
Hari berganti hari. Aya masih sabar membantu suaminya untuk sembuh dari amnesianya. Walau terkadang ia melihat Darren sedikit risih dengan perhatiannya yang berlebihan dan juga ia sendiri terkesan memaksa Darren untuk sembuh dengan mengenang kenangan manis yang pernah mereka ukir. Meskipun demikian, Aya sama sekali tidak pernah menunjukkan raut kesedihannya saat merasa usahanya sia-sia. Apalagi di dalam rahimnya sedang tumbuh janin buah hatinya bersama sang suami. jadi, Aya berusaha menjaga moodnya tetap baik.
*
Hari ini keadaan Aya sudah membaik. Dia sudah jarang mengalami morning sickness. Mungkin karena setiap pagi sebelum bangun tidur ia selalu meminta suaminya untuk mengusap perutnya sebentar. Jadi anaknya sudah tidak rewel lagi.
“Mulai hari ini aku akan kembali lagi ke perusahaan.” Ucap Ay saat dia baru saja keluar dari kamar mandi.
“Terserah kamu saja.” jawab Darren sambil mengucek matanya. pasalnya pria itu baru saja bangun tidur. Sedangkan Aya yang baru keluar dari kamar mandi, hendak turun ke dapur membuat sarapan.
Mendengar jawaban Darren yang tampak biasa saja, Aya berusaha baik-baik saja. padahal dia berharap Darren mencegahnya kembali ke kantor demi kandungannya. Mungkin jika Darren tidak amnesia, pria itu akan melarang istrinya ke kantor.
“Ya sudah, aku turun dulu. mau masak.” Ucap Aya dengan tersenyum hangat pada suaminya.
“Tunggu!”
“Ada apa?” tanya Aya berharap apa yang baru saja ia ucapkan dalam hati menjadi kenyataan.
“Aku minta kamu buatkan aku rendang.”
Aya tampak mengerutkan keningnya. selama ini atau lebih tepatnya sebelum Darren amnesia, pria itu tidak begitu suka dengan masakan rendang. Tapi kenapa sekarang Darren malah meminta rendang. Tapi tidak apa-apa, Aya akan tetap membuatkannya.
“Baiklah.”
**
Aya sudah di dapur. Dia mulai memasak rendang seperti yang diminta oleh suaminya. tentunya dengan dibantu oleh Bibi art. Aya hanya menyiapkan bumbu-bumbu dengan takarannya sendiri, setelah itu Bibi yang melanjutkan.
“Tumben Non masak rendang?” tanya Bibi penasaran. Karena memang selama ini wanita itu tidak pernah melihat sajian masakan rendang.
“Darren yang minta, Bi. Jadi aku juga akan makan rendang hari ini.”
__ADS_1
Bibi tampak terkejut. Jelas wanita itu sangat tahu kalau sejak dulu Darren kurang begitu suka dengan masakan rendang. Apa mungkin efek orang amnesia bisa sampai lupa dengan makanan mana yang disukai dan tidak disukai. Rasanya tidak mungkin.
“Pasti Bibi heran dna terkejut kan?” tanya Aya dan diangguki oleh Bibi.
“Tapi dia yang minta, Bi. Asal dia suka dan mau memakannya aku juga tidak masalah.”
Aya pun kembali melanjutkan masaknya. Setelah semuanya selesai dan tinggal melanjutkan sisanya yang dilakukan oleh Bibi, Aya pun masuk ke kamar untuk mandin dan bersiap pergi ke kantor.
“Kamu mau kemana kok tumben sudah rapi?” tanya Aya terkejut saat melihat suaminya sudah berpakaian rapi. Apalagi sejak tadi Darren tidak mengatakan apapun.
“Aku mau ngantar kamu, setelah itu ke kantor.” jawab Darren membuat Aya kembali terkejut.
“Kamu sudah ingat, Ren?” tanya Aya dengan mata berbinar.
“Ingat apa? Aku nanti ngantar kamu dengan ditemani Julian. Setelah itu aku ke kantor hanya tanda tangan berkas saja, karena Julian tadi bilang seperti itu.”
Seketika senyum Aya pudar. Ternyata suaminya masih belum ingat apa-apa tentang masa lalunya.
Setelah mandi dan berpenampilan rapi untuk siap pergi ke kantor, Aya segera turun menyusul suaminya di ruang makan. Biarlah Darren belum bisa mengingatnya, asal pria itu mau meminta sesuatu dengan buatannya sendiri.
Aya mendengar suara orang berbicara di ruang makan. Ternyata Julian lah yang ada di sana. Darren rupanya mengajak Julian sarapan bersama sebelum pergi ke kantor.
“Selamat pagi, Nona Aya!” sapa Julian saat melihat kedatangan Aya.
“Pagi. silakan lanjutkan lagi.” seru Aya sambil memperhatikan suaminya yang tampak biasa saja dan menikmati makanan rendan yang ia masak tadi.
Aya pun segera mengambil nasi dan rendang seperti yang dimakan Darren. Aya memperhatikan suaminya yang makan dengan lahap. Dia sangat senang melihatnya.
Selesai makan, mereka pun segera pergi ke kantor. Darren mengantar Aya dulu sebelum ia pergi ke perusahaannya sendiri.
Dalam perjalanan, Aya memilih mengalihkan pandangannya ke arah luar. Karena sejak tadi Darren terilhat sibuk bicara dengan Julian yang menanyakan banyak hal tentang perusahaan. Memang Darren belum mengingat tentang kepemilikan perusahaannya. Jadi ia terus menggali informasi pada Julian. Namun anehnya, kenapa Darren tidak berusaha menggali informasi mengenai masa lalunya bersama Aya. Padahal Aya tidak pernah lelah untuk terus mengajak suaminya mengukir masa indah yang pernah mereka lewati berdua. Dan respon Darren biasa-biasa saja. justru pria itu tidak begitu antusias.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian mobil yang dikemudikan oleh Julian telah sampai di depan kantor Aya. Aya pun segera turun, dan tak lupa ia meraih punggung tangan suaminya dan diciumnya.
“Aku berangkat dulu!” pamit Aya setelah itu keluar dari mobil.
“Iya.”
Aya kembali lagi menelan kekecewaan. Biasanya Darren akan meninggalkan kecupan di keningnya jika dalam posisi seperti ini. tapi Aya segera sadar, kalau itu semua terjadi saat Darren masih belum amnesia.
“Kita berangkat sekarang, Tuan?” tanya Julian menoleh sekilas ke belakang.
“Iya!”
**
Dengan bekerja kembali, Aya perlahan bisa melupakan sedikit risalah hatinya. Namun ia terus memberikan perhatian pada Darren saat sedang berjauhan seperti ini. ia berulang kali mengirim pesan pada suaminya untuk menanyakan hal-hal kecil berbau manis. Meskipun Darren hanya sekali saja membalasnya.
Siang ini Aya ingin sekali makan siang di restoran tempat ia dulu selalu makan siang bersama Darren jika memiliki waktu luang. Entahlah, mungkin karena ia ingin mengenang masa manis itu, atau karena sedang ngidam. Dan tanpa sepengetahuan Aya, ternyata Darren juga sedang makan siang di sana.
Setibanya di restoran, Aya segera mencari tempat duduk yang nyaman. Kemudian memesan makanan kesukaannya pada pelayan yang baru saja datang mencatat pesanannya.
“Aya!” seru seseorang yang tiba-tiba muncul di samping Aya. Dan Aya pun menoleh ke sumner suara.
“Bagaimana kabar kamu, Ay?”
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!