
Sore harinya, saat jam pulang kantor, Darren menjemput istrinya. Pria itu sudah tahu kalau jabatan Aya sekaranh bukanlah direktur keuangan lagi, melainkan CEO. Sama seperti dirinya.
Darren bangga memiliki istri yang cerdas seperti Aya. Untuk itu, malam ini ia berencana mengajak Aya makan malam di luar sebagai perayaan jabatan baru sang istri.
Darren sudah sampai kantor. ia segera menuju ruanga kerja Aya, karena memang Aya mengatakan masih menyelesaikan pekerjaannya. Dia meminta Darren untuk menunggu sebentar.
“Pa, Papa mau pulang?” sapa Darren berbasa-basi saat berpapasan dengan mertuanya.
“Iya. Papa duluan. Tadi istri kamu masih sibuk sepertinya.”
Darren mengangguk saja, lalu ia segera menuju ruangan kerja Aya. Darren pikir di ruangan itu hanya Aya sendirian. Jadi dia masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Namun ternyata di dalam sana istrinya sedang bersama seorang pria yang terlihat sedang membahas pekerjaan.
“Maaf!” ucap Darren merasa bersalah.
“Nggak apa-apa. Kamu tunggu sebentar!” ucap Aya lalu kembali fokus dengan rekan kerjanya.
Sementara pria yang tengah duduk di depan meja kerja Aya tadi juga sempat menoleh ke arah pintu yang baru saja dibuka. Pria itu adalah Naufal, direktur keuangan yang baru yang berasal dari kantor cabang.
“Darren?”
Merasa namanya dipanggil, Darren menoleh ke sumber suara. Karena tadi ia langsung menuju sofa untuk menunggu istrinya.
“Iya? kamu kenal aku?” tanya Darren balik, karena merasa familiar dengan pria itu, tapi dia lupa.
Naufal beranjak dari duduknya lalu menghampiri Darren yang masih terlihat bingung. Naufal menyapa Darren dengan bertos ria. Darren yang bingung mengikuti saja.
“Astaga, Darren! Masak kamu lupa dan nggak ingat sama sekali dengan aku?”
“Sorry! Aku lupa. Tapi sepertinya wajah kamu sangat familiar. Kamu siapa?” tanya Darren masih bingung.
“Aku Naufal. Teman kuliah kamu dulu satu kelas. Ingat?” jawab Naufal.
Darren masih berpikir. Dia benar-benar lupa dengan teman-temannya semasa kuliah dulu. Apalagi sudah sangat lama.
“Astaga, Ren! Apa wajahku berubah jadi tambah tampan? Sampai kamu tidak mengenaliku. Oh aku tahu bagaimana cara mengingatkan kamu. Aku yang dulu selalu kamu ajak untuk mengintai cewek incaran kamu. Jenifer. Nah, sekarang kamu sudah ingat?”
Darren langsung teringat masa itu. dia mempunyai teman akrab yaitu Naufal. Bahkan Naufal lah yang selalu Darren ajak untuk mengintai cewek incarannya yang tak lain adik tingkat Darren, yaitu Jenifer, mantan istri Darren yang sudah meninggal.
“Kamu Naufal yang itu?-“
__ADS_1
Darren tidak melanjutkan ucapannya. Dia langsung memeluk sahabatnya itu, karena sama-sama rindu dan sudah lama tidak pernah bertemu.
Aya yang sejak tadi duduk di kursi kerjanya menyimak dengan serius momen pertemuan suaminya dengan sahabat lamanya yang tak lain kini menjadi direktur keuangan di perusahaan Papanya. Awalnya Aya ikut terharu. Namun setelah Naufal menyinggung nama seorang perempuan yang menjadi incaran sang suami sewaktu kuliah dulu, kenapa hatinya sakit. Apalagi Aya tahu nama perempuan itu adalah nama mendiang istri pertama Darren. Jadi perempuan itu sudah lama berada dalam hati Darren.
“Apa kabar kamu sekarang? kamu tambah keren, Ren. Lalu kenapa kamu ke sini? ke ruangan Nona Ayara? Apa kamu masih memiliki hubungan kerabat dengan beliau?” tanya Naufal yang masih berdiri berhadapan dengan Darren.
Darren benar-benar lupa di mana posisinya sekarang. apalagi Naufal baru saja mengungkit masa lalunya dengan mantan istri.
“Oh,-“
“Lalu, bagaimana kabar Jenifer sekarang? aku hanya dengar kalau kamu berhasil mendapatkannya, lalu menikahinya. Sungguh perjuangan kamu tidak sia-sia,-“
“Nanti kita bahas lagi ya, Fal. Sekarang kamu lanjutkan dulu pekerjaan kamu dengan istriku. aku akan menunggu di sini.” sahut Darren tak ingin membuat suasana semakin runyam.
Naufal terdiam. Dia sadar akan kesalahan ucapannya. Lalu ia memilih kembali menyelesaikan pekerjaannya dengan Aya.
“Maaf, Nona. Saya baru tahu kalau anda istri Darren.” Sesal Naufal.
“Nggak apa-apa. Ya sudah, ini semua filenya sudah saya cek dan sudah benar. Besok saya minta salinannya berupa hard copy’nya saja. setelah ini anda sudah boleh pulang.” ujar Aya dengan sopan.
Naufal mengangguk. Ia menerima dokumen itu dan segera keluar dari ruangan CEO. Dia menyapa Darren sekilas. Padahal ingin meminta no ponsel Darren, tapi tiba-tiba nyali Naufal menciut.
“Ayo, pulang sekarang!” ajak Aya lalu sambil memakai tasnya.
Darren tersenyum mengangguk. Sebenarnya ia ingin menjelaskan tentang obrolannya dengan Naufal tadi. namun waktunya tidak tepat.
Darren menggandeng tangan Aya keluar dari ruang kerjanya. Ternyata di luar ia bertemu dengan Naufal yang hendak pulang juga. apalagi mereka masuk ke dalam lift yang sama.
Aya bersikap biasa saja saat berada dalam lift bersama Naufal. Karena kedua pria itu tidak lagi membahas hal tadi. melainkan pekerjaan. Naufal dan Darren juga saling bertukar nomor ponsel.
**
Kini Aya dan Darren sudah berada di dalam mobil perjalanan pulang. aya tampak menyandarkan punggungnya di jog mobil. Karena memang pekerjaannya hari ini sangat sibuk.
“Selamat ya, Sayang atas jabatan barunya!”
“Iya, sama-sama. Aku lelah sekali. Padahal ini hari pertamaku kerja. Tapi sudah banyak sekali pekerjaannya.” Keluh Aya.
“Sabar! Itu masih awal. Lama-lama kalau kamu menikmatinya, pasti tidak akan terasa lelah seperti ini. ya sudah, untuk merayakan jabatan baru kamu ini, bagaimana kalau nanti malam kita dinner di luar?”
__ADS_1
“Boleh. Terima kasih, Sayang.” Jawab Aya sembari bergelayut pada lengan sang suami.
***
Aya sudah berdandan cantik malam ini, karena akan pergi dinner dengan suaminya. tentu saja itu permintaan Darren agar Aya berdandan cantik. Walau sebenarnya tanpa dandan pun Aya sudah terlihat cantik. Apalagi saat tidak memakai apapaun. Betul apa betul? Wkwkw
“Sudah siap?” tanya Darren menghampiri istrinya yang sedang duduk di depan meja rias.
“Sudah. Tapi apa make up ini nggak ketebalan?” tanya Aya meminta pendapat.
“Nggak, Sayang. Serius!”
Akhirnya mereka pun segera pergi dinner.
Darren mengajak Aya dinner ke salah satu restaurant elit yang ada di kota. Setibanya di sana, Darren terus merengkuh pinggang sang istri seolah tidak ingin kehilangan wanita itu.
“Tuan Darren?” sapa seorang pria yang kebetulan berpapasan dengan Darren dan Aya.
“Nona Ayara!” sapanya lagi setelah melihat wanita yang ia kenal dan beberapa kali ia temui.
Ya, pria itu tidak lain adalah Very Atmaja. Aya dan Darren tersenyum ramah membalas sapaan Very. Namun tatapan pria itu tertuju pada tangan Darren yang sedang merengkuh pinggang Aya.
“Ehm, kalian,-“
“Kami sepasang suami istri, dan akan makan malam di sini.” sahut Darren.
“Oh begitu. Ya sudah, selamat menikmati makan malamnya.” Ujar Very, lalu Darren dan Aya melanjutkan langkahnya menuju salah satu meja pengunjung.
Sementara itu Very menatap sepasang suami istri itu dengan senyum penuh arti.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1