
Setelah resmi menjadi istri Darren, Aya mulai bekerja di perusahaan Papanya. Karena memang itu sudah menjadi keputusan Aya setelah lulus kuliah, baru ia akan bekerja aktif. Bahkan Papa Mirza langsung menempatkan Aya di posisi direktur keuangan. Pasalnya karyawan sebelumnya usdah resign beberapa minggu yang lalu. Jadi posisi itu digantikan oleh Aya.
Keseharian Aya kalau berangkat ke kantor selalu diantar jemput oleh Darren. Sebenarnya Aya ingin membawa mobilnya sendiri. Namun Papa Vano melarangnya. Kecuali kalau Darren sedang ke luar kota.
Tanpa terasa sudah satu minggu Aya menjalani hidup berumah tangga dengan Darren. Mereka bekerja sama dengan baik untuk terlihat baik-baik saja di hadapan semua orang. Kalau sudah berdua di dalam kamar, keduanya seperti orang yang tidak saling kenal.
Seperti pagi ini. Aya bangun pagi sekali karena akan ada meeting bersama Papanya. Dia langsung masuk ke kamar mandi, mengabaikan Darren yang masih pulas daalam tidurnya.
Kalau ada yang penasaran, bagaimana selama semiggu ini sepasang pengantin baru itu melewatkan malamnya? Tentu saja tidak terjadi apa-apa. Ukuran ranjang Darren yang begitu luas membuat keduanya tidur sama-sama menepi. Dan selama seminggu ini juga tidak ada kejadian aneh apapaun, misalnya kedua insan itu terbangun dalam keadaan saling memeluk. Justru Darren yang pernah terjatuh dari ranjang karena sugestinya sebelum tidur tidak boleh terjadi apapaun diantara dirinya dan Aya. Hingga ia selalu berusaha menepi dan berujung jatuh ke lantai. Untung saja saat itu Aya tidak tahu.
Setelah selesai mandi, Aya langsung mengambil setelan kerjanya dan masuk ke ruang ganti. Selesai ganti pakaian, Aya masih melihat Darren tidur. Padahal jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Itu artinya ia nanti bisa berangkat sendiri menggunakan mobilnya.
Aya segera turun. Dan menuju ruang makan untuk membuat sandwich dan dibawa ke kantor saja, karena kalau sepagi ini dia masih enggan untuk sarapan.
“Kok sudah rapi, Aya?” tiba-tiba suara Papa Vano mengagetkan Aya yang sedang sibuk membuat sandwich.
“Eh, pagi Pa! Iya, Aya berangkat pagi karena ada meeting.” Jawab Aya dan kembali sibuk.
Papa Vano hanya mengangguk, lalu duduk di salah satu kursi sambil mengamati Aya.setelah itu Papa Vano mencari keberadaan Darren yang tidak ada di ruang makan.
“Darren kemana? Kalau kamu berangkat pagi, harusnya dia sudah standby.” Tanya Papa Vano.
“Darren masih ti,-“
“Iya, Pa. ini Darren juga sudah siap.” Sahut Darren yang tiba-tiba sudah muncul di ruang makan.
__ADS_1
Bagaiman Aya tidak terkejut melihat suaminya sudah tampak rapi masuk ke ruang makan. Padahal beberapa menit yang lalu pria itu masih nyenyak. Apa mungkin Darren tidak mandi, dan hanya cuci muka lalu berganti baju. Namun sayangnya Aya enggan bertanya. Lagi pula itu tidak penting.
Darren hanya meminum secangkir kopi yang tersedia di atas meja. Pria itu juga masih malas sarapan. Mungkin nanti agak siangan dikit kalau selesai meeting di kantor Papa Mirza.
Ya, Darren juga ikut meeting di sana bersama Aya. Jelas Aya tidak tahu kalau suaminya juga ikut dalam meeting yang membahas kerjasama antar dua perusahaan itu. sedangkan Aya yang menjadi direktur keuangan harusnya tidak perlu ikut meeting. Hanya saja Papanya sendiri yang meminta. Apalagi Aya pernah terjun langsung pada kerjasama perusahaan Papanya dan Darren.
Kini Aya sudah selesai membuat sandwich, lalu memasukkannya ke dalam box bekalnya. Begitu juga dengan Darren yang sudah selesai meminum kopinya langsung berdiri dan siap berangkat.
“Aya berangkat dulu, Pa!” pamit Aya mencium punggung tangan Vano.
Melihat Aya bersikap sopan pada Papanya membuat hati Darren menghangat. Apalagi sudah seminggu ini berinteraksi dengan Aya, walau terkesan dingin, namun ia bisa menilai kalau Aya adalah perempuan yang baik dan sopan terhadap orang tua. Namun sayangnya perempuan itu tidak mencintainya. Begitu juga dirinya sendiri.
Darren hanya mengangguk saja pada Papanya setelah Aya lebih dulu keluar dari ruang makan. Tuan Vano pun hanya tersenyum. Pria itu sangat yakin kalau Aya memang istri yang terbaik buat Darren, dan pasti akan membawa banyak perubahan pada anaknya.
**
Keduanya sama-sama diam dalam perjalanan. Aya bahkan tidak menyadari kalau mobil Darren masuk ke dalam basement. Biasanya pria itu hanya mengantarnya sampai depan saja.
“Kenapa kamu ikut ke sini?” tanya Aya sinis.
“Aku ada meeting dengan Tuan Mirza.” Jawab Darren.
Aya terkejut. Itu artinya pagi ini ia akan meeting dengan suaminya juga. kenapa Aya sangat kesal mendengarnya. Kenapa Darren tidak bilang apapun padanya. Akhirnya Aya keluar mobil dengan muka ditekuk. Mereka berjalan beriringan menuju ruang meeting. Namun sebelumnya Aya masuk dulu ke ruang kerjanya.
“Selamat pagi Tuan Darren! Mari saya antar ke ruang meeting!” sapa Via, sekretaris Mirza yang sudah menyambut kedatangan Darren.
__ADS_1
Darren hanya mengangguk sopan pada Via dengan senyum tipis di bibirnya. Aya terkejut melihatnya. Biasanya Darren tidak pernah bersikap manis seperti itu pada semua orang. Apa karena yang menyapanya adalah wanita cantik.
Aya yang hendak masuk ke ruang kerjanya ia urungnya. Dia mengikuti Darren masuk ke ruang meeting bersama Via. Entah kenapa dia tidak suka melihat Via yang sejak tadi memandang Darren dengan tatapan berbeda.
“Terima kasih, Via! Biar suamiku bersama aku saja. kamu bisa melanjutkan pekerjaan kamu, atau bilang pada Papa kalau Tuan Darren sudah datang.” ucap Aya lalu meraih lengan Darren, menggandengnya masuk ke ruang meeting.
Darren menurut saja walau ia sangat bingung dengan sikap Aya pagi ini. bahkan sampai ruang meeting pun Aya masih belum melepas gandengan tangannya. hingga beberapa orang yang sudah hadir di sana tampak tersenyum dan ada yang menggodanya sebagai pasangan pengantin baru yang romantis.
Barulah Aya sadar dan segera melepas gendengan tangannya dengan Darren. Wajahnya memerah malu dan sedikit canggung saat melihat Darren juga tengah menatapnya.
Tak lama kemudian Mirza datang dan meeting pun dimulai. Semua orang tampak fokus dengan meeting pagi ini. tapi tidak dengan Aya dan Darren. Jika Aya masih malu atas sikapnya pada Darren baru saja, sedangkan Darren merasa ada yang aneh dengan hatinya saat Aya menggandengnya tadi. dia juga tidak marah, atupun menolak.
Meeting itu selesai dan berjalan lancar. Satu per satu orang meninggalkan ruangan. Begitu juga dengan Mirza yang lebih dulu keluar karena ada panggilan dari seseorang. Kini tinggal Aya dan Darren yang masih di sana. Namun tak lama kemudian Darren segera beranjak pergi ke kantornya sendiri.
“Tunggu!” Darren menghentikan langkahnya saat Aya memanggilnya.
“Makanlah dulu! Bukankah kamu tadi belum sarapan?” ujar Aya sambil mengeluarkan kotak bekal berisi sandwich.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!