Batal Cerai

Batal Cerai
Ch 49. Memanfaatkan


__ADS_3

“Lama banget sih, Om. Dari mana?” tanya seorang wanita yang sejak tadi menunggu Very yang katanya mengambil ponselnya yang ketinggalan di dalam mobil.


“Maaf. Aku tadi kesusahan mencarinya. Apa kamu sudah memesan makanan?” tanya Very pada wanita yang tak lain adalah Lissa.


Memang status Lissa adalah sugar baby dari Very Atmaja. Untuk jabatan di kantor, hanya sebuah kedok saja. apalagi semenjak tahu bahwa Very bekerjasama dengan perusahaan Darren, Lissa mempunyai niat terselubung pada Darren tanpa sepengetahuan Very.


Very juga tidak mempermasalahkan tentang kemampuan Lissa di perusahaannya. Karena dirinya sendiri termasuk pengusaha yang cukup cerdas. Meskipun tanpa harus mempekerjakan Lissa, dia bisa mengatasinya sendiri. Namun karena Lissa sudah membantunya untuk mencari cara agar bisa bekerjasama dengan perusahaan Darren, jadi dia membiarkan Lissa tetap berada di perusahaannya.


Entah apa yang diinginkan oleh Very atau niat busuk apa yang direncanakan untuk perusahaan Darren. Namun yang pasti, Very mempunyai dendam terhadap Darren.


Kini Lissa sudah memilih beberapa makanan yang ia pesan. Setelah itu ia kembali bergelayut manja pada lengan Very. Apalagi mereka berdua sedang berada di ruangan vip. Jadi mau berbuat apapun tidak terganggu dengan pengunjung restaurant yang lain.


Very yang memang tidak bisa lepas dengan yang namanya wanita, pria itu tidak segan-segan mencumbui Lissa saat sedang menunggu pesanan makanan mereka datang. begitu juga dengan Lissa yang sama sekali tidak menolak apa yang dilakukan oleh sugar daddy’nya.


“Om, aku mau ke toilet sebentar ya?” pamit Lissa setelah mengakhiri cumbuannya.


“Ok. Jangan lama-lama, baby!”


**


Lisaa sudah berada di toilet. Dia memperbaiki riasan wajahnya, juga menambah parfum lagi ke seluruh tubuhnya. Apalagi setelah makan ini, Very akan memgajaknya bersenang-senang di sebuah hotel mewah yang belum pernah ia singgahi.


Lissa sangat terkejut saat melihat pantulan wajahnya di cermin, ada seseorang yang baru saja keluar dari toilet. Seseorang yang sangat dia kenal dan pernah menjadi sahabatnya.


“Hai, Aya!” sapa Lissa dengan ramah.


Aya juga tak kalah terkejutnya saat melihat Lissa. Meskipun dia sudah melupaka kejadian pahit itu, karena memang sudah menghilangkan perasaannya terhadap Gandhi, tetap saja Aya masih membenci Lissa. Terlebih setelah mendengar dari cerita suaminya tempo hari saat Lissa berusaha menggoda Darren.


Mendapat sapaan dari Lissa, Aya hanya meliriknya sekilas. Tak ada niat sama sekali untuk membalas sapaan itu. meskipun hanya berbasa-basi. Aya justru pergi begitu saja.


“Sombong sekali sih sekarang, Ay! Apa mentang-mentang sudah mendapatkan suami yang kaya dan tampan?”

__ADS_1


Aya menghentikan langkahnya, lalu menatap tajam pada Lissa.


“Apa maksud kamu, Liss? Lebih baik mulai dari sekarang jangan pernah lagi menampakkan wajah kamu di hadapanku. Aku muak denganmu, dan sangat menyesal mempunyai teman munafik seperti kamu.”


Lissa justru tersenyum sinis ke arah Aya.


“Hei Aya! Aku tahu pernikahan kamu dan Darren hanya sementara. Apalagi kamu jelas masih mengharapkan Gandhi. Begitu juga dengan Gandhi. Jadi, lebih baik suami kamu itu nanti buat aku saja, bagaimana?”


Aya tampak mengepalkan tangannya kuat. Namun sebisa mungkin ia tetap tenang dan tidak tersulut emosinya karena ucapan Lissa baru saja. dia juga tidak ingin memberitahu Lissa kalau hubungannya dengan Darren tidak lagi seperti yang pernah dikatakan oleh Aya dulu.


“Terserah, kamu mau bilang apa. Aku tidak peduli.” Aya bergegas keluar dari toilet. Namun Lissa mencekal tangannya.


“Oh iya, seandainya saja hubungan kamu dan suami kamu baik-baik saja, aku tidak akan membiarkannya. Aku akan merebutnya darimu. Biar Tuhan adil kalau tidak selamanya kamu mendapatkan sesuatu yang kamu inginkan. Apalagi kamu mempunyai segalanya dalam hal materi.”


Lissa memang sejak dulu sangat iri dengan Aya. Dia dulu mau berteman dan menjadi sahabat Aya karena Aya orang kaya yang pastinya cara bergaulnya berbeda dengan orang kalangan bawah seperti dirinya. Apalagi Aya mempunyai kekasih yang good looking seperti Gandhi, muncullah ide licik itu agar Aya yang selalu bisa mendapatkan segalanya, bisa merasakan bawasannya orang kaya tidak selalu mudah mendapatkan yang diinginkannya, termasuk pria.


Aya langsung menghempaskan tangan Lissa begitu saja, dan segera keluar dari toilet. Lissa benar-benar bukan Lissa seperti yang ia kenal dulu. Dan ternyata Aya baru mengetahui bagaimana watak Lissa yang sesungguhnya.


“Kenapa lama sekali, Sayang?” tanya Darren saat melihat istrinya baru datang setelah sejak tadi berpamitan ke toilet.


“Sayang, kamu sakit?” tanya Darren lagi saat melihat raut wajah istrinya tampak beda dari sebelumnya.


“Nggak apa-apa.” Aya yang masih bad mood enggan bercerita pada suaminya. ia segera menyantap makanan yang sudah ada di hadapnnya. Darren pun begitu. Dia tidak mau memaksa istrinya untuk bercerita.


Karena mood Aya yang sudah berantakan setelah bertemu dengan Lissa baru saja, makan pun ia sudah tidak berselera. Dia hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa memakannya sama sekali.


“Sayang, apa kamu tidak suka dengan makanannya? Apa perlu menunya diganti?” tanya Darren.


“Nggak. Aku mau pulang saja.” jawab Aya lalu menatap suaminya meminta persetujuan.


“Baiklah. Tapi setidaknya kamu minum dulu!” ujar Darren, karena memang minuman Aya masih utuh.

__ADS_1


Darren sebenarnya kecewa karena niat hati ingin merayakan jabatan baru sang istri. Namun akhirnya dia bisa memakluminya, karena mood seorang wanita itu labil.


Kini Aya dan Darren sudah berada di dalam mobil Darren segera melajukan mobilnya. Namun tidak pulang. melainkan ke suatu tempat yang bisa membuat perasaan Aya tenang. Syukur-syukur Aya mau bercerita.


“Kenapa berhenti di sini?” tanya Aya saat suaminya menghentikan mobilnya di tepi jalan yang lumayan sepi.


“Ayo kita keluar!” ajak Darren.


Darren membawa istrinya duduk di sebuah bangku taman tepi jalan yang lumayan cocok untuk menghilangkan penat.


Aya menurut saja dan mengikuti langkah Darren. Setibanya di sana, Darren memegang kedua tangan Aya dengan lembut.


“Sayang, apa kamu menceritakan padaku? aku juga tidak memaksa.” Ujar Darren menatap intens mata istrinya.


Aya menarik nafasnya dalam. Akhirnya ia menceritakan pada suaminya mengenai pertemuannya tadi dengan Lissa. Darren mendengarkan dengan seksama. Dia tidak menyangka kalau Lissa benarbenar wanita yang tidak takut jera. Setelah berani menggodanya saat itu, kini berani menantang Aya secara langsung.


“Sayang, dengarkan aku baik-baik! Aku tidak akan terpengaruh dengan dia. Apapaun yang akan dia lakukan untuk memisahkan kita, aku jamin itu tidak akan terjadi. Kamu percaya sama aku.” ucap Darren meyakinkan.


Aya pun langsung menyadarkan kepalanya padadada bidang Darren. Darren langsung membalasnya dengan pelukan.


“Terima kasih. Aku hanya shock dengan Lissa yang sangat jauh berbeda dengan dulu saat kita masih menjadi sahabat.”


“Sayang, semua orang itu bisa berubah kapan saja. atau mungkin kamu saja yang selama ini tidak menyadari kalau Lissa hanya memanfaatkan kamu saja. tapi nggak apa-apa. Kamu belum terlambat untuk mengetahui siapa sebenarnya Lissa. Mulai sekarang berhati-hatilah jika memilih teman.”


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2