Batal Cerai

Batal Cerai
Ch 27. Mengganjal


__ADS_3

“Sayang, siapa dia?”


Deg


Aya sangat terkjut saat melihat Darren tiba-tiba masuk ke dalam kamar di saat dirinya sedang melakukan panggilan video dengan Gandhi.


“Itu kakak sepupuku yang aku maksud. Dia sedang meminjam charger ponselku. Masa kamu nggak percaya sih, Sayang?” jawab Aya setenang mungkin.


“Aku percaya kok, Sayang. Ya sudah dulu ya. Ini aku juga ada pekerjaan penting. Kamu tetap jaga kesehatan ya? Jangan sampai sakit lagi.” ucap Gandhi sebelum mengakhiri panggilannya, karena memang pria itu baru saja mendapat panggilan dari Omnya.


Aya tampak bernafas lega, karena Gandhi tidak mencurigainya. Sementara Gandhi memang tidak curiga sama sekali. Jika Aya berselingkuh, tidak mungkin membawa pria lain terang-terangan masuk ke dalam kamar.


Setelah itu Aya beranjak keluar kamar untuk mempersiapkan makan malam. sedangkan Darren sendiri sedang berada di kamar mandi. ingin sekali Aya bertanya sesuatu pada Darren, namun sayangnya pria itu sejak tadi tampak dingin terhadapnya.


**


Aya saat ini sudah duduk di ruang makan bersama Papa Vano. Tak lama kemudian Darren datang. seperti biasa, di hadapan mertuanya ataupun orang tuanya, Aya bersikap seperti layaknya istri pada umumnya. Dia mengambilkan nasi beserta lauknya untuk Darren. Dan pemandangan itu membuat Papa Vano sangat bahagia. Pria itu tidak salah pilih menantu. Aya adalah perempuan yang sangat cocok untuk anaknya.


“Tidak usah! Papa akan mengambil sendiri.” Tolak Papa Vano saat Aya hendak bergantian mengambilkan makan untuk mertuanya.


Setelah itu mereka berdua menikmati makan malam itu dengan diselingi obrolan ringan yang lebih didominasi oleh Papa Vano dan Darren. Sedangkan Aya sebagai pendengar setia hanya sesekali menimpali.


Usai makan malam, Papa Vano meminta Aya dan Darren menuju ruang keluarga. Sepertinya ada hal penting yang ingin Papa Vano bicarakan kepada anak dan menantunya.


Aya datang dengan ke ruang tengah dengan membawa makanan ringan. Setelah itu ia duduk tak jauh dari suaminya.


“Ren, Papa sangat lega dan bahagia setelah kamu menikah dengan Aya. Papa sangat yakin kalau Aya adalah perempuan baik yang tepat bersanding denganmu. Maka dari itu, Papa berharap hubungan kalian selalu rukun sampai akhir hayat nanti.” ujar Papa Vano.


Aya dan Darren sama-sama terdiam. Entah apa yang mereka berdua sedang pikirkan saat ini. yang jelas, baik Aya maupun Darren merasa sangat bersalah pada Papanya yang sudah mengira kalau pernikahannya selama ini baik-baik saja. Darren sendiri tidak ingin mengatakan yang sebenarnya, karena takut akan melukai perasaan Papanya.

__ADS_1


“Ren, Papa sudah percaya denganmu. Dengan kemampuanmu mengurus perusahaan. Untuk itu, minggu depan Papa berencana akan tinggal di luar negeri.”


Darren yang sejak tadi diam sambil menundukkan pandangannya, kini mendongak menatap papanya setelah sang Papa mengatakan akan tinggal di luar negeri.


“Papa mau ninggalin Darren?” tanya Darren jelas terkejut.


“Tidak seperti itu, Ren. Papa ingin memegang perusahaan cabang saja sekaligus ingin dekat dengan Mama kamu. Sudah lama juga Papa tidak berkunjung ke makam Mama kamu. Berhubung sekarang kamu sudah mempunyai teman hidup, jadi sepertinya ini pilihan Papa yang sangat tepat.”


Darren kembali terdiam lalu mendongak menatap Papanya. Bahkan dari sorot mata Papa Vano, pria itu terlihat bahagia sekali. Darren juga tidak bisa menahan kepergian Papanya. Apalagi Papanya memang tipe pria yang sangat setia. Apalagi di masa tuanya, pasti sang Papa ingin selalu dekat dengan Mamanya yang memang berasal dari luar negeri dan dulu saat meninggal dimakamkan di negara kelahirannya.


“Darren tidak bisa memaksa Papa kalau memang keinginan Papa seperti itu. Darren janji nanti kalau ada waktu luang akan berkunjung ke sana.”


“Tentu saja. Papa akan menunggu kedatangan kalian berdua. Apalagi kalian juga belum berbulan madu. Dan untuk kamu Darren, fokuslah dengan masa depan kamu yang ada di hadapan kamu sekarang. masa lalu cukup menjadi kenangan saja, dan tidak perlu dibawa-bawa untukmenjalani masa depan kamu.” Lanjut Papa Vano.


Aya sendiri tidak begitu paham dengan ucapan Papa Vano mengenai masa lalu. Apakah itu tentang masa lalu Darren dengan mendiang istrinya. Jujur saja Aya tidak pernah tahu tentang masa lalu Darren. Karena selain itu tidak penting baginya, masa lalu Darren juga tidak akan berpengarug sedikit pun pada kehidupannya. Bukankah pernikahan ini juga hanya sementara.


**


Selama persiapan Papa Vano berangkat ke luar negeri, seperti biasa Aya bersikap layaknya istri yang baik pada suaminya. namun jika sudah berada di dalam kamar. keduanya seperti orang yang tidak saling kenal.


Sebenarnya ada yang mengganjal dalam hati Aya. Terlebih setelah ia bicara dengan Julian beberapa waktu yang lalu. Di mana Julian saat itu mengatakan kalau Darren telah menolongnya saat berada di restaurant setelah makan malam bersama Gandhi. Atau lebih tepatnya setelah Gandhi melamarnya.


Julian saat itu hanya mengatakan kalau Darren menunggunya semalaman di kamar hotel saat dirinya sedang dalam penegaruh obat tidur. Yang menjadi pertanyaan Aya adalah, kenapa saat itu Darren tidak bicara jujur saja. lalu saat Aya ingin bertanya lebih dalam tentang kronologi dirinya sampai pingsan di basement, Julian belum sempat menjawab karena bertepatan dengan Darren yang sudah kembalin dari toilet.


Mendengar cerita Julian seperti itu, kenapa Aya tiba-tiba curiga terhadap Gandhi. Namun secepat mungkin ia menepis pikiran buruk itu, karena Gandhi sendiri mengatakan kalau kekasihnya itu mengantarnya sampai basement. Setelahnya tidak tahu apa-apa. Jadi bisa Aya simpulkan kalau ada orang lain yang memang sengaja ingin mencelakainya.


“Atau sebaiknya aku tanyakan langsung pada Julian ya?” gumam Aya penasaran.


“Kenapa dengan Julian? Ada hubungan apa kamu dengan Julian?” tanya Darren tiba-tiba.

__ADS_1


Aya terkejut saat mendengar pertanyaan Darren. Pria itu seperti hantu saja, yang tiba-tiba muncul dan mendengar apa yang baru saja diucapkan. Ditambah lagi tatapan dingin Darren saat ini membuat Aya bergidik negri.


“Nggak ada apa-apa. Kamu salah dengar mungkin.” Jawab Aya berbohong.


Rupanya Darren tidak percaya begitu saja dnegan ucapan Aya. Sudah jelas-jelas ia mendengar kalau Aya menyebut nama Julian, asistennya. Dan Darren sangat tidak suka jika Aya dengan seseorang yang ia kenal. Apalagi asistennya.


Darren berjalan mendekati Aya. Sontak saja Aya semakin memundurkan langkahnya, hingga ia mentok pada dinding kamar.


“Katakan dengan jujur! Ada hubungan apa kamu dengan Julian?” tanya Darren saat sudah berhasil mengurung tubuh Aya pada dinding.


“Aku nggak suka kamu dekat dengan pria lain, apa lagi pria itu aku kenal.” Lanjutnya dengan sorot mata tajam.


Aya sampai kesusahan menelan salivanya. Tapi kenapa ucapan Darren baru saja membuat ia merasa seperti sedang dicemburui.


“Katakan!” sekali lagi Darren bicara dnegan suara tegas.


“Aku.. aku tidak ada hubunga,-hhmmmppp”


Darren dengan cepat menyumpal bibir Aya dengan bibirnya.


.


.


.


*TBC


Happy Raeding!!

__ADS_1


__ADS_2