Batal Cerai

Batal Cerai
Ch 26. Setia


__ADS_3

“Mau pulang sama aku atau aku cium seperti tadi?”


Aya melotot tajam tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Darren. Apakah itu sebuah ancaman atau gertakan saja. namun tiba-tiba Darren mencondongkan badannya pada Aya dengan gerak tubuh seolah hendak mencium Aya di tempat ini juga.


“Ok, baiklah. Aku pulang bersama kamu.” Ucap Aya sambil mendorong dada Darren, lalu ia lebih dulu beranjak menuju mobil.


Setelah Aya masuk ke dalam mobil sambil menenteng kantong plastic berisi buah-buahnnya, Darren tersenyum tipis. Ternyata Aya akan mudah menurut dengan ancaman. Dan itu bisa ia gunakan sebagai senjata.


Darren kembali memasang wajah datarnya saat masuk ke dalam mobil. Sedangkan Aya tampak cuek dan membuang pandangannya ke luar jendela.


Dalam perjalanan, Aya memakan buah-buahan yang dibelinya tadi. bahkan ia sampai tidak menawari Darren yang jelas pria itu ikut berjasa mengantarnya.


“Ehmm!” Darren sengaja berdehem agar Aya berbasa-basi menawari buah-buahan itu.


“Kamu mau?” tanya Aya tidak yakin.


Bukannya menjawab, Darren justru meraih tangan kanan Aya yang sedang memegang sisa buah nanas, lalu memakannya langsung. Aya hampir tak percaya melihat sikap Darren seperti ini. padahal nanas itu sisa gigitannya.


“Enak. Maksih.” Ucap Darren datar lalu kembali fokus dengan kemudinya.


Aya masih memandangi Darren yang entah kenapa ia merasakan banyak sekali perubahan pada diri pria itu. termasuk ciumannya tadi. bukankah pria itu pernah bilang kalau dirinya ini bukan tipenya. Namun kenapa Darren justru yang nyosor lebih dulu mereguk kenikmatan dalam bibirnya.


Buah segar yang dibeli Aya masih sisa beberapa saja, karena saat ini Darren menghentikan mobilnya di sebuah café.


“Ayo!” ajak Darren setelah pria itu memarkirkan mobilnya.


Aya bingung. Apakah ia harus turun dan ikut masuk ke café. Apalagi pakaian yang ia kenakan saat ini hanya pakaian rumahan dengan ditutupi jaket. Dan ini bukan style Aya banget jika sedang bepergian ke café.


“Kenapa masih diam? nggak mau ikut?” tanya Darren saat melihat Aya masih diam di posisinya.


“Aku tunggu di sini saja. pakaianku gak sesuai.” Jawaban Aya seketika membuat Darren melongo. Dan sedetik kemudian pria itu tergelak. Bahkan tawa Darren itu sama sekali belum pernah Aya lihat selama menikah.


Darren menggelengkan kepalanya. Ternyata watak perempuan seperti ini. berbeda sekali dengan laki-laki. Jika mau pergi ke café ya tinggal pergi saja, nggak perlu sampai memikirkan outfit yang cocok atau apalah. Yang penting dia datang ke café bayar, nggak ngutang, ataupun nyuri. Pakaian Darren saat ini juga pakaian rumahan, dengan hanya memakai kemeja lengan pendek dan celana pendek.


Sedangkan Aya sendiri sejak tadi terpesona dengan senyum Darren yang sedang menertawakannya. Ternyata pria dingin nan kaku bisa tertawa juga. justru tawanya sangat menawan.


Puk puk

__ADS_1


Aya sampai menepuk-nepuk pipinya sendiri berharap segera sadar dan tidak terus memuji ketampanan Darren.


“Kenapa lagi dengan pipi kamu? Mau ikut nggak? Aku agak lama soalnya. Mau ketemu sama Julian.”


Aya berpikir sejenak. Rasanya juga tidak mungkin jika ia di dalam mobil sendirian. Akhirnya ia ikut dengan Darren. Tidak peduli dengan penampilannya saat ini.


Kini Aya dan Darren sudah memasuki café. Mereka berdua menujusalah satu tempat yang paling nyaman di mana Julian sudah menunggu bosnya di sana. Darren memesan minuman untuk dirinya sendiri juga untuk Aya.


Julian tersenyum sopan pada Aya, kemudian ia fokus dengan atasannya untuk membahas masalah pekerjaan yang urgent. Padahal sekarang hari libur, jadi Darren terpaksa mengajak Julian bertemu di café.


Aya memilih diam dan membiarkan kedua pria itu membicarakan pekerjaan yang tidak ia ketahui. Sebenarnya juga ia sangat bosan. Karena dia tidak membawa ponselnya saat ini.


“Sorry membuat kamu bosan.” Ucap Darren setelah selesai membahas pekerjaanya dengan Julian.


“Ehm, nggak apa-apa.”


“Sebentar lagi kita pulang. aku ke toilet sebentar.”


Aya hanya mengangguk saja setelah itu darren menuju toilet. Kini hanya ada dirinya dan Julian. Julian sendiri masih sibuk menyalin beberapa catatan hasil pembahasannya tadi dengan Darren.


Setelah selesai, Julian mengajak Aya ngobrol ringan di luar masalah pekerjaan. Mereka berdua tampak asyik dan cepat akrab. Dibandingkan Aya dengan suaminya sendiri. Julian pun memakluminya, karena memang sikap Darren seperti itu.


“Maaf, Tuan!”


“Aku harap kamu tahu batasan!” entah ucpan itu ditujukan Darren untuk Aya atau Julian. Karena setelah itu Darren langsung mengambil kunci mobilnya dan keluar begitu saja dari café dengan diikuti oleh Aya.


Selama dalam perjalanan pulang sampai ke rumah, Darren bersikap dingin seperti sedia kala. Aya sendiri juga tidak tahu dan tidak mengerti dengan sikap pria yang berstatus sebagai suaminya itu.


Sore itu setelah dari café, Darren memutuskan untuk pulang. meskipun waktu libur masih tersisa besok. Aya mau tidak mau ikut pulang. daripada tetap di rumah orang tuanya, rasanya juga tidak pantas.


Darren berpamitan pada mertuanya karena alasan pekerjaan dadakan. Mirza pun sama sekali tidak keberatan. Mengingat dirinya juga seorang pembisnis, tentunya juga tahu jika Darren ada pekerjaan sewaktu-waktu.


“Yakin badan kamu sudah enakan, Ay?” tanya Mama Devina.


“Sudah kok, Ma. Mama jangan khawatir. Aya hanya kecapekan saja.”


“Ya susah, hati-hati buat kalian. dan sampaikan salam Papa dan Mama pada Papa Vano.” Sahut Mirza.

__ADS_1


***


Sementara itu di negara yang berbeda tampak seorang pria sangat gelisah karena seharian ini tidak bisa menghubungi kekasihnya. Tidak hanya itu saja. Gandhi sangat penasaran dengan pria yang menerima panggilannya tadi. karena tidak mungkin jika adik Aya memanggil kakaknya hanya dengan sebutan nama saja.


Gandhi benar-benar frsutasi. Dia tidak bisa mencari informasi mengenai Aya saat ini. apalagi Lissa juga sudah jarang bersama Aya. Tentunya perempuan itu tidak tahu bagaimana dan dengan siapa Aya saat ini.


Di tengah-tengah rasa frustasinya memikirkan Aya, tiba-tiba terbesit rasa takut pada diri Gandhi. Bagaimana jika Aya menghianatinya.


“Tidak mungkin!” sangkalnya sambil meremat rambut.


Gandhi yakin pasti yang menerima panggilannya tadi saudara Aya. Apalagi selama dua tahun ia menjalin hubungan jarak jauh dengan Aya, perempuan itu terbukti setia padanya.


Ting


Gandhi bergegas mengambil ponselnya saat terdengar suara notif pesan masuk. Bibirnya mengulas senyum saat melihat siapa pengirim pesan itu. tak lain adalah Aya.


Gandhi tidak membalas pesan Aya. Dia segera melakukan panggilan video pada kekasihnya itu untuk memastikan kalau keadaan Aya baik-baik saja.


“Sayang, apa kamu sudah baikan? Kamu sakit apa? Aku benar-benar khawatir.”


“Aku baik-baik saja. hanya kelelahan saja dan butuh istirahat. Maaf tadi ponselku kehabisan daya.” Jawab Aya dengan berusaha tenang.


“Syukurlah. Lalu siapa pria yang menerima panggilanku tadi?”


“Oh, itu tadi kakak sepupuku yang kebetulan main di rumah. maafkan aku.” jawab Aya bohong.


Gandhi pun sangat bersyukur karena apa yang dia pikirkan tadi tidak terbukti. Aya memang perempuan setia dan patut dipertahankan. Tak lama kemudian Gandhi mendengar suara pintu terbuka dari balik sambungan teleponnya. Lalu sekelebat ia melihat bayangan seorang pria yang masuk ke dalam kamar Aya.


“Sayang, siapa dia?”


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2