalau aku bilang aku pulang, maka kejutanku akan buyar dan sambutan hangatmu tidak akan seperti sore tadi. Aku tidak mau apa yang kuharapkan sirna hanya gara-gara Elsa.” Dalih Salman.
“Lagipula apa kau masih tidak percaya padaku, Ra. Selama empat belas tahun hanya kamu yang aku tunggu. Dan pada saat yang sama juga Elsa selalu di dekatku. Apa aku berpaling darimu? Tidak. Hatiku tetap untukmu.” Salman menyentil dahi Fira.
“Tapi sekarang kau sudah mendapatkanku. Siapa tahu kau bosan dan bermaksud..”
“Mencari yang lain?” Salman menyambar omongan Fira dan tangannya kembali menyentil dahi Fira.
__ADS_1
Fira mengaduh sambil meringis.
“Apakah di kepalamu ini tidak ada otaknya. Kenapa asal saja kalau berpikir. Kalau ucapan itu keluar dari mulutku bagaimana? Selama ini Alan selalu berusaha mendekatimu tapi kau masih menyimpan cintamu untukku. Jika aku bilang kau bisa bosan setelah mendapatkanku dan ingin bersama Alan, apa kau terima?”
“Ya enggaklah. Nggak mungkin aku begitu.”
“Dan kau pikir aku bisa berpaling darimu semudah itu?” ucap Salman tegas.
Fira menunduk. Ia sadar kalau Salman bukan Andre yang akan dengan mudah tergoda.
“Maaf, aku hanya takut kalau ..”
“Kalau aku akan sama seperti Andre? Sayang. Lihat aku. Aku Salman. Pria yang hanya memiliki satu hati. Dan hati itu sudah aku berikan padamu. Tidak ada hati lagi buat wanita lain.” Salman mengangkat dagu Fira. Ia lalu melabuhkan ciuman tipis di bibir Fira.
“Mas, ada banyak orang.” Desah Fira.
“Aish, si botak mulai berontak nih. Pulang saja yuk!” bisik Salman genit.
“Apaan sih. Masuk dulu! Alan dan Anita pasti menunggu kedatangan kita.” Fira mengurai dekapan Salman.
“Tapi nanti tenangin si botak ya! Biar nggak memberontak terus. Sakit nih.”
“Iya ih bawel.”
Fira lalu menggelandang tangan pria tampan nan gagah itu menuju pintu masuk hotel.
Di ballroom, Elsa menyalami teman-teman masa SMAnya yang juga diundang oleh Alan.
“Elsa, kok bisa tetap langsing sih? Jaga tubuh banget. Takut Salman kabur ya?” goda Erika, teman SMAnya dulu.
Erika tertawa mendengar guyonan Elsa. Mendengar tawa renyah kedua wanita itu, teman-teman mereka yang lain ikut bergabung dan saling bercerita.
“Alan tampan banget ya!” seru Regina, wanita yang dulu mengejar-ngejar Alan.
“Beruntung banget wanita yang bersanding dengannya itu. Sebenarnya aku tidak kalah cantik dengannya.” Regina meliukkan tubuhnya.
“Tapi kalah muda.” Timpal Doni, teman Alan juga, yang disambut tawa oleh yang lain
“Sialan.” Regina mengerucutkan bibirnya.
“Eh, siapa itu?” Erika menunjuk pintu masuk.
Nampak Salman masuk sambil menggandeng mesra Fira. Elsa memalingkan wajahnya ke tempat lain sambil menegak minuman yang ada di gelasnya.
“Sa, itu kan Salman. Dan yang disampingnya itu, oh my god, Fira. Bagaimana ia bisa secantik itu?” gumam Erika berdecak kagum.
“Serasi banget.” Seru Regina.
“Pantas Alan mau menikah. Secara Fira yang ia kejar-kejar sekarang sudah jadi milik Salman.’ Komentar Doni.
“Jadi kau tidak bercanda saat tadi bilang kabur?” Erika menyenggol Elsa.
Elsa hanya mengakat alisnya. Ia kembali menegak minumannya.
__ADS_1
Salman dan Fira naik ke pelaminan untuk memberi ucapan selamat pada Alan dan Anita. Fira sedikit gugup saat bertemu Bu Riya, ibunya Alan.
Wanita ini kenapa seelegant ini sekarang. Anggun dan sangat cantik. Auranya berubah setelah menjadi istri Salman. Dan kudengar ia juga sedang hamil. Ternyata ia bisa hamil.Batin Bu Riya sambil terus menatap Fira yan berdiri di samping Salman
“Wah, Man. Makasih ya sudah datang.” Sapa Bu Riya pada Salman.
“Sama-sama, Bu. Alan menikah mana bisa saya tidak datang. Kami kan satu paket. Bahkan selera kami juga sama.”
Bu Riya hanya tersenyum menimpali ucapan Salman. Ia bukannya tidak tahu apa yang dimaksud selera yang sama, siapa lagi kalu bukan Fira.
“Hem. Makasih sudah datang.” Ucap Bu Riya dingin pada Fira.
“Iya, Bu.’ Fira mengangguk hormat.
Mereka lalu mendekati Alan dan Anita.
“Selamat Bro. Akhirnya benda tumpulmu itu akan berfungsi juga.” Salman memeluk Alan.
“Sialan.” Alan memukul punggung Salman.
Wajah Anita memerah. Fira menahan senyumnya.
“Selamat ya adikku sayang.” Fira memeluk Anita.
“Makasih, mbak.” Anita membalas pelukan Fira.
Mereka lalu berfoto bersama.
Selesai memberi ucapan kepada kedua mempelai, Salman membimbing Fira turun dari pelaminan.
“Hati-hati sayang.” Bisik Salman.
Mereka tidak sadar jika banyak mata yang memperhatikannya.
“So sweet bangen sih Salman. Dia memperlakukan Fira seperti ratu. Aku jadi iri..” rengek Regina.
“Iri? Minta sono sama suamimu?” timpal Doni.
“Dia? Boro-boro romantis. Di kasur saja langsung nyeruduk.” Jawab Regina asal. Temannya langsung tertawa.
“Tapi yang diseruduk, suka kan?” goda Erika.
“Suka dong, pake banget.” Jawab Regina nyengir.
“Itu siapa?” Doni menunjuk ke pintu. Semua mata langsung mengarahkan pandangan ke pintu.
Elsa yang sedang menyecap minumannya langsung tersedak melihat pria tampan dan cool yang berjalan dengan gagah memasuki ballroom.
“OMG kukira pangeran malam ini hanya Alan dan Salman. Eh datang lagi pangeran ketiga. Sendirian saja,apa dia masih available?” Erika berdecak kagum.
“Raul.” Desah Elsa sambil menelan ludahnya kasar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Tuh kan Elsa bukan pelakor. Othor juga nggak suka sama pelakor, pengennya bikin pelakor menderita.