
Andre dan Leana kaget. Leana bahkan menjatuhkan baju yang sedang ia pegang.
"Pak Salman." Bibir Leana bergetar saat menyebut nama bosnya. Melihat tatapan Salman, ia yakin bosnya itu mencurigai mereka
"Kalian?"
"Aku sedang menemaninya belanja." Andre berusaha menjelaskan. Wajahnya sedikit pucat. Matanya menatap Fira.
"O."
"Apa kamu hamil?" Kini Fira yang menanyai Leana.
"Enggak bu. Bukan buat saya." Leana membuat gerakan menolak dengan tangannya.
"Kami sedang mencarikan baju buat teman. Dia ulang tahun dan tadi dia traktir. Karena dia hamil maka kami berinisiatif memberinya gaun untuk wanita hamil." Mata Andre tidak lepas dari Fira saat ia bicara. Mata itu lalu turun melihat perut Fira. Salman langsung bergerak merengkuh bahu Fira dan merangkulnya dengan posesif.
"Selamat ya Dik, eh Fir, atas kehamilanmu." Andre jadi canggung.
Fira hanya mengangguk.
Sebenci itukah kau padaku Fir? Menjawabkupun kau tak mau.
Fira mengamati Leana. Gadia muda itu menunduk gugup.
Sepertinya ada sesuatu di antara mereka berdua.
"Kalian lanjut saja! Aku juga akan melanjutkan belanja." Salman mempersilahkan Andre dengan tangannya.
"Maaf, ibu istrinya Pak Salman?" tanya Leana bodoh.
Salman menyipitkan matanya tak paham dengan maksud pertanyaan Leana.
"Iya, saya istrinya. Kenapa?"
"Ibu cantik. Pas banget dengan Pak Salman." Leana menatap kagum Fira.
Hati Andre terasa bagai dicubit mendengar ucapan Leana.
"Jadi aku nggak salah memilih istri kan? Dia selain cantik juga baik." Salman mempererat dekapannya. Bahkan ia mengecup kening Fira dihadapan Andre dan Leana.
Fira membiarkan saja Salman berulah. Ia merasa ingin membalas perbuatan Andre dulu dan menunjukkan bahwa masih ada pria yang mau menyayangi dan mencintainya dengan tulus.
"Man, boleh aku bicara berdua dengan Fira?"
Leana langsung menoleh ke arah Andre.
Mengapa Mas Andre ingin bicara berdua dengan istri Pak Salman? Apa mereka saling kenal.
Salman tersenyum tipis, "Maaf Ndre. Laki-laki dan perempuan tidak diijinkan berdua-duaan. Jadi kalau kamu mau bicara, kita bisa bicara bertiga atau bahkan berempat dengan Leana. Tidak ada rahasia antara aku dan Fira. Jadi apapun yang kau ucapkan pasti akan Fira sampaikan ke aku. So, nggak perlu bicara berdua saja tanpa aku."
"Kalau begitu bisakah kita ngobrol di sana!" Andre menunjuk cafe yang berseberangan dengan tempat mereka belanja.
"Bagaimana sayang?"
"Terserah mas saja."
__ADS_1
"Oo so sweet." Leana langsung membekap mulutnya yang tanpa sadar mengomentari interaksi manis antara Fira dan Salman.
Mereka sangat romantis. Pak Salman begitu memanjakan dan menjaga istrinya. Beruntung sekali Bu Fira.
Andre menyenggol Leana.
"Kalian tunggu saja di cafe depan. Aku mau bayar belanjaan istriku dulu."
"Saya juga mau bayar dulu, Pak." Leana akhirnya memutuskan membeli baju yang tadi ia pilih.
"Kita bareng saja, Lea." Fira tersenyum pada gadis manis yang usianya kira kira dua puluh tahun lebih muda darinya itu.
Leana mengangguk senang. Matanya tak lepas memandang kagum Fira.
***
Di cafe.
Salman dan Fira duduk berhadapan dengan Andre dan Leana.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan dengan istriku?" Tangan Salman mengelus bahu Fira sambil bicara.
Andre menelan ludah mengusir sesak karena terus terusan disuguhi adegan mesra Salman dan Fira.
"Aku minta maaf. Maaf untuk semua sikap burukku. Maaf juga soal Ryan. Maaf sudah meragukanmu dan ma..."
"Aku sudah memaafkanmu." potong Fira cepat. Ia sudah malas bicara berlama lama dengan Andre.
"Kau dengar? Istriku sudah memaafkanmu." Salman masih mengelus Fira. Bahkan ia merangkul erat istrinya itu.
Leana menatap bingung ketiga orang itu secara bergantian. Suasana jadi hening. Mereka saling diam. Fira menunduk memainkan sedotan minuman. Andre sesekali mencuri pandang ke arahnya sementara Salman, pria itu terang-terangan menunjukan cintanya pada Fira di hadapan Andre dengan menciumi pucuk kepala Fira.
"Pak Salman sangat mencintai Bu Fira. Bagaimana perasaan ibu dicintai sebesar itu oleh seorang pria." Leana menunggu jawaban Fira.
Fira menatap mesra Salman, "Sangat bersyukur karena ini anugerah yang sangat luar biasa."
Salman langsung mengecup kening Fira.
"Pak Salman bucin banget deh." celutuk Leana sambil tertawa.
"Kau benar. Aku memang bucin padanya. Sangat." Salman menempelkan keningnya pada kening Fira.
"Apa yang membuat bapak sebucin itu?" Leana menopang dagunya sambil menatap pasangan mesra di depannya.
"Dia baik. Dia cantik. Terlepas dari itu semua, dia adalah amanah yang harus aku jaga. Harus aku cintai dan sayangi. Karena kelak aku akan dimintai pertanggungjawaban akan amanah ini."
Apakah Salman menyindirku sebagai lelaki yang tidak mampu melaksanakan amanah?
"Wow, pasti Bu Fira ini wanita sempurna sampai Pak Salman klepek klepek." Leana masih antusias mewawancarai pasangan yang membuatnya kagum itu.
"Nggak ada manusia yang sempurna. Dia juga punya kekurangan. Sama sepertiku. Tapi kekurangan itulah yang menjadi tugasku untuk menyempurnakannya. Sebaliknya, tugas dia menyempurnakan kekuranganku. Bukan begitu sayang?"
Salman membelai pipi Fira. Ia sangat senang karena hari ini Fira begitu nurut tanpa banyak protes.,
"Mas, sudah hampir magrib. Pulang yuk! Kita juga belum jemput Ryan di rumah Mbak Mirna."
__ADS_1
"Ayo. Ndre, Lea. Kami duluan ya!"
"Iya."
"Iya pak. Senang berkenalan dengan Bu Fira." Leana menjabat tangan Fira.
"Mas kenapa tadi Mas Andre meminta maaf pada Bu Fira? Memang Mas Andre salah apa?" tanya Leana setelah Salman dan Fira menjauh.
"Karena aku pernah menyakitinya." Andre nampak lesu.
"Maksud Mas Andre?"
"Fira. Dia mantan istriku."
"What!!" Leana menutup mulut saking kagetnya. Matanya membola.
"Mas Andre meninggalkan Bu Fira demi istri mas yang sekarang?"
Andre mengangguk. "Fira itu sangat cuek. Ia memang memenuhi semua kebutuhanku. Secara materi maksudku. Tapi dia sangat sibuk kerja hingga aku merasa tidak diperhatikan. Pada saat bersamaan muncul Ami dengan segala sifat manjanya. Bersama Ami aku merasa dibutuhkan. Aku merasa sebagai laki laki. Namun saat bersama Fira, aku merasa sebagai pria yang tak berguna. Dia sangat mandiri." Andre menjeda ceritanya. Ia menyecap minumannya.
"Terus?"
"Aku selingkuh. Aku dan Ami diam diam menikah tanpa setahu Fira. Ami rela menjadi istri kedua. Dia bilang dalam agama poligami boleh. Bahkan suami nggak.perlu ijin dari istri pertamanya untuk menikah lagi. Ami yang tahu kalau gajiku kecil dan sudah kuberikan pada Fira, bersedia tidak mendapat nafkah. Dia sangat memanjakanku. Bahkan dialah yang membelikanku ponsel baru saat ponselku rusak."
"Wah bagus donk kalau istri mas Andre punya pemikiran begitu."
"Pemikiran apa?"
"Tentang poligami. Ia menyetujui poligami."
"Bagusnya dimana?"
"Bagusnya..Kita bisa menikah diam-diam juga tanpa setahu dia. Mas Andre juga nggak perlu memberiku nafkah. Aku punya pekerjaan." Leana menyentuh tangan Andre sambil tersenyum manis.
Bu Fira. Meski aku baru mengenalmu tapi aku tahu ibu orang baik. Aku akan menikahi Mas Andre. Sudah dua minggu kami dekat. Aku tahu dia menyukaiku. Hitung-hitung aku membantu ibu membalas sakit hati ibu dulu.
"Lea, kau jangan bercanda." Andre gugup. Leana tidak jelek. Apalagi dia masih gadis dan masih muda. Iman Andre mulai goyah.
"Aku serius mas. Mendengar dari cerita mas, istri mas pasti orang yang paham aturan agama. Dia bisa bilang kalau lelaki menikah lagi tanpa seijin istri pertama nggak papa. Jadi dia tidak akan marah kalau mas Andre menikah lagi. Dia juga bersedia dipoligami kan mas. Mas nggak akan rugi menikahiku. Aku masih muda, harapan untuk bisa memberimu keturunan masih sangat besar." Leana menyindir Ami.
Ami. Kau akan tahu bagaimana rasanya saat suamimu menikah tanpa seijinmu. Poligami memang syariat tapi jika ingin melakukannya harus sesuai ketentuan.Itu yang dengar dari ceramah para ustaz.
"Kau benar-benar serius? Aku jauh lebih tua darimu Lea." Andre ragu. Sebenarnya ia sangat mau namun masih ragu dengan keseriusan Leana.
"Sayangnya aku memang menyukai pria dewasa mas, bagaimana dong?" Leana mengedipkan matanya menggoda Andre
Deg
Runtuhlah pertahanan Andre. Hilanglah bayangan Ami dalam benaknya. Terhapus oleh wajah muda dan manis Leana.
"Kita pulang yuk!" Andre mulai berani menggandeng Leana. Mengajaknya keluar dari cafe.
"Pulang?" Leana mengekor Andre.
"Ke rumahmu. Aku akan melamarmu."
__ADS_1
Leana tertawa gembira. Ia langsung mengamit lengan kekar Andre.
...----------------...