
Cinta. Mungkin kata itulah yang membuat hati Aya masih memikirkan Darren, walau pria itu telah menorehkan luka. Aya memang sengaja membuatkan Darren minuman jahe hangat ditambah madu, sebelum ia memutuskan untuk pergi meninggalkan Darren. Namun di luar dugaan Aya, ternyata minuman yang ia buat itu justru mengingatkan Darren pada mendiang istrinya.
Aya jadi teingat sesuatu saat pertama kali memasak untuk Darren. Waktu itu Darren mengatakan kalau rasa masakannya selalu enak. Padahal saat itu adalah pertama kali dirinya memasak. Kini Aya pun mengerti. Ternyata rasa masakannya sama dengan masakan Jenifer, termasuk dengan jahe hangat itu. jadi, selama ini kehadirannya di kehidupan Darren hanya sebagai bayang-bayang semu orang yang telah meninggal.
Aya masuk ke dalam kamar tamu lagi, dan mengunci pintunya. Air matanya berjatuhan dengan isak tangis yang semakin kencang. Mungkinkah jalan cintanya selalu seperti ini. jika ia dulu hampir saja bercerai dengan Darren, apakah perceraian ini akan menjadi kenyataan.
*
Darren hanya minum jahe hangat buatan istrinya, tanpa menyentuh makanan sama sekali. Selain tidak berselera makan karena masih memikirkan kesalahannya terhadap Aya, perutnya juga masih tidak nyaman untuk diisi dengan makanan.
Darren mencoba menghubungi ponsel Aya, namun tidak ada jawaban. Mungkin benar kalau Aya sedang ada meeting penting, jadi pagi-pagi sekali sudah berangkat. Akhirnya Darren memutuskan untuk pergi ke kantor saja. dan nanti siang dia akan mendatangi istrinya di kantor sekalian mengajaknya makan siang.
Setelah melihat suaminya berangkat ke kantor, Aya pun juga berangkat dengan menggunakan mobilnya sendiri. Beruntung tadi mobil yang biasa dipakai sopir untuk mengantarnya tidak ada di rumah, jadi Darren tidak curiga.
Rupanya niat Darren ingin mengajak makan siang istrinya hanyalah rencana. Karena pada kenyataannya, seharian ini dia sangat sibuk. Memberi kabar pun dia tidak sempat. Hingga sampai sore harinya, Darren baru bisa membuka ponselnya. Di sana tidak ada pesan apapun dari istrinya. Akhirnya Darren berinisiatif menjemput Aya ke kantornya.
Darren kini sudah sampai di gedung perkatoran milik mertuanya. kebetulan dia berpapasan dengan Papa Mirza yang juga hendak pulang.
“Darren? Ada apa?” tanya Papa Mirza dengan bingung.
“Mau jemput istri, Pa!”
“Loh, tadi Papa lihat ada mobil Aya di basement. Dan Aya juga sudah pulang sejak tadi.”
Darren sungguh terkejut mendengarnya. Dia sama sekali tidak tahu kalau istrinya berangkat ke kantor memakai mobilnya sendiri. Padahal tadi pagi Darren masih melihat mobil istrinya di garasi. Apa itu artinya…..
Tak ingin membuat Papa Mirza curiga atau berpikiran buruk, akhirnya Darren mencari alasan yang tepat. Tidak mungkin juga ia mengatakan tentang kesalah pahaman yang sedang terjadi antara dirinya dan Aya.
“Oh begitu ya, Pa? Darren memng baru saja pulang dari luar kota. Dan langsung ke sini berniat menjemput Aya sekalian memberi kejutan. Ya sudah, Darren pamit pulang dulu, Pa.”
__ADS_1
**
Darren pun segera pulang. dia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya. Apalagi Aya diam-diam ke kantor membawa mobilnya sendiri.
Sesampainya di rumah, Darren tidak melihat mobil Aya di garasi. Namun dia harus masuk dulu untuk menanyakan sesuatu pada pembantunya.
“Sekarang Bibi katakan, apakah saat aku masih di rumah tadi, Aya sudah benar-benar pergi ke kantor?”
Bibi tampak ketakutan sambil menundukkan kepalanya. Wanita itu memang tahu kalau majikannya sedang bertengkar. Namun tidak tahu apa penyebabnya.
“Katakan, Bi!” sentak Darren yang sudah hilang kesabarannya.
“Maafkan saya, Tuan. Memang Non Aya tadi belum berangkat ke kantor. saya hanya disuruh bilang seperti tadi kalau Tuan bertanya.”
“Lalu ke mana istriku tadi saat aku sudah turun?”
“Tadi saya hanya melihat Non Aya membuatkan Tuan jahe hangat. Setelah itu Non Aya masuk ke kamar tamu.”
Darren pun segera pergi meninggalkan rumah untuk mencari istrinya. Darren tidak ingin kehilangan Aya untuk kedua kalinya hanya karena kesalah pahaman ini.
Cukup lama Darren mencari Aya. Sampai waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, Darren tak juga menemukan istrinya. Ponsel Aya pun tidak aktif. Dia juga sudah berusaha mendatangi apartemen di mana dulu Aya pernah tinggal di sana. Namun tetap tidak ada hasil. Akhirnya Darren memutuskan untuk pulang dan berharap besok sudah bisa bertemu dengan Aya.
“Maafkan aku, Ay!” lirihnya dengan tatapan lurus ke jalan yang sudah tampak lengang.
Sesampainya di rumah, Darren segera masuk ke kamarnya. Dia melihat kamarnya tampak sepi. Biasanya di sana ada Aya yang sudah menyambutnya atau menyiapkan baju gantinya.
Darren memijit kepalanya yang berdenyut. Seharian tidak bertemu dengan Aya benar-benar membuat hidupnya hampa. Dia berharap saat ini Aya hanya singgah sebentar di tempat yang nyaman karena belum ingin bertemu dengannya.
Darren membuka lemari. Dia hendak mencari baju gantinya. Namun sebelumnya ia ingin membuka pintu lemari sebelahnya di mana baju-baju Aya tersimpan di sana.
__ADS_1
Darren sangat terkejut saat melihat beberapa baris pakaian milik istrinya tampak berkurang. Itu artinya Aya sudah berniat pergi dari rumah ini.
“Aya!!! Kamu tidak boleh pergi meninggalkan aku lagi!!!” teriaknya frustasi.
**
Semalam suntuk Darren tidak bisa tidur dengan nyenyak. Dia terus memikirkan Aya, istrinya. Darren sangat takut jika terjadi hal buruk menimpa Aya di luar sana. Dan keesokan paginya dia harus menemui kembali kejadian yang membuatnya benar-benar lemas. Ya, Darren kembali mual-mual dan sudah beberapa kali ia memuntahkan isi perutnya. Dan pagi ini menurutnya yang paling parah dari kemarin.
Dengan tangan bergetar dan tubuh yang masih lemas, Darren menghubungi Julian kalau pagi ini dia tidak bisa datang ke kantor. selain badannya sedang tidak fit, ia juga akan mencari Aya hari ini.
Darren terbaring lemah di atas tempat tidur. Ia terpaksa meminta bantuan pembantunya melalui sambungan telepon rumah, agar Bibi membuatkan jahe hangat pereda rasa mualnya itu.
***
Sementara itu Aya hari ini datang ke kantor hanya setengah hari saja. dia meminta ijin sama Papanya kalau akan pergi berbulan madu ke luar negeri. jadi ia mengambil cuti lebih awal tanpa menunggu libur akhir tahun tiba. Apalagi tugas-tugasnya sudah selesai. selanjutnya, ia sudah menyerahkan pada asisten pribadinya.
Saat jam makan siang tiba, Aya langsung pulang. namun bukan pulang ke rumah Darren. Aya memang sengaja memakai alasan itu pada Papanya, karena ia ingin menenangkan dirinya sebelum benar-benar memutuskan untuk pergi dari kehidupan Darren.
Aya menghentikan mobilnya di sebuah restaurant sebelum melanjutkan perjalanannya. Apapun masalah yang tengah ia hadapi, tetap saja perutnya butuh asupan nutrisi. Apalagi akhir-akhir ini porsi makan Aya bertambah.
Tanpa sepengetahuan Aya, sejak tadi ada seseorang yang memperhatikannya. Bahkan orang itu sejak tadi juga mengikuti mobil Aya.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!