
Aku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja kami lakukan. Ku pandangi wajah tampan yang tampak damai dalam lelapnya. Alis yang tebal, hidung yang mancung, rahang yang kokoh dan bibir yang meski tipis mampu membuatku melayang.
"Sudah puas?!" mata tajam itu terbuka. Senyum mengembang di bibir Kak Salman. "Kenapa? Apa aku terlalu tampan hingga membuatmu terpesona?"
Aku kelabakan. Apa yang harus kuucapkan sebagai jawaban.
"Itu..." aku berpikir bagaimana mengelak. "Kak, soal buku nikah?" Akhirnya aku menemukan cara menghindar dari menjawab jujur.
"Kenapa?" Kak Salman menegakkan tubuhnya. Matanya tertuju padaku, pada dadaku lebih tepatnya. Aku menunduk mengikuti arah pandangan Kak Salman."
"Aw!" Kutarik selimut dengan cepat untuk menutupi hartaku yang tanpa sengaja terekspos.
"Hahaha.." Kak Salman tergelak. Tangannya terjulur kembali menarik selimut.
"Kak!" pekikku sambil memegangi selimut agar tidak melorot lagi.
"Sayang, kan aku sudah melihatnya, bahkan sudah merasakannya. Kenapa harus malu?" goda Kak Salman sambil menarik kembali selimutku. Aku memekik namun segera suaraku lenyap dalam tautan bibir dingin Kak Salman.
Keesokan harinya, aku kembali menjalankan tugas rutinku sebagai istri, menyiapkan sarapan. Sejak cerai, aku jarang memasak dan lebih sering makan diluar karena percuma juga memasak, nggak akan ada yang makan.
Tapi pagi ini beda. Aku kembali berkutat di dapur.
"Masak apa?" Kak Salman memelukku dari belakang.
"Masak sup ayam kesukaan Ryan dan ini, capcay. Kak Salman masih suka capcay kan?" jawabku sedikit terengah karena Kak Salman bukan hanya memelukku tapi juga menggodaku dengan menciumi leherku.
"Kak, nanti dilihat Ryan."
Namun Kak Salman tidak mengindahkan peringatanku. Ia malah menempelkan tubuhnya dan terus bibirnya terus menyusuri leherku. Bahkan tangannya mulai merayap ke bagian bagian kesukaannya. Tubuh kami berhimpit hingga aku bisa merasakan ada bagian tubuhnya yang kembali bereaksi.
"Bunda!"
Kak Salman spontan melepaskan pelukannya saat mendengar suara Ryan.
"Pagi, Ryan." Kak Salman menyambut Ryan.
"Pagi ayah Salman."
"Mau mandi?" Kak Salman mengusap kepala Ryan.
Ryan mengangguk. Ia mendekatiku. Melihat bahan yang akan aku masak lalu mencomot potongan daging ayam yang sudah aku rebus kemudian menuju kamar mandi.
"Tuh kan! Kak Salman sih!" omelku.
Kak Salman nyengir. Ia kembali mendekatiku dan berdiri di sebelah tempatku memasak.
"Hari ini bisa libur nggak?" Kak Salman menatapku.
"Ya nggak bisa lah kak. Masak ijin mendadak. Memangnya kenapa kak?"
"Mmm...nggak ada sih. Hanya ingin bersamamu saja." Kak Salman menyentuh pipiku. Aku tersenyum sambil meliriknya.
"Kan sore dah ketemu lagi, kak. Sudah ah, aku mau masak dulu. Jangan digangguin." Aku mendorong Kak Salman agar menjauh. Kak Salman melangkah ke meja makan
"Ra!"
Aku menoleh, "Iya Kak?"
__ADS_1
Kak Salman tampak ragu, "Nggak papa. Lanjutin dulu masaknya."
Aku kembali melanjutkan acara masakku.
"Ra!"
"Iya kak?" Aku menatap Kak Salman yang sedang duduk di kursi meja makan.
"Aku mencintaimu."
"Ck." Aku tertawa lirih mendengar pernyataan Kak Salman . Apa maksudnya,bukankah semalam ia sudah berulangkali mengatakannya.
"Ra aku serius."
"Aku tahu kak."
"Kalau kau tahu, kelak jangan meragukanku." pinta Kak Salman.
Aku tersenyum lalu mematikan kompor. Setelah melepas celemek, aku melangkah ke meja makan tempat Kak Salman berada. Aku berdiri di depan Kak Salman yang langsung memegang pinggangku.
"Aku tahu dan aku tidak akan pernah meragukanmu." kutangkub wajahnya dengan kedua tanganku lalu aku mengecup kening kak Salman.
"Kalau begitu, jangan kerja donk. Temani aku."
"Ih manja."Aku menarik diri dari rengkuhan Kak Salman karena mendengar dari arah kamar mandi kalau Ryan sudah mau selesai.
Ryan keluar dari kamar mandi.
"Hmm harumnya anak ayah." Kak Salman menowel.pipi Ryan.
"Tentu ayah nginap. Kenapa?"
"Ajak Ryan jalan-jalan ya!
Kak Salman mengacungkan jempolnya tanda setuju.
"Yes!!!" Ryan kegirangan. Ia lalu berlari ke kamarnya.
"Memang dia ngajak kemana?" tanya Kak Salman.
Aku hanya mengangkat bahu lalu melangkah ke dapur dan mulai menata makanan untuk sarapan.
"Libur ya!" kembali Kak Salman merengek. Ia menarikku hingga jatuh kepangkuannya.
"Ada apa sih kak?" Aku melingkarkan tangan ke lehernya.
"Bulan madu." bisik Kak Salman lalu mengecup pipiku.
Aku tertawa, "Ogah ah. Malu."
"Ngapain malu. Bulan madu itu nggak ada yang lihat nggak perlu malu." bujuk Kak Salman sambil tangannya mulai nakal.
Saat wajah Kak Salman mendekat ke wajahku, ponselku berdering. Aku hendak bangkit untuk meraih ponselku namun ditahan oleh Kak Salman.
"Diam!" bisik Kak Salman. Ia kemudian menjulurkan tangannya meraih ponselku dan mengangkatnya.
"Assalamualaikum!" Kak Salman mengangkat panggilan.
__ADS_1
....
"Hai, Lan. Apa kabar?" balas Kak Salman. Rupanya Alan yang menelponku.
"Kenapa? Ya karena aku suaminya."
Selesai berkata, Kak Salman menjauhkan ponsel dari telinganya
"Ditutup."
Kak Salman menatapku, " Alan sepertinya marah.
Aku tersenyum masam.
"Kenapa hanya senyum?"
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Kamu tidak apa-apa Alan marah?"
Aku menggeleng. "Antara aku dan Alan itu suatu ketidakmungkinan, Kak."
"Kenapa? Karena ibunya Alan? Bagaimana kalau ibunya Alan berubah pikiran?"
"Bukan. Bukan hanya karena Bu Riya. Tapi...karena yang kucintai bukan Alan melainkan suamiku Salman." ku cubit hidung bangir Kak Salman. Ia tersenyum dengan mata berbinar lalu membenamkan wajahnya kedadaku membuat aku kegelian.
"Libur ya!" kembali Kak Salman merengek. Akhirnya aku mengangguk menuruti kemauannya.
"Yes!"
"Kalau begitu aku akan kirim surat ijin dulu."
"Nggak perlu. Sudah aku mintakan ijin"
"Kok bisa?"
"Ya bisalah. Aku kan punya kaki tangan" jawabnya sambil tertawa.
"Bunda-bunda. Sudah besar masih minta pangku." celetuk Ryan membuatku kaget. Aku langsung bangkit dari pangkuan Kak Salman.
"Itu karena saat kecil bunda nggak pernah dipangku. Jadi ayah memangkunya."
"Iya...dulu ayah Andre juga nggak pernah memangku bunda."
"Ryan!" aku menegur Ryan.
"Jadi aku yang pertama memangkumu?"
Aku menjawab pertanyaan Kak Salman dengan menjulurkan lidahku.
"Awas ya!"
"Sudah, ayo makan!" ajakku. Kami lalu sarapan.
Kak Salman lalu berangkat mengantar Ruan ke sekolah. Aku menunggunya di rumah. Saat Kak Salman pergi, mendadak Alan datang.
bersambung
__ADS_1