Batal Cerai

Batal Cerai
Ch 10. Seperti Bunglon


__ADS_3

Air mata Aya keluar begitu saja mendengar ucapan Darren yang mengatainya perempuan murahan. Sekalipun ia sudah menampar pipi pria itu, namun hati Aya masih sangat sakit. Aya tidak mampu berkata-kata lagi karena mulutnya terkatup rapat menahan suara tangisnya. Lalu ia menekan tombol lift untuk segera turun, bukan pada lantai yang ia tuju sebelumnya.


Sedangkan Darren sendiri meskipun merasakan pipinya panas akibat tamparan Aya, namun pria itu juga segera menyadari apa yang baru saja ia ucapkan telah melukai perasaan Aya. Entah kenapa ia tidak suka saat melihat apa yang dilakukan oleh Aya dan kekasihnya tadi. padahal tidak ada hubungan apapun diantara mereka.


Ting


Aya keluar dari lift sedikit berlari. Lebih baik ia memakai lift lain yang tidak ada Darren. Namun bukannya Aya masuk ke lift, ia justru memilih turun menggunakan tangga darurat. Entahlah, mungkin ia butuh tempat yang sepi untuk menyendiri sekaligus merenungkan ucapan Darren tadi. karena tidak dipungkiri kalau ia tadi berciuman dengan Gandhi di luar kamar hotel, yang masih tergolong tempat terbuka atau tempat umum.


Aya menuruni tangga dengan menangis sesenggukan. Baru kali ini ia merasakan hatinya begitu sakit setelah ada yang mengecap dia sebagai perempuan murahan.


Aya memilih duduk di tangga dengan menutup wajahnya. Dia tidak menyadari kalau sejak tadi ada seseorang yang mengikutinya. Siapa lagi kalau bukan Darren.


Darren sendiri bingung harus mulai dari mana untuk meminta maaf pada Aya yang sedang menangis. Tapi ini juga salahnya. Karena ucapannya lah yang membuat Aya seperti itu.


“Aya!” dengan pelan Darren memanggil Aya.


Aya yang masih menangis tiba-tiba menghentikan tangisnya saat mendengar ada seseorang juga sedang berada di tangga darurat ini. kemudian Aya menoleh. Ternyata di sana ada Darren. Aya pun mengusap air matanya dan tidak bereaksi apapun saat Darren memanggilnya. Justru Aya melanjutkan langkahnya menuruni tangga tanpa mempedulikan Darren.


Tidak kehabisan akal, Darren pun mengejar Aya untuk meminta maaf atas sikapnya tadi.


“Aya!” Darren berhasil mencekal lengan Aya yang hampir keluar dari tangga darurat.


“Lepaskan! Untuk apa kamu ke sini?”


“Maaf.” Hanya itu yang diucapkan oleh Darren.


“Lupakan saja! kamu tidak salah. Karena memang benar aku adalah perempuan MURAHAN. Dan juga bukan tipe kamu.” Ucap Aya dengan nada tegas dan tatapan tajam tertuju pada Darren. Setelah itu ia segera keluar. Namun lagi-lagi Darren mencekal lengan Aya. Bahkan sampai menarik tubuh perempuan itu.


Tubuh kedua orang itu saling menempel dengan tatapan Aya yang semakin marah dan membenci Darren. Sebenarnya apa mau Darren. Bukankah Aya sudah tidak mempermasalahkan lagi ucapan Darren yang telah berhasil menyakiti hatinya tadi.


“Aku salah. Seharusnya aku tidak mengatakan hal itu ke kamu. Maaf.” Ucap Darren dengan menatap lekat mata Aya.


“Maaf, aku tidak bermaksud mencampuri urusan pribadi kamu. Itu hak kamu mau melakukan apapun.” Lanjut Darren dengan tangan masih menahan tubuh Aya.


“Tidak masalah. Tidak perlu merasa bersalah seperti itu. aku baik-baik saja, meskipun kenyataannya memang aku perempuan murahhmpp-“

__ADS_1


Darren dengan cepat membungkam mulut Aya dengan bibirnya. Entah kenapa dia tidak suka Aya mengatakan kalimat itu. padahal dia sendiri yang lebih dulu mengatai Aya adalah perempuan murahan.


Detak jantung kedua orang itu sama-sama berdegup kencang saat bibir itu saling menempel tanpa pergerakan. Aya sendiri masih belum bisa berpikir jernih tentang kejadian yang menimpanya saat ini. sedangkan Darren masih membiarkan bibirnya menempel di bibir Aya dengan menatap mata Aya.


Aya segera mendorong tubuh Darren dengan cukup kasar saat menyadari apa yang baru saja terjadi. Nafasnya tersengal. Ia semakin marah dengan keadaan ini seolah menegaskan kalau dirinya benar-benar perempuan murahan. Aya sudah tidak tahan lagi. ia kembali menangis dan segera keluar.


“Lepaskan!” teriak Aya saat Darren tiba-tiba memeluknya.


Darren semakin erat memeluk Aya. Membiarkan perempuan itu menangis. Tangis yang sejak tadi terdengar perlahan kini semakin lirih dan melemah. Darren juga tidak mengerti, kenapa ia bersikap seperti ini pada Aya.


Cklek


Aya dan Darren sangat terkejut saat ada keryawan hotel masuk ke ruangan itu. sontak Darren langsung melepaskan pelukannya.


“Maaf, Tuan!” ucap karyawan hotel itu pada bosnya. Kemudian pria itu keluar begitu saja.


Kini Aya sudah terlihat lebih tenang. Padahal ia sakit hati dengan Darren, namun ia juga merasa tenang saat pria itu menenangkannya dengan cara memeluknya.


“Aku mau pulang.” Aya segera keluar dengan wajah yang sedikit sembab.


Darren kembali mengikutinya. Dia tidak akan membiarkan Aya pulang sendirian saat keadaan perempuan itu sedang tidak baik-baik saja akibat ulahnya.


“Lissa?” Aya terkejut saat bertemu dengan sahabatnya di loby hotel.


“Kenapa kamu di sini?”


“Eh, Ay. Ini aku mau bertemu dengan sepupuku yang baru saja datang dan menginap di hotel ini. ehm, kamu habis ngapain di sini sama calon suami kamu?” jawab Lissa, lalu ia berbisik pada Aya sambil melirik ke arah Darren yang sedang berdiri di belakang Aya.


Aya sendiri juga tidak tahu kalau sejak tadi Darren mengikutinya. Setelah itu ia menarik Lissa sedikit menjauh.


“Kamu jangan berpikir macam-macam! Aku tadi kebetulan bertemu dia di sini. sudah sana cepat pergi! Aku mau pulang.”


Lissa hanya menganggukkan kepalanya. Setelah itu Aya menuju basement.


“Kenapa kamu mengikutiku?” tanya Aya saat sudah tiba di basement.

__ADS_1


“Aku akan mengantarmu pulang. ini sudah malam.”


“Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri.”


“Jangan! Kamu sedang tidak baik-baik saja.” ucap Darren dan segera meraih kunci mobil Aya.


Aya sendiri memang masih sedikit kacau. Namun untuk pulang bersama Darren rasanya juga tidak nyaman. Mengingat apa yang baru saja terjadi diantara keduanya. Tapi Aya juga tidak punya pilihan lain.


Akhirnya Aya masuk ke dalam mobilnya dengan Darren yang duduk di bangku kemudi. Aya juga agak heran dengan sikap Darren hari ini. kenapa pria itu seperti bunglon yang mudah sekali beruba-ubah.


Beberapa saat kemudian mereka sudah tiba di rumah Aya. Tepat pukul sepuluh malam, dan tentunya Papa dan Mama Aya sudah sangat khawatir sejak tadi. bahkan saat melihat sorot lampu mobil Aya memasuki halaman rumah, Mama Devina langsung keluar rumah.


“Selamat malam Tante!” sapa Darren dengan sopan.


Mama Devina tampak lega karena Aya pulang dengan Darren. Itu artinya Aya tidak sedang pergi bersama Gandhi. Karena sebelumnya tadi Ansel sempat mengatakan bertemu dengan Gandhi saat ia pulang sekolah. Tak lama kemudian Papa Mirza juga ikut keluar menyusul istrinya.


“Oh kalian habis jalan berdua? Papa sejak tadi sangat khawatir karena Aya tidak bisa dihubungi. Tahu gitu Om menelepon kamu, Ren. Ayo masuk dulu!”


“Maaf, Om. Darren langsung pulang saja. ini sudah malam.” pamit Darren dengan sopan.


“Loh, kamu pulang naik apa, Ren? Kalian pakai satu mobil saja kan?”


“Nggak apa-apa, Tante. Biar Darren naik taksi saja.”


“Jangan! Sudah malam, sangat sulit mencari taksi. Bawa saja mobil Aya nggak apa-apa.”


Darren benar-benar bingung. Mau menghubungi Julian untuk menjemputnya juga tidak mungkin. Lalu melirik ke arah Aya yang menganggukkan kepalanya.


“Baiklah. Besok pagi Darren kembalikan mobilnya.”


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2