
#Flashback On
Sebelumnya Darren sempat membagikan posisi keberadaannya pada orang-orang suruhan Papanya. Dia hanya berjaga-jaga saja jika terjadi sesuatu saat menyelamatkan Aya.
Darren yang masih berada di dalam mobil menunggu Gandhi memastikan bahwa Aya sedang berada di apartemen itu mendadak hatinya cemas. Karena sudah hampir lima belas menit Gandhi tidak memberikan kabar apapun padanya. Namun di detik selanjutnya, ia mendengar suara deringan ponselnya, yaitu dari Gandhi. Sayangnya belum sempat Darren menerima panggilan itu, panggilan dari Gandhi terputus. Hingga Darren sangat yakin kalau istrinya ada di sana.
Tanpa menunggu perintah dari Gandhi, akhirnya Darren masuk ke dalam apartemen itu. dan lagi-lagi dia menemui sial, lantaran ada seseorang yang memukulnya terlebih dulu sampai pingsan.
Sedangkankan Gandhi yang juga mendapat pukulan dari anak buah Very, dia ditinggalkan begitu saja di dalam unit apartemen dengan kedua tangan yang terikat. Karena Aya dan dan Darren dengan cepat dibawa kabur ke tempat lain, yaitu di sebuah gedung tua.
Beberapa saat kemudian Gandhi sadar dari pingsannya. Bertepatan itu, terdengar suara dobrakan pintu dari luar. Dia berharap ada seseorang yang datang untuk menyelamatkannya sekaligus membantu melepaskan Aya.
Dengan langkah tertatih dan tangan masih terikat, akhirnya Gandhi berhasil membuka pintu apartemen. Ternyata yang datang adalah Papa Mirza. Jelas kedua orang itu saling kenal. Gandhi pun menjelaskan smeuanya dengan jelas dan kemungkinan besar saat ini Aya sudah dipindah ke tempat lain.
Papa Mirza juga bekerjasama dengan anak buah besannya yang sejak tadi berusaha melacak keberadaan Darren. Hingga akhirnya mereka menemukan sebuah titik lokasi yang diduga sebagai tempat di mana Aya dan Darren berada. Karena memang ponsel Darren masih aman dalam sakunya sampai dia berada di gedung tua itu.
#Flashback Off
Usai kepergian Gandhi dari ruang rawat Aya, sepasang suami istri yang tak lain kedua orang tua Aya masuk ke sana untuk melihat kondisi putri mereka. Keduanya juga sudah tahu kalau saat ini Aya sedang mengandung.
“Sayang, Mama sangat bersyuku kamu tidak kenapa-napa.” Gumam Mama Devina sambil mengusap lembut lengan Aya.
Menurut hasil pemeriksaan dokter, secara keseluruhan kondisi Aya baik-baik saja. perempuan itu hanya shock dan tekanan darahnya snagat rendah, hingga harus menjalani rawat inap untuk memulihkan kondisinya. Apalagi keadaannya tengah berbadan dua.
__ADS_1
Sementara Papa Mirza yang berdiri tak jauh dari brankar Aya tampak terdiam. Entah apa yang pria itu pikirkan. Namun yang pasti dia masih ingat dengan kalimat terakhir Very kemarin.
Tak lama kemudian, Aya mulai mengerjapkan matanya. perempuan itu merasa tubuhnya lebih baik dan tidurnya juga nyenyak walau hanya beberapa jam saja.
“Ma, Pa?” lirihnya sedikit bingung sambil melihat sekeliling.
“Sayang, kamu tidur saja dulu kalau keadaan kamu belum baik.” Ujar Mama Devina yang masih khawatir dengan keadaan putrinya.
“Aku sudah baikan, Ma. Aku ingin bertemu dengan Darren, Ma. Darren di mana sekarang?” Aya tampak cemas memikirkan suaminya. terakhir ia melihat kalau suaminya itu mendapat serangan bertubi-tubi dari anak buah Very. Bahkan Aya melihat dnegan jelas dengan beberapa luka pukulan yang diterima oleh Darren.
"Aya, lebih baik kamu istirahat dulu. Darren baik-baik saja. dia juga dirawat di rumah sakit ini. hanya saja dia sedang menjalani perawatan secara intensif.”
“Tapi aku ingin bertemu dengan Darren, Ma! Aku takut terjadi apa-apa dengannya.” Aya tetap bersikeras turun dari brankar untuk menemui suaminya.
“Tidak Aya! Kamu tidak boleh menemui Darren lagi!” sahut Papa Mirza yang mengejutkan Aya juga Mama Devina.
“Mas, kenapa kamu melarang Aya betemu suaminya? mungkin saja Darren akan cepat sadar kalau tahu bahwa istrinya kini sedang hamil. Hanya saja aku masih khawatir dengan keadaan Aya.” Ucap Mama Devina.
Aya sendiri sangat terkejut. Dia baru tahu kalau dirinya sekarang tengah mengandung. Ada rasa haru juga bahagia meskipun sebelumnya ia sempat membenci sosok Darren, bahkan sempat ingin berpisah.
“Papa tidak akan pernah lagi mengijinkan kalian berdua bertemu. Dan sebaiknya kalian segera berpisah.”
Duarrr
__ADS_1
“Mas, kamu ini apa-apaan sih? Nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba meminta Aya dan Darren berpisah.” Sahut Mama Devina sambil memeluk Aya yang kini sudah berderai air mata.
“Aku hanya ingin Aya hidup bahagia. Darren ternyata masih terbelenggu dengan cinta masa lalulunya. Apa kamu nggak kasihan dengan anak kita? Dan aku sangat menyesal karena telah menjodohkan mereka. Aya, Papa mohon mengertilah. Papa akan sangat tidak rela jika kamu nanti hidup bersama seorang pria yang tidak mencintai kamu, Sayang.”
Aya masih menangis dalam pelukan Mamanya. Memang dia sempat sepemikiran dengan Papanya. Tapi itu sudah berlalu. Apalagi setelah melihat perjuangan Darren untuk menyelamatkannya sampai bertaruh nyawa. Hal itu membuktikan kalau rasa cinta Darren padanya sangat besar.
“Oh begitu ya, Mas? kamu tidak ingin putri kita menderita karena hidup dengan pria yang masih terperangkap dengan masa lalunya?” tanya Mama Devina dengan senyum sinis.
“Ya. Demi kebahagiaan putri kita.”
“Baiklah jika menurut kamu argument kamu itu benar. Dan kamu juga tidak mempertimbangkan lagi bagaimana perasaan Aya dan juga perasaan Darren sekarang. Kamu lupa? Bagaimana perjuanganku dulu mempertahankan janinku di saat suamiku sendiri masih terperangkap dengan masa lalunya?”
Deg
Wajah Papa Mirza tampak pias saat disinggung masa lalunya. Mama Devina pun segera keluar drai ruang rawat Aya.
“Rasanya aku juga tidak perlu mempertahankan pria egois seperti kamu!” pungkas Mama Devina sebelum benar-benar pergi meninggalkan suaminya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!