Batal Cerai

Batal Cerai
Ch 21. Bulan Madu


__ADS_3

Darren melihat Aya mengeluarkan kotak bekal berisi sandwich yang dibuat Aya tadi pagi, akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk kembali ke kantor. jujur saja dia juga sudah lapar. Tidak enak juga jika menolak pemberian Aya.


Kini Darren kembali duduk di kursinya. Tepatnya di dekat Aya. Aya sendiri tidak banyak bicara lagi saat Darren duduk. Dia segera menyiapkan sandwich untuk suaminya itu. kebetulan Aya tadi membuat lebih. Entah sengaja membuat untuk Darren atau memang untuk ia makan sendiri.


“Tunggu sebentar!” ujar Aya beranjak dari duduknya lalu keluar dari ruangan meeting sebentar. Tak lama kemudian Aya kembali dengan membawa dua botol air mineral.


Darren sangat heran dengan sikap Aya pagi ini. meskipun ia tahu kalau Aya adalah perempuan baik. Namun terhadap dirinya, Aya tidak pernah sehangat ini.


Kini Aya dan Darren menikmati sarapannya yang tertunda di ruang meeting. Mereka berdua hanya fokus dengan makanan masing-masing tanpa ada pembicaraan yang berarti.


Usai menghabiskan sandwich buatan Aya, Darren berniat langsung kembali ke kantornya. Dia juga melihat Aya sudah membereskan bekal makanannya dan bersiap memulai pekerjaannya.


“Ren, nanti pulang kerja aku mau ke rumah Mama. besok weekend. Aku ingin menginap di sana.” Ucap Aya.


“Baiklah.” Jawab Darren lalu segera keluar dari ruangan itu. namun setelah itu Darren menoleh sekilas ke arah Aya.


“Terima kasih sandwichnya.” Ucapnya. Dan dijawab anggukan kepala oleh Aya.


**


Seharian bekerja, Aya merasa snagat capek. Dia melihat jam tangannya sudah waktunya jam pulang kerja. Sejenak ia meregangkan otot-ototnya lalu membereskan pekerjaannya. Setelah itu ia segera keluar ruangannya dan pulang ke rumah orang tuanya.


Aya sengaja tidak memberitahu Papanya kalau ia akan ikut mobil Papanya. Aya memilih menunggu Papa Mirza di lobby perusahaan. Namun ternyata di sana sudah ada Darren.


“Kenapa kamu di sini?” tanya Aya heran.


“Bukankah kamu sendiri yang bilang kalau mau menginap di rumah Papa dan Mama?”


Aya mendengus. Padahal tadi ia bilang seperti itu pada Darren bermaksud untuk pamit saja, bukan mengajak pria itu untuk ikut. Jadi serba salah kalau begini.


“Aku tahu kamu pasti ingin ke rumah Papa sendirian kan? Tapi aku tidak mengijinkannya.” Ucap Darren dingin seolah mengerti isi pikiran Aya.

__ADS_1


“Jangan berdebat di sini!” tambahnya saat melihat Aya hendak protes. Apalagi di sana masih ada beberapa karyawan yang memperhatikannya. Tidak baik jika orang melihat dirinya dan Aya sedang berdebat.


Akhirnya Darren keluar dari lobby menuju basement dan diikuti oleh Aya yang tampak kesal. Keduanya sudah masuk ke dalam mobil, namun Darren tak kunjung melajukan mobilnya.


“Apa pantas jika kamu menginap di rumah Mama sendirian tanpa suami kamu?” tanya Darren.


“Aku tahu kalau pernikahan kita ini hanya sementara. Setidaknya kita bisa bersikap layaknya suami istri pada umumnya kalau di hadapan semua orang termasuk orang tua kita sebelum waktu itu tiba.”


“Ya sudah cepat jalan!” ujar Aya tak ingin menimpali ucapan Darren.


Kini tatapan Aya tertuju ke luar selama perjalanan ke rumah orang tuanya. Yang dikatakan Darren baru saja memang benar. Tapi kenapa dia tidak terima saat Darren mengatakan perpisahan. Bukankah itu kemauannya yang segera mengakhiri pernikahan ini. di hati Aya sampai saat ini juga masih ada Gandhi. Walau pria itu entah menghilang ke mana.


Ting


Aya merogoh ponselnya di dalam tas. Ada pesan dari nomor baru yang tak ia kenal. Aya tampak mengerutkan kening saat membaca pesan itu.


“Sayang, akhirnya aku bisa menghubungi kamu lagi. maafkan aku. bisa aku melakukan panggilan? Ada yang ingin aku jelaskan.”


Darren hanya melirik sekilas pada Aya yang terlihat bahagia sambil menatap layar ponselnya. Darren juga tidak ingin tahu apa penyebabnya.


Sebenarnya Gandhi yang menghilang beberapa waktu yang lalu penyebabnya bukanlah Darren. Memang Darren saat itu meminta Julian agar Gandhi segera dipulangkan ke negara tempat tinggalnya setelah hampir melecehkan Aya. Dan untuk selanjutnya, hilangnya komunikasi Gandhi dan Aya adalah ulah Papa Mirza.


Papa Mirza tidak ingin keberadaan Gandhi menghalangi acara pernikahan Aya dan Darren. Jadi pria itu sengaja memutus komunikasi antara Gandhi dan Aya. Walau akhirnya Gandhi bisa kembali menghubungi Aya. Setidaknya status Aya sudah sah menjadi istri Darren.


Sesampainya di rumah kedua orang tua Aya, mereka disambut hangat oleh keluarga. Ternyata Papa Mirza sudah pulang sedari tadi. hanya saja Aya tidak tahu.


Aya bergegas masuk ke dalam kamarnya diikuti oleh Darren untuk mandi terlebih dulu. Darren sendiri tampak canggung saat memasuki kamar istrinya yang begitu bersih dan rapi. Hanya saja ukuran tempat tidur Aya lebih sempit daripada miliknya. Namun Darren bisa bernafas lega saat menemukan sofa di dalam kamar itu.


Aya masuk lebih dulu ke kamar mandi meninggalkan Darren yang lebih memilih menuju balkon kamar. pria itu juga tampak bicara melalui sambungan telepon dengan seseorang. Setelah itu Darren masuk ke dalam kamar, duduk di sofa sambil menunggu Aya selesai mandi.


Cklek

__ADS_1


Aya keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai bathrope. Ditambah rambutnya yang basah digelung dengan handuk. Hingga tampaklah leher jenjang Aya yang sangat menggoda bagi kaum adam yang melihatnya. Termasuk Darren yang tanpa sengaja melihat. Darren langsung memalingkan muka. Dia juga pria normal yang sebelumnya pernah merasakan kegiatan orang dewasa. Hanya saja, dia harus menahan kuat dirinya agar tidak melakukannya pada Aya. Meskipun sah-sah saja karena mereka berdua suami istri.


Darren beranjak begitu saja dan masuk ke kamar mandi. Aya sendiri tidak peduli. Karena menurut Aya kalau Darren tidak akan tergoda dengan penampilannya ini. dia masih mengingat ucapan Darren kalau dirinya buka tipe pria itu.


Darren lupa kalau ia tidak membawa baju ganti. Akhirnya ia memakai bajunya lagi saat keluar dari kamar mandi. namun setelah itu ia dikejutkan dengan satu stel pakaian rumahan yang sudah tertata rapi di atas tempat tidur.


“Pakailah baju itu. aku pinjamkan Ansel. Semoga pas.” Ujar Aya tiba-tiba.


Jujur Darren lagi-lagi tersentuh dnegan perhatian Aya. Dia segera mengambil baju itu dan menukarnya dengan bajunya sendiri.


Kini Aya dan Darren sudah berada di ruang makan untuk makan malam bersama keluarganya. Mama Devina dan juga Papa Mirza sangat senang kedatangan anak menantu mereka malam ini. rumah itu semakin ramai daripada biasanya.


“Kalian kan sudah seminggu menikah? kapan kalian berencana pergi bulan madu?” tanya Papa Mirza.


Uhhuukkk


Aya langsung terbatuk saat mendengar pertanyaan Papanya. Darren segera mengambilkan segelas air putih untuk Aya.


“Pelan-pelan!” ujar Darren semakin membuat Aya salah tingkah.


“Pelan-pelan dong Aya makannya. Perhatian sekali suami kamu. Benar apa yang ditanyakan Papa kamu. Kapan kalian pergi bulan madu? Kami juga ingin segera memiliki cucu dari kalian.” Sahut Mama Devina dan kini giliran Darren yang terbatuk.


Uhhuukkkk


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2