Batal Cerai

Batal Cerai
Ch 69. Sadar


__ADS_3

Saat Aya bersama Papa Vano tadi, dia sudah menceritakan banyak hal mengenai permasalahan yang tengah ia hadapi bersama Darren. Hingga akhirnya ada kejadian seperti ini.


Papa Vano paham dengan kondisi rumah tangga anak dan menantunya. Apalagi Aya dan Darren dipertemukan karena sebuah perjodohan. Papa Vano secara pribadi meminta pada Aya agar memaafkan kesalahan Darren yang sempat membuat kesalahan fatal akibat masa lalu Darren dengan Jenifer. Papa Vano juga meyakinkan Aya kalau sebenarnya Darren sangat mencintai Aya. Apalagi saat ini sudah hadir buah hati mereka dalam rahim Aya.


**


“Aya! Papa dari tadi mencari kamu. Ternyata kamu di sini.”


Melihat kedatangan Papanya, Aya masih takut dan mengira kalau Papa Mirza tetap ingin memisahkan dirinya dengan sang suami.


Aya langsung beringsut mencari perlindungan pada Papa Vano. Namun, setelah melihat reaksi Papanya dan ia melirik Mamanya yang tampak mengangguk samar, akhirnya Aya berusaha bersikap biasa saja.


Grep


Papa Mirza langsung memeluk putrinya. Ada rasa bersalah yang begitu besar pada dirinya setelah sempat meminta Aya berpisah dengan suaminya. dia benar-benar sangat menyesali perbuatannya.


“Maafkan Papa, Aya! Papa janji tidak akan meminta kamu berpisah dengan suami kamu lagi. Maafkan Papa, Sayang!” ucap Papa Mirza dengan sungguh-sungguh.


Aya benar-benar terharu dengan ucapan Papanya. Hatinya juga lega akhirnya Papa bisa mengerti perasaannya dan tidak lagi berniat untuk memisahkan hubungannya dengan sang suami.


Papa Vano pun ikut bicara. Pria itu minta maaf atas kesalahan Darren. Setelah mereka saling memaafkan, datanglah seorang dokter dan perawat masuk ke dalam ruang perawatan Darren untuk mengecek kondisi kesehatan Darren.


“Sayang, lebih baik kamu kembali ke ruangan kamu. Kamu juga butuh istirahat. Ingat, ada nyawa di rahimmu yang tidak bisa kamu abaikan begitu saja.” ucap Papa Mirza.


“Iya, Pa. tapi aku ingin tahu keadaan Darren dulu. aku tidak tenang kalau dia masih belum sadar.” Jawab Aya tak terasa sudut matanya sudah basah.


Papa Mirza pun mengerti. Dia juga ingin tahu keadaan Darren, menantunya. Pasalnya setelah menyusul Aya ke rumah sakit, pria itu mendapat panggilan dari asistennya yang sedang menangani perusahaan. Papa Mirza juga tahu kalau yang membawa Aya ke rumah sakit adalah Gandhi. Namun, entah di mana keberadaan pria itu sekarang.

__ADS_1


Mereka semua tampak cemas menunggu dokter keluar. Pasalnya sejak Darren berada di ruangan ICU itu, tak seorang pun belum diperbolehkan untuk masuk.


Cklek


“Bagaimana keadaan putra saya, Dok?” tanya Papa Vano (Menggunakan Bahasa asing)


“Sampai saat ini pasien masih belum sadarkan diri. Kita tunggu sampai satu kali dua puluh empat jam. Kalau pasien tak juga sadar, itu artinya pasien mengalami koma. Tapi anda jangan khawatir, kami akan mengupayakan yang terbaik.”


Aya hampir saja jatuh saat mendengar penjelasan dokter. separah itu kah keadaan suaminya. tapi Aya sendiri juga melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Darren mendapat pukulan bertubi-tubi pada kepalanya.


“Dok, apa boleh saya masuk? Saya istrinya, Dok. Saya yakin setelah mendengar suara saya, suami saya akan sadar.” Ucap Aya dengan air mata berlinang.


Dokter pun mengijinkan Aya masuk. Tapi tidak boleh terlalu memaksa pasien untuk cepat bangun. Karena akan sangat membahayakan kondisi pasien.


“Sayang, apa kamu baik-baik saja?” tanya Mama Devina yang tampak khawatir dengan keadaan Aya.


Kini Aya sudah masuk ke ruangan suaminya. air matanya jatuh semakin deras saat melihat tubuh lemah Darren dengan berbagai macam alat bantu kesehatan. Tapi Aya harus kuat dan tidak boleh terlihat lemah di depan suaminya. meskipun Darren dalam keadaan tidak sadarkan diri.


“Sayang! Bangunlah! Kami sangat menantikanmu.”


Aya perlahan mengusap lengan suaminya. mencoba menetralkan suaranya agar tidak terdengar isakannya.


“Sayang, aku tahu cinta kamu sangat besar. Aku janji tidak marah lagi denganmu. Aku sudah memaafkanmu. Aku ingin kamu segera bangun dan kita bisa menjalani rumah tangga kita dengan baik. Apalagi saat ini ada calon buah hati kita di rahimku.”


Darren sama sekali tidak memberikan reaksi apapun. Membuat hati Aya semakin sedih. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar, daripada hatinya semakin sakit.


Cup

__ADS_1


Aya meninggalkan kcupan singkat pada kening Darren sebelum keluar dari ruangan ICU.


“Aku sangat mencintaimu.” Ucap Aya.


Setelah pintu ruangan itu tertutup. Tiba-tiba saja jemari Darren menunjukkan pergerakan kecil, dengan diiringi air mata yang keluar.


***


Aya kini sudah berbaring di brankarnya. Infusnya sudah dilepas. Namun dokter belum memperbolehkan Aya pulang. apalagi beberapa saat yang lalu tekanan darahnya sempat turun lagi.


“Sayang, kamu harus kuat. Mama yakin semuanya baik-baik saja. kamu harus cepat pulih agar suami kamu juga segera sadar.” Ujar Mama Devina memberi nasehat.


“Iya, Ma.”


Akhirnya kedua orang tua Aya memutuskan untuk tinggal sementara di luar negeri sampai keadaan Aya dan juga menantunya membaik. Tadi Papa Mirza sempat mendapat kabar kalau Darren mulai menunjukkan reaksi akan bangun dari tidur panjangnya. Hanya saja Papa Mirza tidak ingin menyampaikan kabar itu dulu pada Aya.


Papa Mirza sekarang juga sedang bersama Papa Vano. Mereka berdua masih setia duduk di kursi tunggu depan ruangan Darren. Kedua pria paruh baya itu terlihat sedikit lebih lega dengan kabar terbaru tentang Darren.


“Permisi, Tuan! Tuan Darren baru saja sadar. Namun beliau masih belum bisa diajak komunikasi. Mungkin dari pihak keluarganya bisa membantu?” ucap dokter yang baru saja selesai memeriksa keadaan Darren.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2