Batal Cerai

Batal Cerai
Ch 33. Sesuai Judul


__ADS_3

Malam itu setelah Gandhi menghubugi Aya kalau ia sudah tiba dan sedang berada di kamar hotel, Gandhi memutuskan untuk keluar. Dia ingin pergi ke café yang ada di hotel ini. sudah lama ia tidak datang ke negara ini, jadi ia ingin menghabiskan malam sendirian di café sebelum besok bertemu dengan Aya.


Gandhi sudah memesan minuman. Setelah itu ia mencari tempat duduk yang jauh dari keramaian pengunjung. Namun saat ia sedang menikmati minumannya, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang.


“Gandhi!”


“Lissa?”


Ucap dua orang itu bersamaan. Lissa tidak menyangka kalau kedatangannya di café ini akan bertemu dengan Gandhi yang sudah lama ia rindukan. Gandhi sendiri yang melihat penampilan Lissa tampak jauh berbeda dengan dulu, saat terakhir mereka bertemu, jelas membuatnya sedikit kepanasan. Lissa terlihat lebih cantik dengan pakaian yang terbuka. Terlebih mereka dulu pernah berbagi kenikmatan.


Gandhi mempersilakan Lissa duduk, lalu memesankan minuman untuk perempuan itu. sejak tadi Gandhi hampir tidak berkedip melihat kecantikan Lissa. Hingga membuat Lissa tersipu malu.


Mereka berdua saling bertanya kabar. Lissa menunjukkan rasa sedihnya karena cukup lama tidak mendapat kabar dari Gandhi. Gandhi juga meminta maaf, karena memang ia sibuk bekerja dan kuliah. Mereka sama sekali tidak membahas tentang Aya. Lissa sengaja tidak bertanya maksud kedatangan Gandhi ke negara ini. dia hanya ingin melepas rindu dengan pria itu.


Perbincangan mereka mengalir begitu saja, karena memang sebelumnya mereka sudah saling kenal. Hingga pada akhirnya mereka bersepakat untuk mengulangi dosa terindah seperti dulu. Gandhi tak segan mengajak Lissa masuk ke kamarnya. Lissa pun menerimanya dengan tangan terbuka.


Sesampainya di kamar hotel, Gandhi langsung menyergap bibir Lissa yang juga sangat ia rindukan. Keduanya sama-sama terbakar dalam gelora asmara yang selama ini mereka rindukan. Walaupun Lissa sering melakukan dengan pria lain, tetap saja dia merindukan milik Gandhi.


Sementara itu malam ini Darren mendapat kabar dari pengacara yang menangani proses perceraiannya. Dia sangat terkejut kalau sidang pertamanya Aya juga tidak hadir. Hingga jadwal itu harus disusun ulang dan lusa adalah jadwalnya.


Pengacara Darren juga mengatakan kalau saat itu ada kedua orang tua Aya yang ikut datang. mereka tampak kecewa karena tidak melihat kehadiaran Aya dan Darren.


“Saya harap lusa anda bisa hadir, Tuan. Karena posisi anda sebagai penggugat, tidak masalah jika Nona Ayara tidak hadir. Jadi proses itu akan cepat selesai.”


Darren terdiam setelah mendengar ucapan pengacaranya. Dia benar-benar tidak mengerti dengan Aya. Jika perempuan itu menginginkan proses perceraiannya segera selesai, kenapa dia juga tidak hadir.


“Terima kasih atas informasinya. Saya akan datang lusa.” Jawab Darren kemudian.


Setelah pengacaranya pulang, Darren mendapat panggilan dari Julian, sang asisten. Julian mengatakan kalau besok pagi ada meeting dengan kliennya yang diadakan di salah satu hotel yang masih bekerjasama dengan perusahaannya.


Untuk saat ini Darren memilih fokus dengan pekerjaannya dulu. Lusa barulah ia fokus dengan proses perceraiannya dengan Aya.


Sebenarnya Darren ingin sekali bertanya langsung pada Aya mengenai alasan dia tidak hadir dalam sidang waktu itu. tapi ia urungkan. Mungkin Aya memang berubah pikiran dan memilih tidak hadir, agar perempuan itu tidak melakukan pembelaan lagi atas perselingkuhan yang ia lakukan.


***


Setelah semalaman berbagi kenikmatan dengan Lissa, Gandhi juga merasa puas. Namun ia memperingatkan pada dirinya sendiri kalau ini adalah terakhir kalinya ia berhubungan badan dengan Lissa. Setelahnya ia akan menghindari wanita itu dan fokus dengan Aya yang tinggal selangkah lagi akan menjadi istrinya.

__ADS_1


“Sayang!” lirih Lissa sambil memeluk Gandhi.


Kedua insan itu masih berada dalam balutan selimut tebal tanpa sehelai benang. Lissa benar-benar dibuat melayang dengan permainan Gandhi semalam suntuk. Bahkan sampai menjelang pagi pun keduanya masih berpacu dalam kenikmatan.


“Ada apa?” tanya Gandhi sambil mengusap lembut kepala Lissa.


“Perutku lapar sekali.” Jawabnya dengan manja.


Gandhi sadar betul kalau pergulatannya dengan Lissa semalam cukup menguras tenaga. Pantas jika saat terbangun, Lissa sudah kelaparan. Akhirnya Gandhi menghubungi pihak hotel untuk memesan makanan.


“Aku memesankan makanan untukmu. Tapi aku minta satu ronde lagi.” tanpa aba-aba, Gandhi kembali menyerang Lissa. Memberikan kenikmatan yang tiada henti.


Keduanya sama-sama menikmati permainan pagi ini. bertepatan setelah keduanya mencepai pelepasan, terdengar suara bel. Gandhi hanya memakai celananya saja lalu membukakan pintu. Dia pikir itu adalah pelayan hotel yang datang membawa pesanan makanannya.


Cklek


“Selamaaa…..”


Gandhi mematung di tempatnya saat melihat pujaan hatinya sudah berdiri tepat di depan kamarnya sambil membawa sebuah kue tart lengkap dengan lilin angka yang menyala. Ditambah lagi dengan penampilannya saat ini. banyak sekali tanda merah di dada juga lehernya akibat ulah Lissa.


“Sayang! Kenapa lama sekali sih? Aku sudah lapar nih!”


Lissa sangat terkut saat melihat sahabatnya sudah berdiri tepat di depan pintu kamar sambil membawa kue ulang tahun.


Sedangkan Aya yang sangat terkejut dan tidak menyangka kalau kekasihnya sedang berada dalam satu kamar dengan sahabatnya sendiri. Ditambah penampilan mereka berdua benar-benar sangat menjijikkan. Air mata Aya mengalir begitu saja saat melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa pria yang selama ini ia perjuangkan, tega menghianatinya. Bahkan dengan sahabatnya sendiri.


Brukk


Kue yang dibawa oleh Aya jatuh begitu saja. tak lama kemudian Aya berlari pergi meninggalkan dua orang yang telah melukai hatinya.


“Sayang, tunggu!!”


Panggilan dari Gandhi tidak Aya pedulikan. Sedangkan Gandhi yang hendak mengejar Aya pun dengan cepat ditahan oleh Lissa.


“Lepaskan, Liss! Semua ini gara-gara kamu.”


***

__ADS_1


Aya keluar dari hotel menuju basement dimana mobilnya terparkir. Air matanya sejak tadi terus mengalir. Sakit. Hanya itu yang Aya rasakan atas penghianatan Gandhi.


Aya berjalan mendekati mobilnya dengan tangis yang tergugu. Dia sampai tidak menyadari kalau ada seseorang yang melihatnya, dan tiba-tiba memeluknya.


“Darren?” ucap Aya terkejut. Namun setelah itu tangisnya kembali pecah dalam pelukan Darren.


“Ada apa, Aya? Kenapa kamu seperti ini?” tanya Darren yang masih bingung saat melihat keadaan Aya tampak kacau.


Aya terus menangis tanpa mempedulikan pertanyaan Darren. Hatinya sangat sakit atas apa yang baru saja ia lihat baru saja. Darren pun membiarkan Aya menangis. Mungkin setelah tangisnya reda, dia akan bertanya.


“Jangan menangis, Aya. Ada apa sebenarnya?” tanya Darren sambil mengusap air mata Aya, setelah tangis perempuan itu reda.


“Gandhi. Dia telah menghianatiku.” Jawab Aya terbata, lalu ia kembali memeluk Darren. Pelukan yang sangat menenangkan hatinya yang sedang kacau.


Darren melirik pada Julian yang berdiri tak jauh darinya. Dia memberikan isyarat pada Julian agar melakukan sesuatu. Setelah itu Darren membawa Aya masuk ke dalam mobilnya.


Sesampainya di dalam mobil, Darren kembali memeluk Aya yang masih sangat bersedih. Aya sendiri kembali menangis dalam pelukan Darren. Bukan menangisi penghianatan Gandhi baru saja. namun menangis karena menyesal atas kebenaran ucapan Darren waktu itu yang mengatakan kalau Gandhi adalah baj***an.


“Maafkan aku, Ren! Aku menyesal. Aku menyesal telah memperjuangkan pria baj***an seperti dia dan lebih memilih mengakhiri pernikahan kita.” Ucap Aya dalam pelukan Darren.


Darren menjamkan pendengarannya atas apa yang diucapkan oleh Aya baru saja. setelah itu ia mengurai pelukannya dan menatap intens mata Aya.


“Apa kamu benar-benar menyesalinya?” tanya Darren untuk memastikan. Dan dijawab Aya denagn anggukan kepala.


Darren meraih ponselnya. Dia menguhubungi pengacaranya.


“Saya mencabut gugatan perceraian itu. saya dan istri saya batal cerai.”


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


__ADS_2