
Kabar perceraian Aya dan Darren juga sudah sampai ke telinga Mama Devina. Wanita paruh baya itu sampai memilih pulang dari rumah sakit lebih awal, karena ingin tahu lebih jelas tentang kebenaran itu. Papa Mirza juga pulang dari kantor, saat istrinya sudah sampai rumah lebih dulu.
“Mas, kemana Aya sekarang? bagaimana bisa Aya masih berhubungan dengan pria itu? bukankah kamu sudah menutup akses Gandhi agar tidak bisa berkomunikasi dengan Aya?”
“Aku juga tidak tahu, Sayang. Aya menghilang tanpa kabar. Darren juga sedang berada di luar kota.”
Kedua orang tua Aya terlihat sangat pusing sekaligus malu. Bagaimana jika nanti kabar ini sampai ke telinga besannya. Apalagi kesalahan ini Aya lah yang menyebabkan.
Kedua orang tua Aya merasa selama ini telah dibohongi oleh anak dan menantunya. Pasalnya hubungan Aya dan Darren terlihat baik-baik saja. bahkan keduanya selalu terlihat romantis. Mengingat pernikahan Aya dan Darren karena perjodohan. Namun ternyata, mereka berdua sangat pandai bersandiwara.
***
Sementara itu Darren yang sudah sampai di luar kota, dia segera memesan hotel untuk ia tempati beberapa hari ke depan untuk menenangkan pikirannya.
Darren kira, setelah melakukan perjalanan jauh, ia bisa melupakan sosok Aya yang selama ini tinggal bersamanya, walau hanya sesaat. Namun rupanya ia salah. Sosok Aya tidak bisa hilag dari bayang-bayangnya. Sikap perhatian perempuan itu, senyumnya, dan kecantikannya teernyata berhasil meluluh lantahkan hati Darren.
Darren merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia memejamkan matanya karena sangat lelah dan berharap tidak lagi mengingat Aya.
“Aya!! Please, jangan buat aku tersiksa seperti ini. karena memang kita sama-sama tidak menghendaki pernikahan ini. harusnya aku senang bisa melepasmu dan membiarkan kamu hidup bahagia dengan kekasihmu.” Gumam Darren dengan mata terpejam.
Kemudian Darren bangun. Ia mengambil ponselnya. Niat hati ingin menghubungi Julian agar kabar perceraiannya ini tidak sampai ke telinga Papanya. Namun niat itu hilang seketika saat jemari Darren menggulir menu galeri yang berisi foto Aya. Foto yang diam-diam ia ambil tanpa sepengetahuan Aya.
Darren menggelengkan kepalanya. Dia tidak bisa begini terus. Baru beberapa hari saja berpisaj dari Aya, otaknya sudah dibuat tidak beres. Padahal kalau dibandingkan dengan saat ia kehilangan Jenifer dulu, Darren lebih berlapang dada. Berbeda saat berpisah dengan Aya seperti sekarang ini.
Senyum Aya pada beberapa foto yang Darren ambil ternyata berhasil menenangkan hatinya. Jauh-jauh ia pergi ingin mencari ketenangan, namun kenapa hanya melihat foto Aya yang sedang tersenyum sudah membuat hatinya tenang dan damai.
Sekali lagi Darren menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin ia mencegah Aya mengejar kekasihnya agar kembali padanya. Dia bukanlah pria yang egois yang memaksakan kehendaknya. Siapa tahu Aya memang saat ini tengah berbahagia dengan Gandhi selama proses perceraiannya berlangsung.
__ADS_1
Dan waktu itu pun tiba. Sudah seminggu ini Darren menghabiskan waktunya di luar kota demi mencari ketenangan yang ternyata sama sekali tidak ia dapatkan. Besok adalah agenda sidang pertamanya dengan Aya. Yaitu tahan mediasi.
Darren tampak menghembuskan nafasnya dengan kasar. Meskipun besok adalah sidang pertamanya, dan sebagai penggugat dia wajib hadir. Namun Darren memutuskan untuk tidak hadir. Entah apa yang menyebabkan ia memilih untuk tidak datang. semua itu karena ia tidak sip ajika bertemu dengan Aya. Biarlah Aya sendiri yang datang. dengan demikian hakim akan cepat memutuskan sidang perceraian itu. akhirnya Darren menambah waktunya lagi untuk berada di kota ini.
Hal yang sama dialami oleh Aya. Hari ini adalah agenda sidang pertamanya dengan Darren. Sebelumnya ia sudah antusian untuk tertib menghadiri agenda sidang perceraiannya agar cepat selesai. tapi kenapa Aya tiba-tiba memutuskan untuk tidak hadir. Sama dengan jawaban Darren, yaitu Aya tidak sanggup untuk bertemu dengan Darren. Biarlah ketidak hadirannya dalam persidangan nanti bisa lebih mempercepat proses perceraiannya. Lagi pula Darren yang menggugat, jadi sudah pasti jika dirinya tidak hadir, proses itu segera selesai.
Sementara itu di pengadilan agama sudah tampak Mirza dan sang istri. Kedua orang tua Aya sudah berhasil mengorek informasi tentang perceraian anak menantunya. Mereka yang tahu kalau hari ini adalah jadwal sidang pada tahap mediasi, Mirza dan Devina ingin bertemu dnegan Aya dan Darren lebih dulu agar perceraian itu tidak terjadi.
Cukup lama Mirza dan istrinya menunggu. Namun sidang itu tak kunjung dimulai lantaran pihak penggugat dan tergugat tak juga hadir. Hanya pengacara Darren saja yang hadir. Namun tetap saja sidang itu tidak bisa dimulai.
Pengacara Darren juga kesulitan menghubungi kliennya. Ponsel Darren sedang tidak aktif. Akhirnya mediasi hari ini dibatalkan dan akan dijadwal ulang.
Mirza dan Devina tampak kecewa karena tidak berhasil bertemu dengan anak menantunya. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah.
***
Sedangkan Darren sudah kembali dari luar kota. Masalah perceraiannya memang sebelumnya Darren sudah menyerahkan pada pengacaranya. Namun saat kepulangannya, Darren tidak mendapat kabar apapun dari pegacaranya. Pengacara Darren juga sepertinya sedang ada urusan pribadi hingga belum sempat memberitahu pada kliennya kalau sidang itu ditunda sampai bulan depan.
**
Hari-hari Aya dijalani seperti biasa. Meskipun setiap hariia berkomunikasi dengan Gandhi, namun tetap saja ia merasa hampa. Lagi-lagi penyebabnya adalah Darren. Entah kenapa pria itu tidak bisa hilang dari pikirannya. Padahal seharusnya ia bahagia dengan perpisahan ini. apalagi satu bulan lagi Gandhi akan datang menemuinya. Kemungkinan kedatangan Gandhi juga bertepatan dengan akta cerainya sudah jadi.
Dan waktu itu pun datang. hari ini Gandhi sudah datang memenuhi janjinya pada snag pujaan hati. Pria itu sengaja tidak memberi kabar pada Aya kalau ia datang lebih awal dari jadwal yang sudah ditentukan.
Malam harinya Gandhi baru memberi tahu Aya kalau pria itu sudah tiba sejak pagi. aya jelas sangat tekejut. Namun mereka tidak bertemu langsung, mengingat waktu sudah malam. akhirnya mereka berjanji kalau besok siang akan bertemu.
Keesokan harinya Aya sudah bersemangat untuk menemui Gandhi. Entah kenapa ia tiba-tiba teringat dnegan ucapan Darren kala itu. dimana Darren menyebut Gandhi pria berengsek. Sebenarnya apa yang tidak ia tahu tentang Gandhi? Lalu, apakah Darren selama ini mengenal Gandhi?
__ADS_1
Aya membuang pikiran buruk yang mengganjal hatinya. Mimpinya untuk hidup bahagia dengan pria yang ia cintai sudah di depan mata. Dia tidak ingin merusak momen itu dengan pikiran negative tentang Gandhi.
Pagi ini Aya memutuskan untuk mendatangi hotel di mana Gandhi menginap. Meskipun mereka janjian kan bertemu siang hari, namun Aya ingin datang lebih awal untuk memberi kejutan pada Gandhi. Apalagi hari ini bertepatan dengan hari ulang tahun pria itu.
Sesampainya di hotel tempat Gandhi menginap, Aya segera bertanya pada resepsionis tentang letak kamar Gandhi. Pihak hotel memberitahunya, karena memang tidak ada privasi. Atau Gandhi tidak berpesan apapun.
Aya kini sudah berdiri di depan pintu kamar Gandhi dengan sebuah kue tart yang akan ia berikan untuk sang pujaan hati. Dengan perasaan yang mendadak tidak nyaman, Aya mulai memencet bel pintu.
Cukup lama Aya menunggu pintu itu tak kunjung dibuka, akhirnya ia mengambil ponselnya dan menghubungi Gandhi. Namun belum sempat ponsel itu dalam genggaman Aya, pintu tiba-tiba terbuka.
Cklek
“Selamaaa…..”
Ucapan Aya terhenti begitu saja saat melihat Gandhi membuka pintu kamar dalam keadaan setengah tel anjang dan di dadanya banyak sekali tanda merah.
“Sayang! Kenapa lama sekali sih? Aku sudah lapar nih!” ujar seorang perempuan yang sudah berdiri di belakang Gandhi. Perempuan itu hanya menutup tubuh tel anjangnya dengan selimut. Dan Aya sangat mengenalnya.
Bruk
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!