
Keesokan harinya, seperti yang dikatakan Darren pada Aya bahwa pria itu akan mengantar Aya pergi ke apartemen yang selama ini disewa Aya sebagai tempat tinggalnya sementara. Aya akan mengambil pakaiannya.
Darren ikut membantu Aya mengemas pakaian perempuan itu ke dalam koper. Naasnya lagi saat mereka berkemas sambil berbincang-bincang, tanpa Darren sadari tangannya sekarang sedang memegang benda keramat milik Aya. Aya memelototan mataya saat melihat Darren memegang kain penyangga aset berharganya.
“Ada apa, Ay?” tanya Darren heran.
Tanpa menjawab, Aya langsung menarik benda itu dari tangan Darren dengan cukup kasar, lalu menyembunyikannya di balik punggungnya.
“Lebih baik kamu tunggu di luar saja. aku bisa membereskannya sendiri.” Ujar Aya dengan wajah memerah.
Darren justru semakin penasaran dengan sesuatu yang sedang disembunyikan oleh istrinya. Karena memang dia tadi tidak tahu apa-apa. Entah kenapa pikiran Darren kalau saat ini Aya sedang menyembunyikan sesuatu yang masih berhubungan dengan Gandhi. Akhirnya ia terpaksa merebut apa yang sedang ada di balik punggung Aya.
“Ren, jangan!” teriak Aya saat pria itu menyerobot dan ingin mengambil sesuatu yang sedang disembunyikan Aya.
“Kenapa kamu panik? Apa yang sudah kamu sembunyikan dariku, hem?” tanya Darren dengan raut wajah yang kembali dingin seperti biasanya. Tangan pria itu masih berusaha meraih sesuatu di balik punggung Aya.
Tubuh Darren semakin condong ke arah Aya. Ayah sendiri yang posisinya sedang berdiri dan tidak bisa menahan beban tubuh Darren, akhirnya mereka berdua terjatuh dan bertepatan dengan tangan Darren berhasil mengambil sesuatu yang telah disembunyikan Aya sejak tadi.
Dengan tubuh masih menindih Aya, tangan Darren merasakan benda lunak berbahn kain dan busa. Setelah itu dia mengangkat tangannya untuk memastikan benda apa itu.
Wajah Darren memerah saat ia baru menyadari bahwa benda yang ada dalam genggamannya itu adalah benda keramat penutup aset berharga istrinya.
“Minggir! Aku mau melanjutkan beres-beres.” Ucap Aya mendorong tubuh Darren.
Darren pun bangun. Namun tangannya masih memegang benda itu. bahkan enggan untuk melepasnya ataupun memberikannya pada Aya.
“Ya sudah aku tunggu di luar.” Ucap Darren tanpa meminta maaf atas apa yang baru saja terjadi.
“Darren!” panggil Aya dengan perasaan kesal.
“Apa lagi? katanya kamu suruh nunggu di luar?”
Aya juga malu hendak meminta benda keramat itu. akhirnya ia mendekati Darren dan langsung mengambil benda itu. kemudian mendorong Darren keluar dari kamar.
__ADS_1
“Sorry!” ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Aya tidak mempedulikan permintaan maaf Darren. Setelah menutup pintu kamar, ia kembali membereskan pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper.
Aya melihat ada sebuah kotak bludru di dalam lemarinya. Dia mengambil kotak itu lalu membukanya. Kotak yang berisi sebuah cincin dari Gandhi saat pria itu melamarnya dulu. Aya menutup kembali kotak itu lalu membuangnya ke dalam tong sampah.
“Apa sudah selesai?” tanya Darren saat melihat Aya baru saja keluar dari kamar sambil menarik kopernya.
Aya yang masih canggung dengan kejadian beberapa saat lalu hanya menganggukkan kepalanya. Tak lama kemudian Darren mengambil alih koper Aya dan membawanya keluar.
Hari ini Darren sengaja tidak pergi ke kantor. dia menyerahkan urusan kantor pada Julian, karena ia benar-benar ingin bersama Aya seharian ini.
Darren melajukan mobilnya kembali pulang. tentunya akan membantu Aya lagi untuk beres-beres pakaiannya. Selama dalam perjalanan, keduanya tidak banyak terlibat obrolan. Entahlah, mungkin keduanya masih bingung haru berbuat apa. Mengingat sebelumnya baik Aya maupun Darren tidak pernah bertegur sapa atau melakukan obrolan penting.
“Apa kamu tidak ingin beli apa-apa?”
“Tidak. Langsung pulang saja.” jawab Aya.
Darren pun menurut sesuai perintah Aya. Dan tak lama kemudian mereka telah sampai. Aya dan Darren menaiki lantai dua menuju kamar. karena kemarin Darren membiarkan Aya beristirahat di kamar tamu setelah kejadian pilu itu.
“Ren, kenapa koperku kamu bawa ke sini?”
Darren mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Aya. Pria itu meletakkan koper Aya dan meraih kedua tangan istrinya.
“Aya, bukankah kita sudah sepakat untuk memulainya dari awal? Jadi sekarang lah kita memulainya. Yaitu dengan cara kita tidur sekamar lagi seperti dulu.”
“Tapi bukankah kamu mengatakan kalau kita bisa berteman baik dulu? Kalau hanya teman, apa harus tidur bersama?”
Darren mengulas senyum tipis pada Aya. Senyuman yang sangat menawan dan berhasil membuat Aya salah tingkah. Ternyata Aya tidak bisa menangkap makna knotasi dari ucapan Darren kemarin.
“Begini, Aya. Memang aku mengatakan kalau kita bisa berteman baik untuk mengawali hubungan rumah tangga ini. tapi bukan berarti kita seperti layaknya berteman pada umumnya. Berteman dalam hubungan rumah tangga lebih mengarah pada sikap saling pengertian, saling berbagi, saling mendengarkan, dan saling memahami. Karena awalnya kita memang tidak ada chemistry. Jadi aku menginginkan kita berteman baik yang seperti itu.”
“Oh.” Jawab Aya singkat sambil mengangguk-anggukan kepalanya.
__ADS_1
Darren hanya tersenyum. Kemudian ia menarik tangan Aya untuk masuk ke dalam kamar beserta kopernya tadi. sesampainya di dalam kamar, Darren mulai membongkar isi koper Aya hendak menata baju itu ke dalam lemari.
“Jangan! Biar aku saja nanti yang memasukkan ke dalam lemari.” Cegah Aya saat teringat apa yang terjadi di apartemen tadi. bisa-bisa Darren akan memegang benda keramatnya lagi.
“Ya sudah, nanti saja kamu rapikan. Sekarang kamu bisa istirahat.”
“Di sini?” tanya Aya kembali bingung.
“Iya, Aya. Salah satu makna berteman baik kan saling berbagi. Termasuk berbagi tempat tidur, dan keni,-“
“Jangan diteruskan. Baiklah. Aku akan tidur di sini lagi. lagi pula kamu juga tidurnya anteng.” Sahut Aya dan langsung merebahkan tubuhnya.
***
Sementara itu hari ini Papa Mirza dan juga Mama Devina sudah berada di pengadilan agama untuk ikut menyaksikan proses percaraian anak menantunya. Karena berdasarkan informasi yang Papa Mirza dapat. Kalau sidang perceraian Aya dan Darren ditunda. Dan hari ini baru akan digelar.
Papa Mirza melihat pengacara Darren, lalu ia segera menghampirinya. Mirza yakin kalau pria itu akan mendampingi proses perceraian Aya dan Darren.
“Maaf, Tuan. Memang saya akan menguru proses perceraian klien saya. tapi bukan Tuan Darren. Karena kemarin Tuan Darren sudah mencabut gugatannya. Tuan Darren dan Nona Ayara membatalkan perceraian itu.”
Bagai mendapat angin segar, Mirza menoleh ke arah istrinya yang sedang berdiri di sampingnya. Mereka sangat lega karena Aya dan Darren tidak jadi bercerai.
“Terima kasih banyak informasinya.” Ucap Mirza.
Setelah kepergian pengacara itu, Mirza mengajak pulang istrinya. Setelah ini mereka akan menghubungi anak dan menantunya untuk bertanya kabar.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!