Balada Istri Pertama

Balada Istri Pertama
Belum Halal


__ADS_3

Ryan kegirangan saat sampai di wahana bermain sebuah mall.


"Ryan ayo kita main di sana!" ajak Ardi, anak Kak Salman yang sudah begitu akrab dengan Ryan.


"Bunda?" Ryan minta persetujuanku. Aku mengangguk. Ryan dan Ardi bergandengan menuju wahan bermain.


"Pa, Ardi pengen naik itu!" tunjuk Ardi ke sebuah roaler coaster.


"Ardi kan tahu papa nggak bisa naik itu." jawab Kak Salman.


Kesempatan.


"Iya, Lan. Temani Ryan. Kasihan ia belum pernah naik roaler coaster." kataku. Alan menatapku dengan tajam. Aku mengulum senyum.


"Ryan, Om Alan takut kayaknya." kataku pada Ryan.


"Siapa bilang aku takut." protes Alan, "Ayu Ryan.Om temani."


"Makasih ya ,Lan." kataku sambil melambaikan tangan.


"Pa, Ardi ikut Om Alan ya?"


Kak Salman mengangguk. Ardi berlari menyusul Alan dan Ryan.


Tinggallah aku berdua dengan Kak Salman. Suasana mendadak menjadi canggung.


"Kita duduk di sana yuk, Ra!" Kak Salman menunjuk kursi kosong di seberang tempat kami berdiri.


Aku mengangguk dan mengikuti langkah Kak Salman yang sudah berjalan lebih dulu menuju kursi yang ia maksudkmu.


Saat sudah dekat dengan kursi itu, tiba-tiba ada pengunjung lain yang datang dan langsung duduk di salah satu kursi. Kini tinggal kursi yang panjang.


Kak Salman duduk lalu ia menatapku, "Duduklah disini!" titahnya.


Aku ragu. Jika aku duduk di situ berarti kami akan duduk berdekatan.


"Mmm..aku disini saja kak." tolakku.


Kak Salman lalu berdiri kembali, "Duduklah!"


Aku akhirnya duduk. Namun setelah aku duduk, Kak Salman malah duduk di sebelahku.


"Kak!" bisikku.


"Bukan cuma kita berdua. Ada dia tuh. Nggak papa kan." dengan matanya Kak Salman menunjuk ke pengunjung yang duduk di kursi sebelah kami.


Aku diam menunduk.


"Ra, apa kamu bahagia?" tanya Kak Salman tiba-tiba.


"Maksud Kak Salman?" aku balik bertanya.


"Apa hidupmu selama ini bahagia?"


Aku mengangguk. "Sebelum masalah yang menimpa keluargaku sekarang, aku bahagia, Kak." jawabku.


"Kau mencintai suamimu?"


Aku diam. Dalam hati aku menanyakan hal itu pada diriku sendiri. apakah aku mencintai Mas Andre. Aku ingat dulu kami dijodohkan. Mas Andre sebenarnya adalah kerabat dari suami budheku.


"Ra!" panggil Kak Salman, "Apa kau mencintai Andre?'


"Dia suamiku Kak."


"Aku tahu dia suamimu. Pertanyaanku, apakah kau mencintainya?"


Aku tidak tahu apakah kak Salman menatapku atau tidak karena aku tidak berani melihat ke arahnya.


"Kewajibanku untuk mencintai suamiku, kak."

__ADS_1


Ku dengan Kak Salman tertawa.


"Pertanyaanku gampang Ra, kenapa kau sangat kesulitan menjawabnya."


Aku diam. Sungguh rasanya sangat canggung duduk bersebelahan dengan Kak Salman dan membicarakan perasaan. Meski yang ia tanyakan adalah perasaanku pada Mas Andre.


"Tapi kau tidak perlu menjawab lagi pertanyaanku itu. Karena aku sudah tahu jawabannya." lanjut Kak Salman.


"Bagaimana kakak bisa tahu?" tanyaku sekedar menanggapi ucapan Kak Salman.


"Karena situasi kita sama." jawabnya berbisik. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya menyapu sebagian pipiku yang tidak tertutup kerudung. Tubuhku langsung meremang.


"Kak, aku lihat Ryan dan yang lain dulu." kataku sambil berdiri. Saat aku akan melangkah tiba-tiba datang seorang anak yang berlari melewatiku.


Bruk.


Anak kecil itu menabrakku membuatku terhuyung ke belakang. Kak Salman menangkap tubuhku sebelum jatuh.


"Maaf tante." kata anak itu sambil membungkuk. Usianya kira-kira 11 tahun.


"Iya nggak papa." jawabku. Anak itu kembali mengangguk lalu pergi dengan berlari.


"Kak!" kataku saat tangan Kak Salman masih setia di bahuku.


"Oh maaf." kata Kak Salman. Ia lalu melepaskan tangannya.


"Ayo kita ke tempat Alan!" ajak Kak Salman. Ia lalu berjalan mendahuluiku.


"Kalian dari mana?" semprot Alan saat kami sampai. ia baru saja turun dari roaler coaster.


"Kami..."


"Bunda seru banget." Ryan memotong ucapanku. "Om Alan teriak-teriak tadi. Katanya ngeri."


Aku mengulum senyum. Aku ingat saat rekreasi kantor dulu, Alanlah yang selalu beralasan jika diajak naik roaler coaster sama teman-teman. Dia selalu berdalih, "Bos nggak level naik begituan."


"Oh ya?" tanyaku pura-pura kaget, "Masak Om Alan takut naik roaler coaster." sengaja aku mengeraskan suaraku menyindir Alan.


"Dari dulu Om Alan ini ttidak suka hal-hal yang memacu adrenalin." kata Kak Salman. "Dulu teman-teman sering mengatainya...." kak Salman tidak melanjutkan ucapannya karena melihat mata Alan yang melotot hampir copot.


"Dikatai apa Om?" Ryan malah bertanya. "Dikatain penakut yaaaaa?" tebak Ryan ikut menggoda Alan.


"Ryan." geram Alan berusaha meraih Ryan. Ryan berlari menjauh sambil tertawa. Mereka akhirnya berkejaran. Ryan kembali berlari ke arahku dan bersembunyi di balik punggungku. Alan berdiri mematung di hadapanku tak berani meraih Ryan.


"Cih beraninya sembunyi dibelakang bunda." ejek Alan.


"Biarin. Om Alan kan takut sama bunda." jawab Ryan terkekeh.


"Siapa bilang om takut hah," Alan berusaha meraih Ryan yang ada di belakangku.


"Alan!" hardikku saat tubuh Alan semakin mendekat dan tangan menggapai ke arah pinggangku hendak memegang Ryan. Alan langsung mundur.


"Tuh kan. Takuut." Ryan tergelak. Ardi juga ikut tertawa. Hanya Kak Salman yang memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Sudah-sudah. Kalian ini seperti anak kecil." leraiku.


"Aku memang masih kecil bunda. Om Alan yang kayak anak kecil." balas Ryan.


"Ryan!" tegurku.


"Hehehe...maaf bunda. Maaf Om Alan." kata Ryan nyengir.


"Ra, mumpung di sini. Kamu tidak ingin belanja?" tanya Kak Salman.


Aku menggeleng. Sejujurnya aku pengen belanja. Wanita mana yang tahan jalan-jalan ke mall tanpa belanja. Tapi aku tahu kalau aku harus berhemat.


"Tapi mau kan menemaniku belanja?" tanya Kak Salman. Aku berpikir sebentar lalu mengangguk.


"Anak-anak, mau ikut belanja, atau tetap main?"

__ADS_1


"Maiiin!!!" Ryan dan Ardi menjawab kompak.


"Baiklah. Lan bisakan kau temani mereka?" pinta Kak Salman pada Alan.Alan tampak ragu menjawab permintaan Kak Salman.


"Kami cuma sebentar. Tadi Elsa nitip barang. Aku butuh bantuan Fira buat memilihnya." kata Kak Salam.


"Baiklah. Silahkan. Biar anak-anak sama aku."


"Ayo Ra!" kak Salman berjalan mendahului.


"Titip Ryan." kataku pada Alan. Ia mengangguk. Aku lalu menyusul Kak Salman.


Langkah Kak Salman menuju gerai yang menjual pakaian pengantin.


"Kak, kenapa kemari?"


"Elsa minta dibelikan pakaian pengantin muslim." jawab Kak Salman.


"Aneh sekali. Buat apa?" tanyaku.


"Sebentar lagi ulang tahun pernikahan kami. Ia ingin kita kembali mengadakan pernikahan. Ya hanya ceremonial saja. Katanya biar berasa pengantin baru terus."


Aku tersenyum. Dalam hati bersyukur atas kebahagiaan Elsa dan Kak Slam.


"Cobalah!" pinta Kak Salman sambil menunjuk sebuah gaun yang sangat cantik yang terpasang pada manekin.


"Aku kak?" tanyaku memastikan.


Kak Salman mengangguk. "Elsa bilang, kau yang harus mencoba. Kalau pas di kamu, pasti juga pas di dia. Kalau cocok denganmu, pasti cocok dengannya."


"Begitu ya." jawabku.


"Mbak, yang itu." Kak Salman memanggil penjaga gerai lalu menunjuk pada baju yang ia mau. Penjaga itu lalu masuk dan keluar kembali sambil membawa gaun serupa yang masih dibungkus plastik Ia menyerahkan gaun itu pada kak Salman.


"Ra, cobalah!" Kak Salman mengulurkan gaun itu padaku.


"Mari mbak saya bantu," kata si pelayan ramah.


Segera aku menuju ruang ganti. Aku memandang ke sekeliling ruang ganti yang ternyata cukup luas. Ada meja riasnya juga.


"Mari mbak!" Pelayan itu benar-benar membantuku. Ia juga meriasku sedikit dan memasangkan kerudung yang senada dengan gaun yang aku pakai. Ku tatap pantulan diriku di cermin. Aku sungguh tidak percaya kalau aku akan secantik itu.


"Sekarang mbak bisa keluar. Calon suami mbak pasti kagum pada mbak." kata si pelayan salah paham. Ia mengira Kak Salman adalah calon suamiku.


"Eh dia bukan.."


Belum selesai aku bicara pelayan itu sudah keluar dari ruang ganti.


Perlahan aku melangkah keluar. Hatiku berdebar. Saat dekat pintu, ada yang membukanya untukku.


"Mas ini calon istrinya." kata pelayan gerai tadi.


Ku lihat Kak Salman terpaku menatap ke arahku,  membuatku kikuk.


"Nggak cocok ya kak?" tanyaku khawatir.


Kak Salman menggeleng. "Cocok kok." jawabnya. Ia lalu mengambil ponsel. "Aku foto ya. Akan aku kirim ke Elsa."


Aku mengangguk lalu memasang gaya senatural mungkin.


"Sudah." kata Kak Salman sambil terus memandangi hasil jepretannya.


"Kak, boleh aku ganti lagi?" tanyaku.


"Tunggu. Elsa mau kita foto bersama, Mbak tolong ya!" Kak Salman menyerahkan ponselnya pada si pelayan. Ia lalu mengambil tempat di sebelahku.


"Mas dipeluk donk calon istrinya," kata mbaknya.


"Belum halal." jawab Kak Salman. Aku langsung menoleh ke arahnya.

__ADS_1


"Kenapa? Benarkan kita belum halal?" kata Kak Salman.


Aku mengangguk. Tapi tetap merasa aneh dengan kata belum halal. Bukahkah seharusnya bilang bukan mahram, kenapa malah memilih kata belum halal seolah-ilah setelah ini kami berdua akan halal.


__ADS_2