Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Fun Fair


__ADS_3

"Sudah siap?"tanya Kak Salman.


"Suadah pa." jawab Ryan dengan cepat.


Aku memandangi kedua priaku itu.


"Sejak kapan kalian punya baju kembaran begitu?!" tanyaku heran karena setahuku Ryan dan Kak Salman nggak pernah beli baju couplean.


"Mau tau ajah." komen Ryan sok jual mahal.


Kak Salman terkekeh mendengar jawaban centil Ryan.


"Saat dia ke Jakarta. Kami bertiga beli kaos kembar. Aku, Ryan dan Ardi." jelas Kak Salman.


"Oo.... Kok bunda nggak dibeliin juga?" ucapku.


"Kak nggak tahu kalau bunda akan jadi istri papa Salman." jawab Kak Salman sambil menepuk dadanya.


"Bunda cari baju yang mirip donk!" pinta Ryan.


"Bunda nggak punya pakaian yang sewarna dengan kaos kalian."


"Nggak papa. Lain waktu kita beli couplean bertiga ya!" tawar Kak Salman.


"Yes! Berempat pa, sama Ardi." seru Ryan.


"Ya berempat." balas Kak Salman. "Ayo, kita berangkat!"


Dengan mengendarai sepeda motor, kami berangkat ke funfair.


"Ryan suka enggak kalau kita beli mobil?" tanya Kak Salman saat kami dalam perjalanan.


"Suka!" teriak Ryan berusaha menandingi bisingnya suara kendaraan yang lalu lalang.


"Ok. Besok kita cari mobil."


"Yes!!!"


Alhamdulillah. Terima kasih atas berkahmu Ya Allah.


Syukurku dalam hati melihat kekompakan Kak Salman dan Ryan. Aku mempererat pelukan tanganku pada pinggang Kak Salman sebagai ungkapan terima kasih. Kak Salman memegang tanganku yang melingkar di pinggangnya dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang stang motor.


Tak memerlukan waktu lama, kamipun sampai di tempat funfair. Ryan langsung turun begitu motor berhenti.


"Tunggu di sini sama Bunda. Papa mau cari parkir sepeda dulu!" titah Kak Salman. Dia lalu mendorong sepeda ke tempat parkir. Selesai parkir Kak Salman lalu menuju loket dan membeli karcis.


"Bunda, itu Om Alan kan?" seru Ryan menunjuk ke satu arah. Aku menoleh dan melihat Alan serta Anita bersama seorang anak kecil seumuran Ryan.


Siapa anak itu? Setahuku Alan tidak memiliki keponakan.


"Ayo masuk!" suara Kak Salman yang sudah tiba di tempat kami mengejutkanku. Ia menggandengku di sebelah kanan dan Ryan di sebelah kiri.


"Pa, aku mau naik itu!" tunjuk Ryan ke wahana yang dikenal dengan kora-kora. Wahana yang berupa perahu yang diayun dengan cepat. Suara jeritan penumpangnya memekakkan telinga.


"Emang Ryan berani?" tanyaku sambil menatap ngeri.Membayangkan diayun dengan cepat begitu membuat perutku sakit.


"Berani." jawab Ryan penuh percaya diri.


"Bunda ikut naik?" tanya Kak Salman.


Aku menggeleng sambil begidik ngeri.

__ADS_1


"Ya sudah. Nggak usah naik kora-kora. Naik aku saja nanti." bisik Kak Salman membuat mukaku memanas.


"Ayo kita beli tiketnya dulu." Kak Salman membawa Ryan membeli tiket. Setelah mendapat tiket mereka berdiri mengantri giliran naik kora-kora.


Ryan begitu semangat saat giliran mereka tiba. Di naik dengan cepat. Kak Salman mengikutinya dan duduk di sebelah Ryan. Setelah pengaman dipasang, kora-kora itu mulai diayun dari pelan makin lama makin cepat. Aku melihat Ryan tertawa bahagia sambil sesekali berteriak keras.


"Nggak ikut naik?" suara berat seseorang membuatku menoleh. Alan sudah berdiri di belakangku.


"Enggak. Ngeri." jawabku.


"Kan ada suamimu." jawab Alan terdengar sedikit sinis. "Saat kau takut naik pesawat, dengan kugenggam tanganmu, bukankah rasa takutmu hilang. Apakah genggaman tangan suamimu tidak mampu menepis rasa takutmu?"


Aku menelan ludah.


"Suamiku sangat membuatku nyaman dan tenang juga bahagia, Pak Alan." kutekan suaraku.


Sudut bibir Alan terangkat sedikit hingga membentuk senyum sinis. "Ah ya, aku lupa. Dia kan duda, jadi sudah pengalaman." sindir Alan lagi.


"Kami sama Lan, dia duda dan aku janda. Itulah mengapa kami cocok." tegasku.


Ku lihat rona kesal di wajah Alan.


"Maafkan akau, Lan. Kita memang tidak ditakdirkan bersama." lanjutku membuat Alan membuang muka.


"Paman, temani Doni naik kora-kora ya!" anak laki-laki yang tadi bersama Alan muncul. Begitupun Anita. Alan langaung membawa Doni membeli tiket sedang Anita menghampiriku.


"Hai Kak Fira apa kabar?" Anita memelukku.


"Baik. Lebay banget. Kan tadi kita ketemu di rumah sakit." semprotku sambil tertawa.


"Biar kelihatan lama nggak ketemu, kak." canda Anita.


"Hei, kau punya hutang penjelasan padaku." Aku menatap tajam Anita.


"Ayo ngomong!" titahku.


"Mmmm mulai darimana ya." Anita diam berpikir. "Begini kak, ingat setelah kakak cerai dan kita makan bareng? Malamnya Kak Salman menghubungiku. Kami lalu bertemu, saat itu bukan cuma aku ada Dewi juga. Kak Salman menyampaikan niatnya kalau setelah masa idah kakak habis, ia akan melamar kak Fira. Terus ia minta bantuan kami buat jagain kak Fira karena dia sedang mengurus usahanya. Dan begitulah, aku mendekati kakak dan berteman baik dengan kakak deh." Anita mengakhiri ceritanya.


"Hanya begitu?Nggak ada sebab lain?"


"Mmm...ada sih. Tapi kakak jangan marah ya!"


Aku mengangguk.


"Sebenarnya aku..mmm..menyukai Kak Alan."


Jawaban Anita mengagetkanku. Seingatku ia dan Alan bersepakat untuk menjalin hubungan pura-pura.


"Bukankah kamu punya pacar?"


Anita menggeleng, "Dia teman baikku yang kujadikan tameng agar Kak Alan tidak tahu kalau aku menyukainya."


"Kenapa?"


"Ia pasti akan menjauhiku saat tahu aku menaruh hati padanya. Jadi saat ia bilang kalau ia tidak mau dijodohkan karena dihatinya sudah ada wanita lain, aku mengatakan hal yang sama agar harga diriku tidak jatuh di depan Kak Alan. Akhirnya kami malah sepakat membina hubungan pura-pura." Anita tersenyum di ujung ceritanya. Senyuman tipis penuh kepahitan. Aku menepuk pundaknya. Keputusanku menikah dengan Kak Salman kurasa sudah tepat. Setidaknya aku tidak akan melukai gadis baik di hadapanku ini.


"Kak Fira marah?"


"Kenapa harus maraj?"


"Aku membantu Kak Salman karena aku tahu kalau Kak Alan suka sama Kak Fira. Jadi kalau Kak Fira nikah dengan Kak Salman maka aku merasa masih punya kesempatan untuk mengambil hati Kak Alan. Tapi makin lama dekat dengan kakak, aku makin suka sama kakak. Dan ketika tahu kalai Kak Fira juga suka sama Kak Salman, aku semakin semangat membantu kalian."

__ADS_1


Aku tersenyum lalu merangkul Anita. "Terima kasih." ucapku tulus, "Semoga kau bisa menggapai cintamu. Alan memang cocok buatmu."


"Amiin."


"Bunda!!" Ryan yang sudah turun dari kora-kora mengagetkanku.


"Hai Nit!" sapa Kak Salman


"Cie pengantin baru." goda Anita.


Kak Salman terkekeh lalu meraih bahuku dan membawaku ke dalam rangkulannya.


"Kamu nggak pengen?!" tanya Kak Salman menggoda balik Anita, "Enak lo Nit,kalau malam nggak kedinginan. Ada yang meluk." seloroh Kak Salman.


Mukaku memerah. Kucubit pinggang Kak Salman yang asal bicara itu.


"Hmm pamer aja teruuuusss..." semprot Anita.


Kedua orang itu tampak akrab entah sejak kapan.


"Hem!" deheman keras membuat kami menoleh.


"Hai Lan!" Sapa Kak Salman sambil terus merangkulku. Alan hanya tersenyum tipis.


"Om Alan." Ryan menghambur dan memeluk Alan.


"Hai sayang!" Alan mengusap kepala Ryan.


"Ini siapa?" tanya Ryan.


"Oh, itu keponakan tante." Anita yang menjawab.


Ryan mengulurkan tangannya pada keponakan Anita.


"Namaku Ryan, kamu siapa?"


"Aku Doni."


"Hai Doni. Kamu sama tantemu ya? Aku sama papa dan bundaku. Nih mereka." Ryan dengan bangga mengenalkan Kak Salman dan aku pada Doni.


Doni menjabat tanganku dan Kak Salman. Ia bahkan mencium tangan kami.


"Pa, kita naik itu yuk!" Ryan menggoyang tangan Kak Salman sambil menunjuk ke arah bianglala.


"Kalau itu naiknya sama bunda saja ya!" jawab Kak Salman.


"Memang kenapa?Papa takut ketinggian?"


"Nggak. Hanya kurang menantang." dalih Kak Salman.


"Bunda!" rengek Ryan.


"Ayo! Doni mau naik juga?"


Doni mengangguk.


"Ayo, Nit!" ajakku pada Anita.


Berempat kami menuju ke arah bianglala. Saat sedang antri, aku melihat ke arah Kak Salman. Ia sedang terlibat pembicaraan dengan Alan. Entah apa yanag mereka bicarakan. Dalam hati aku berdoa agar semua baik-baik saja.


...***...

__ADS_1


Hay guys....untuk chapter selanjutnya ceritanya diambil dati sudut pandang Salman ya..biar tahu apa yang dibicarakan Salman dan Alan.


Ditunggu ya! jangan luao banyakin like n komentnya. Vote juga


__ADS_2