
Malam ini Aya dan dan Darren sedang makan malam di rumah. makan malam untuk pertama kalinya yang mereka lakukan berdua dan dalam suasana yang begitu hangat. Mengingat selama ini keduanya tidak pernah sekalipun melewati makan bersama di meja makan. Kecuali saat Papa Vano masih tinggal di rumah ini. terlebih saat mereka masih berpura-pura romantis.
“Apa setelah ini kamu akan kembali bekerja?” tanya Darren tiba-tiba.
Aya menghentikan sejenak keegiatannya. Dia teringat dengan kedua orang tuanya pada saat dulu ijin meminta cuti kerja untuk fokus pada rumah tangganya, padahal ia sudah merencanakan perceraian dengan Darren.
Aya belum siap bertemu dengan Papanya lagi dalam waktu dekat. Sudah bisa dipastikan kalau Papanya itu akan memarahinya dengan apa yang sudah terjadi selama ini. meskipun pernikahanya dengan Darren terselamatkan.
“Untuk sementara aku ingin di rumah dulu. Nanti aku pikirkan lagi.” jawab Aya.
Darren terdiam. Dia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya. Padahal ia ingin sekali mengajak Aya berkunjung ke rumah mertuanya untuk menjelaskan kabar buruk yang sempat membuat mertuanya shock.
“Baiklah. Aku hanya bertanya. Kamu di rumah saja, dan tidak bekerja juga aku tidak masalah. Kamu cukup di rumah, menunggu aku pulang kerja dari kantor dan menyambutku.” Ujar Darren membuat Aya tersipu.
Baru saja Aya merasakan dekat dengan Darren dan mencoba menjalani hubungan rumah tangganya seperti pasangan suami istri pada umumnya, sudah membuat Aya semakin paham bagaimana sosok Darren yang sebenarnya. pria yang dulu kaku dan sikapnya dingin, ternyata sangat hangat dan begitu perhatian pada dirinya.
Usai menghabiskan menu makan malamnya, sepasang suami istri itu bersantai di ruang tengah. Aya duduk lebih dulu setelah membawa dua cangkir teh hijau sebagai teman ngobrolnya bersama Darren. Sedangkan Darren yang baru keluar dari ruang kerjanya, dia langsung duduk di samping Aya.
Aya terkejut saat jarak Darren sangat dekat dengannya. selama ini memang mereka belum pernah sedekat ini. dan hal itu membuat jantung Aya berdebar-debar.
Darren menyalakan televisi. Dia mencari tontonan film agar obrolannya dengan Aya tidak monoton. Itung-itung sambil pdkt.
“Kamu suka nonton film genre apa?’ tanya Darren sambil memilih chanel film.
“Yang action romantis. Tapi apa saja sih, asal bagus.”
Darren hanya mengangguk. Lalu ia menemukan film sesuai genre yang Aya suka. Darren sendiri lebih suka film bergenre action fantasy. Tapi berhubung Aya Sukanya yang action romantis, dan masih berbau action, tidak apalah. Yang penting bisa berdekatan dengan Aya.
__ADS_1
Aya tampak antusias menyaksikan film yang sedang ia tonton sekarang. sedangkan Darren tidak menyaksikan adegan filmnya, melainkan fokus dengan wajah Aya yang tampak serius dan sesekali mengerutkan kening. Sungguh hal yang tak pernah Darren perhatikan dari sosok Aya. Darren merasa sangat bersyukur karena perceraiannya batal. Dia tidak bisa membayangkan jika hari ini ia resmi menyandang status duda untuk kedua kalinya.
Arghhh
Aya tiba-tiba berteriak saat film yang ia tonton sedang ada adegan di mana pemeran utamanya sedang dalam bahaya. Pria yang di dalam tubuhnya ditanam sebuah bom dan hendak diledakkan oleh musuhnya melalui sebuah remote control. Dan saat remote itu sudah ditekan, ternyata pemeran utamanya tidak meledak, meskipun ada suara ledakan keras di tempat itu. dan ternyata salah satu teman si pemeran utama sudah berhasil menjinakkan bomnya terlebih dahulu. Hingga yang meledak dan dibuat hancur adalah musuhnya. (Mengenai informasi film yang ditonton Aya saat ini, semuanya ada di novel yang berjudul “Suami Kedua” karya author “Dee_K”) 😅😅😅
Aya berteriak sambil menutup matanya. dan Darren reflek menarik Aya ke dalam pelukannya, agar istrinya itu lebih tenang setelah menyaksikan adegan yang cukup menegangkan.
Beberapa saat setelah aksi menegangkan dari film itu selesai, Aya baru menyadari kalau saat ini posisinya sedang dalam pelukan Darren.
Aya berusaha mengurai pelukan itu. namun Darren justru mencegahnya. Hingga kedua pasang mata itu saling menatap dalam dan jaraknya cukup dekat. Bahkan hembusan hangat nafas kedua orang itu sangat terasa menerpa wajah masing-masing. Darren perlahan mendekatkan bibirnya untuk menggapai bibir Aya yang sebelumnya pernah ia rasakan manisnya. Beberapa saat kemudian kedua bibir itu sudah menempel. Darren tinggal melakukan aksi selanjutnya.
Drt drt drt
Mereka berdua segera menjauh setelah mendengar suara deringan ponsel Darren beserta dengan vibrasinya yang cukup mengganggu aktivitas romantis itu.
“Iya, Pa. maaf sudah membuat Papa dan Mama shock dengan kejadian ini. semuanya hanya salah paham, dan kami sudah menyelesaikannya.”
“…..”
“Iya, Pa. Darren akan datang ke sana bersama Aya. Tapi tidak dalam waktu dekat ini. Papa tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Kami berdua baik-baik saja.”
Setelah itu Darren mengakhiri panggilannya. Aya yang sejak tadi berada di samping Darren, cukup tahu tentang siapa seseorang yang menghubungi suaminya baru saja.
“Papa meminta kita ke sana. Tapi aku hanya menyanggupinya secepatnya untuk datang.” ujar Darren.
“Terima kasih. Aku memang belum siap bertemu Papa. Apalagi semua yang telah terjadi adalah ideku dan rencanaku. Papa pasti marah denganku.” Ucap Aya tertunduk sedih.
__ADS_1
“Baiklah jika kamu memang belum siap, aku tidak masalah. Tapi percayalah kalau Papa tidak akan marah padamu, Ay. Aku yang akan menjelaskan semuanya.”
Usai menonton acara film yang cukup menegangkan dan berakhir happy ending itu, Darren mengajak istrinya untuk beristirahat. Mengingat besok Darren harus kembali ke kantor dan juga ada meeting penting dengan kliennya.
Sesampainya di dalam kamar, Aya masuk ke kamar mandi lebih dulu. Sedangkan Darren berganti baju tidur sambil nunggu kamar mandi bergantian dengan Aya.
Aya sudah keluar dari kamar mandi. dia berganti baju tidur lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang dengan posisi menepi. Sama seperti dulu saat sedang tidur bersama Darren untuk pertama kalinya.
Darren keluar dari kamar mandi melihat Aya sudah berbaring di atas ranjang dengan posisi seperti dulu. Pria itu tersenyum tipis lalu menaiki ranjang mendekati Aya.
“Kenapa tidurnya masih menjauh seperti ini, hem?” bisik Darren tepat di telinga Aya saat perempuan itu dalam posisi miring.
Aya sangat terkejut. Hingga tubuhnya oleng ke tepi dan hampir jatuh, kalau saja tangan Darren tidak sigap menangkapnya.
“Makanya jangan di tepi seperti ini. kamu belum tahu sih rasanya jatuh dari ranjang.” Ujar Darren menarik Aya agar menengah.
“Memangnya kamu pernah? Kok sepertinya berpengalaman?” tanya Aya sambil memcingkan matanya.
“Sudah malam. lebih baik kita segera tidur sebelum ada yang bangun.” Ujar Darren ambigu, lalu ia merebah di samping Aya dalam jarak yang sangat dekat.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!