Batal Cerai

Batal Cerai
Ch 83. Baby Moon


__ADS_3

Darren merasa tidak enak sendiri padaa kliennya itu. apalagi saat itu memang kelakuannya sangat memalukan. Namun, demi kerjasama antar perusahaan, Darren mencoba tetap professional dan melupakan kejadian waktu itu.


Meeting itu pun dimulai. Perusahaan milik Tuan Tristan hampir sama perkembangannya dengan perusahaan milik Darren. Banyak sekali yang Tuan Tristan tonjolkan mengenai kelebihan dari perusahaannya, dan jik Darren menerima kerjasama itu, kedua perusahaan besar itu sama-sama mendapat untung besar.


Darren juga cukup puas dengan hasil pemaparan asisten dari Tuan Tristan. Tanpa menunggu lama, ia menanda tangani surat perjanjian kerjasama itu.


“Semoga perusahaan kita cocok menjalin kerjasama ini, Tuan Tristan.” Ucap Darren sambil mengulurkan tangannya pada kliennya.


“Terima kasih! Untuk kelanjutannya, silakan menghubungi aisten saya.” jawab pria itu dingin.


Darren melepaskan jabatan tangannya dengan Tuan Tristan. Setelah itu mereka duduk kembali untuk menikmati hidangan yang sudah tersedia di hadapan mereka.


Darren dan Julian tiba-tiba saling lirik dan bergidik ngeri saat melihat tingkah aneh kliennya itu yang seperti sedang bicara sendiri sambil menoleh ke samping di mana di sana tidak ada siapa-siapa. Bahkan Darren sampai berpikir, apakah kliennya itu orang yang waras? Sementara asisten Tuan Tristan sendiri tampak acuh, justru sibuk dengan gadgetnya, kemudian mengajak bicara Julian.


Tidak lama mereka menikmati waktu santai setelah melakukan pembahasan yang cukup serius itu. lagi pula sejak tadi Tuan Tristan tak banyak bicara kalau bukan Darren yang mengajaknya. Darren sendiri merasa sedikit tidak nyaman dengan sikap kliennya itu. dan akhirnya mereka sepakat mengakhiri pertemuan itu. dan berlanjut nanti.


Setelah Tuan Tristan dan asistennya keluar dari ruangan itu, Darren dan Julian juga buru-buru keluar. Entahlah, mereka jadi parno sendiri. Apakah kliennya baru saja adalah seorang indigo yang bisa berkomunikasi dengan makhluk tak kasat mata.


“Tuan, tunggu!” Julian mengejar Darren yang lebih dulu keluar dari ruangan vvip restoran itu.


***


Kini Darren sedang dalam perjalanan ke rumah mertuanya untuk menjemput istrinya. Pulang terlambat seperti ini saja sudah membuat pria itu merindukan istrinya. Darren tidak bisa membayangkan jika ditinggal oleh Aya pergi seperti dulu.

__ADS_1


Sesampainya di rumah mertuanya, Darren langsung masuk ke ruang tengah. Di sana rupanya sang istri sedang bercengkrama dengan kedua orang tuanya. Bahkan Aya terlihat sangat manja dengan Mamanya.


“Selamat malam semuanya!”


“Eh, Darren kamu sudah datang?” Mama Devina menyapa menantunya.


Sedangkan Aya masih pada posisinya, tidur di pangkuan Mamanya. Padahal suaminya baru datang, harusnya disambut. Tapi Darren juga paham dan membiarkannya.


Selama di rumah Mamanya setelah pulang kerja tadi, tidak banyak hal yang ia lakukan. Hanya saja ia minta Mamanya untuk memasak masakan kesukaannya. Mama Devina pun dengan senang hati membuatkannya demi sang anak dan calon cucunya. Bahkan Mama Devina juga memberi banyak wejangan atas kehamilan pertama Aya. Terlebih sebentar lagi Aya dan Darren akan melakukan perjalanan jauh untuk baby moon.


*


Kedatangan Darren ke rumah mertuanya memang untuk menjemput istrinya. Jadi mereka berdua malam ini juga langsung pulang. padahal Mama Devina dan juga Papa Mirza ingin anak menantunya menginap saja. tapi sayangnya Darren tidak bisa, karena masih ada pekerjaan yang harus ia selesaikan malam ini juga.


Beruntungnya memiliki Mama seorang dokter kandungan. Jadi Aya tidak perlu repot-repot membuat jadwal untuk melakukan pemeriksaan kandungan.


“Siap, Ma! Besok setelah jam makan siang, kami akan ke sana. Ya sudah, kami pulang dulu Ma, Pa!”


**


Kini Aya dan Darren dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Sepasang suami istri itu ngobrol santai. Tentunya Aya yang menceritakan tentang wejangan yang diberikan oleh Mamanya tadi, sedangkan Darren juga menceritakan tentang kerjasamanya tadi. Aya sangat terkejut ternyata klien suaminya adalah pria yang pernah ia temui di hotel waktu itu.


Jujur saja Aya juga sangat malu. Saat itu dia berharap tidak akan bertemu lagi dengan pria datar itu. kenapa sekarang justru menjadi rekan bisnis suaminya. tentunya dalam kesempatan lain Aya juga akan bertemu dengan pria itu. misalnya saja mengikuti jamuan acara tertentu yang mengikut sertakan dirinya sebagai istri Darren.

__ADS_1


“Sudah, jangan dipikirkan! Lagi pula sepertinya Tuan Tristan bukan tipe orang yang menyangkut pautkan masa lalu. Apalagi dia juga pria yang aneh.” Sahut Darren sambil mengingat pertemuannya tadi.


Sesampainya di rumah, Aya dan Darren langsung masuk ke kamar. Aya menyiapkan air hangat untuk suaminya mandi. karena setelah ini Darren akan melanjutkan sebentar pekerjaannya yang belum selesai. sementara Aya langsung beristiraha.


**


Waktu yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang juga. hari ini Aya dan Darren akan melakukan perjalanan ke luar negeri untuk kegiatan baby moon mereka. Sekalian mereka akan berkunjung ke Papa Vano. Dan juga ke makam mendiang Mama Darren.


Aya dan Darren tampak bersemangat untuk melakukan perjalanan ini. mengingat selama pernikahan mereka, belum sekalipun mereka melewati perjalanan jauh seperti ini. dan sekarang akhirnya terwujud juga. bahkan mereka tidak berdua saja. melainkan bersama calon buah hati yang sedang ada dalam kandungan Aya.


“Kamu siap, Sayang?” tanya Darren sebelum jet pribadi milik Darren siap take off.


Aya menganggukkan kepalanya, lalu ia memeluk lengan suaminya dengan manja.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


__ADS_2