
Setelah kejadian penculikan yang dilakukan oleh Very pada Aya beberapa waktu lalu, membuat Gandhi mau tidak mau harus melanjutkan bisnis Omnnya itu. karena keadaan Very sampai saat ini belum menunjukkan perkembangan setelah mendapat beberapa pukulan mengerikan dari Papa Mirza.
Gandhi sama sekali tidak marah ataupun dendam pada Ayah dari mantan kekasihnya itu karena telah menyebabkan keadaan Omnya seperti sekarang ini. karena Gandhi tahu kalau semuanya memang salah Very. Gandhi hanya bisa berharap jika suatu saat nanti Omnya sudah sadar dari komanya, pria itu mau bertobat dan tidak lagi melakukan kesalahan seperti yang sudah-sudah.
**
Meskipun perusahaan cabang milik Very yang ada di Indonesia hampir bangkrut, tapi Gandhi harus menyelamatkannya. Apalagi beberapa investor besar sudah mundur satu per satu dari perusahaan itu. tentu saja itu smeua adalah perbuatan Papa Mirza.
Beberapa hari yang lalu Gandhi sudah tiba Indonesia. Mungkin untuk beberapa waktu ke depan ia akan singgah di negara ini untuk memperbaiki kekacauan perusahaan. Kebetulan seminggu sebelum keberangkatannya, Gandhi baru saja menyelesaikan wisuda S2 nya.
Saat ini Gandhi sedang berada di sebuah restoran untuk makan siang. Kebetulan dia memang ingin makan di restoran ini, karena setelah makan siang nanti ada meeting yang tempatnya tidak jauh dari restoran. Namun saat baru saja ia memasuki restoran, tanpa sengaja Gandhi melihat seorang wanita yang sampai saat ini masih bertahta di hatinya sedang makan siang seorang diri.
“Aya!”
“Bagaimana kabar kamu, Ay?” sambungnya setelah Aya menoleh padanya.
“Gandhi?” Aya masih terkejut saat Gandhi tiba-tiba muncul. Dia ingat dengan jelas tentang kejadian buruk yang menimpanya beberapa waktu yang lalu. Khususnya saat Gandhi menyelamatkan dirinya dan membawanya ke rumah sakit saat keadaannya sudah tidak berdaya lagi. namun setelah sadar, Aya sudah tidak lagi melihat keberadaan mantan kekasihnya itu. bahkan ia sama sekali tidak berniat mencarinya hanya untuk sekadar mengucapkan terima kasih atas pertolongannya.
“Boleh aku duduk di sini?”
Aya hanya mengangguk samar. Tidak ada niatan apapun terhadap Gandhi. Karena hati Aya kini hanya untuk Darren. Walaupun suaminya itu sedang amnesia dan tidak bisa mengingat apapun tentang masa lalunya.
“Terima kasih atas pertolongan kamu waktu itu.” ucap Aya setelah beberapa saat diam.
“Nggak apa-apa. Aku ikhlas menolongmu. Lalu bagaimana kabar kamu dan kandunganmu sekarang?”
__ADS_1
Aya terkejut. Bagaimana bisa Gandhi tahu kalau dirinya sedang hamil.
“Pasti kamu kaget kan? Dokter dulu mengatakan kalau kamu sedang mengandung. Namun sayangnya saat itu aku buru-buru pergi karena ada urusan penting, jadi tidak sempat memberikan selamat atas kehamilanmu. Selamat ya Ay!” ucap Gandhi sambil mengulurkan tangannya ke arah Aya.
“Terima kasih.” Aya membalas uluran tangan Gandhi.
Ehmmm
Jabatan tangan kedua orang itu terlepas begitu saja saat tiba-tiba Darren muncul. Aya tidak menyangka kalau akan bertemu dengan suaminya di restoran ini.
“Eh, Ren! Kamu jangan salah paham dulu. aku ke sini ada acara lain dan kebetulan bertemu dengan Aya. Bagaimana kabar kamu?” tanya Gandhi berusaha meyakinkan Darren kalau dia tidak ada maksud apapun pada Aya. Selain itu memang keduanya sudah berteman baik setelah kejadian waktu itu.
“Kamu juga makan siang di sini, Ay? Kenapa tidak bilang? Lalu siapa dia?” tanya Darren pada Aya dan mengabaikan pertanyaan Gandhi.
“Iya. aku tadi ingin makan di sini. ya sudah, kalau begitu kita makan bareng saja.” jawab Aya lalu mempersilakan suaminya untuk duduk.
“Kamu juga mau bergabung dengan kami, Gan?” tawar Aya.
“Siapa dia? Ada hubungan apa kamu dengan dia?” tanya Darren dengan nada tidak suka.
Aya tampak menghela nafas. Apakah Darren sedang cemburu? Tapi kenapa sikapnya akhir-akhir ini cenderung datar-datar saja.
“Aya, sebenarnya apa yang terjadi dengan suami kamu?” tanya Gandhi penasaran.
Aya tampak bingung. Dia hendak menjelaskan pada Gandhi juga menjawab pertanyaan suaminya, namun tiba-tiba pelayan datang membawakan pesanan makanan Aya.
__ADS_1
“Kamu mau makan apa? Sekalian aku pesankan.” Tanya Aya pada Darren.
“Aku sudah makan. Aku hanya ingin jawaban kamu. Siapa dia? Kalau aku suami kamu, kenapa kamu berduaan dengan pria lain?” tanya Darren dengan nada tak suka sambil melirik Gandhi.
Akhirnya mau tidak mau Aya menjelaskan pada dua pria yang tengah duduk di hadapannya itu. mengabaikan rasa lapar yang sejak tadi ia tahan.
“Gan, suamiku mengalami amnesia setelah kejadian waktu itu. jadi dia tidak bisa ingat siapa-siapa termasuk aku.” Aya menjelaskan pada Gandhi terlebih dulu.
“Dan kamu, Ren. Dia adalah Gandhi, temanku. Tapi aku tidak bisa menjelaskan banyak, karena percuma kamu tidak bisa mengingatnya. Dan jangan khawatir, aku tidak pernah berbuat macam-macam ataupun memanfaatkan keadaan kamu yang sedang amnesia dengan berduaan dengan pria lain. Seperti yang baru saja Gandhi katakan, kita bertemu secara kebetulan. Apa kamu percaya?”
Darren hanya diam saja. sedangkan Gandhi yang tidak ingin suasana semakin runyam, dia memilih pergi meninggalkan pasangan itu. dan kini hanya ada Darren dan Aya saja di sana.
“Kamu mau makan apa?”
“Aku sudah makan. Ya sudah aku pergi dulu, aku masih ada urusan penting. Julian juga menungguku di mobil.
Darren pergi begitu saja meninggalkan Aya. Tanpa terasa buliran bening meluncur begitu saja membasahi pipi Aya. Namun Aya segera menghapusnya.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!