
“Apa Om serius akan menetap di Indonesia?” tanya Gandhi pada Very di mana mereka saat ini sedang berada di kantor.
“Tidak menetap. Tapi Om mau fokus dulu pada perusahaan cabang yang baru saja berdiri. Apalagi Om sudah mendapatkan peluang bisnis yang sangat bagus di sana.”
Gandhi tampak terdiam. Dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau saja bisa, ia akan meminta pada Omnya untuk memegang perusahaan cabang yang ada di Indonesia, karena sekali ia bisa memperbaiki terhadap Aya dan memperjuangkan cintanya yang sudah kandas.
“Kamu tetap fokus dengan kuliahmu saja, dan mengurus perusahaan di sini. Om sudah percaya dengan kemampuan kamu. Dan satu lagi, Om tidak membiarkan kamu datang ke Indonesia lagi haanya untuk perempuan itu. jelas-jelas kamu yang salah, dan anggap saja kalian tidak berjodoh.” Ujar Very.
“Baiklah, Om.” Jawab Gandhi pasrah.
Very memang sedikit banyak mengetahui kabar keretakan hubungan Gandhi dengan kekasihnya. Hanya saja pria itu tidak tahu kalau yang menjadi kekasih Gandhi adalah Aya. Istri dari seseorang yang sangat dia benci dan telah menyebabkan orang tercintanya meninggal dunia.
“Tapi Om memutuskan untuk tinggal di Indonesia murni karena perusahaan, kan? Tidak ada maksud dan tujuan lain?” tanya Gandhi karena seperti bisa membaca sesuatu yang ada dalam benak Omnya.
“Tentu saja tidak. Kamu ini bicara apa? Ya sudah kamu lanjutkan dulu pekerjaan kamu. Om akan persiapan meeting.” Jawab Very lalu mengalihkan pembicaraan.
“Untunglah kalau begitu. Itu berarti Om sudah melupakan misi balas dendam Om pada seseorang.” Celetuk Gandhi.
“Sudah, kamu lanjutkan saja pekerjaan kamu.” Ucap Very, setelah itu keluar dari ruangan Gandhi.
Setelah kepergian Omnya, entah kenapa Gandhi merasa ada yang aneh dengan sikap Omnya. Memang dia dulu sempat dengar dari mulut Omnya sendiri kalau pria itu sangat membenci seseorang yang telah menyebabkan kematian adiknya, yang tak lain tante Gandhi. Padahal kecelakaan tantenya saat itu murni bukan karena rekayasa.
***
Sudah satu bulan berlalu. Dan selama satu bulan juga Aya menduduki jabatan barunya sebagai CEO. Aya merupakan perempuan yang cerdas, jadi ia sama sekali tidak mengalami banyak kendala dalam pekerjaannya. Sesekali ia akan meminta bantuan sang Papa jika mengalami kesulitan, atau terkadang ia meminta bantuan sang suami. tentunya harus dibayar mahal dengan kegiatan wik wik.
__ADS_1
Akhir-akhir ini Aya dan Darren sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Apalagi sebentar lagi libur akhir tahun. Meskipun demikian, keduanya tak merasa kehilangan waktu romantisnya sebagai pasangan suami istri. Mereka sama-sama berusaha meluangkan waktu berdua di sela-sela jadwal pekerjaan dan meeting dengan beberapa klien.
Pekerjaan Aya juga banyak berhubungan dengan direktur keuangan yang tak lain adalah Naufal. Pria itu cukup humble. Dia juga bersikap ramah dan sopan pada Aya sebagai atasannya. Walau sebenarnya Aya adalah istri dari sahabatnya sendiri.
Naufal sudah tahu tentang kematia Jenifer, mantan istri Darren. Dia sungguh menyesal waktu itu sempat mengungkit masa lalu sahabatnya di depan Aya. Namun Aya sudah memaafkan, saat Naufal meminta maaf padanya.
**
Cklek
Darren memasuki ruangan Aya, karena jam pulang kantor sudah usai. Pria itu melihat sang istri masih tampak fokus dengan layar laptop di hadapannya. bahkan kedatangannya pun Aya masih belum menyadari.
“Duh, serius sekali. Sampai ada pria tampan di sini diabaikan.” Celetuk Darren yang sudah duduk di meja kerja Aya.
“Sayang? Sejak kapan kamu masuk? Maaf, aku nggak tahu.”
Aya tampak meregangkan ototnya sebentar. “Belum. Tapi ini tinggal sedikit kok. Dan aku nggaak minta bantuan kamu. Aku bisa menyelesaikan sendiri.” Jawab Aya yang sudah paham isi otak suaminya, kalau Darren membantunya pasti akan meminta imbalan. Mengingat dirinya sedang berada di kantor.
Darren tersenyum tipis mendengar jawaban Aya. Namun ia tidak menyerah begitu saja dan harus mendapatkan apa yang sejak tadi ia inginkan.
Darren turun dari meja kerja Aya. Setelah itu ia berdiri di belakang kursi Aya dengan mencoba memberi pijatan ringan pada bahu Aya.
Aya yang sudah kembali fokus dengan pekerjaannya, ia juga merasa sangat nyaman dan rileks mendapatkan pijatan dari sang suami. namun semakin lama pijatan itu membuat tubuh Aya terasa aneh. Karena kedua tangan Darren kini sudah tidak lagi berada di bahu sang istri, melainkan sudah menelusup masuk ke balik blazer Aya dan berhasil menangkap dua bongkahan besar Aya yang sangat menggemaskan.
Aya sungguh tidak menyangka kalau suaminya akan meminta jatah di saat yang menurutnya tidak tepat. Namun apalah daya, dia juga sudah terbawa arus. Apalagi ciuman Darren selalu memabukkan.
__ADS_1
Nafas Aya tersengal kala Darren melepas ciumannya sejenak. Ia meraih oksigen sebanyak-banyaknya. Aya tahu, sepertinya sang suami benar-benar meminta jatah sekarang juga.
“Pintunya apa sudah kamu kunci?” tanya Aya khawatir.
“Kamu tunggu sebentar!”
Setelah Darren mengunci pintu ruang kerja Aya dan memastikan tidak akan ada orang yang masuk, ia pun kembali menghampiri Aya yang masih duduk di kursi kerjanya.
Darren menarik tangan istrinya dan mengambil alih posisi bergantian. Darren kini yang duduk di kursi Aya, sedangkan Aya duduk di pagkuannya. Keduanya kembali bercumbu mesra dan semakin memanas.
“Sayang, aku sudah tidak tahan. Kenapa tubuhmu memabuatku candu seperti ini.” gumam Darren lalu menikmati keindahan tubuh istrinya yang ada di depan mata.
Cukup lama kedua insan yang sedang di mabuk asmara itu memadu kasih melewati masa pemanasan yang cukup membuat jantung keduanya berpacu kuat.
Hingga setelah proses pemanasan selesai, keduanya sama-sama sudah tidak ingin menunggu lama lagi untuk segera menuju lembah kenikmatan yang sesungguhnya.
Mereka berdua sama-sama menikmati permainan yang cukup mengeluarkan banyak keringat itu. Meskipun demikian, tak satu pun dari mereka yang ingin memgakhiri pergulatan sore hari itu.
Lenguhan panjang keluar dari bibir masing-masing tanda permainan panas itu selesai. Tubuh Aya terasa lemas meskipun berjuta kenikmatan baru saja ia dapatkan.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!