Batal Cerai

Batal Cerai
Ch 24. Menjengkelkan


__ADS_3

Setelah minum obat penurun panas, Aya bisa tidur dengan nyenyak. Walau ia masih memeluk lengan Darren yang sejak tadi berada di sampingnya. Darren pun tidak bisa pergi kemana-mana. Ternyata benar apa yang dikatakan Mama Devina tadi. Aya kalau sakit rewelnya kayak bayi.


Hingga siang menjelang, Darren masih tetap berada di posisinya. Sedangkan Aya yang sedang tidur, demamnya sudah turun. Terbukti dari keringat yang membasahi tubuhnya.


Dalam posisi yang sangat dekat seperti membuat Darren memiliki banyak kesempatan untuk melihat dengan intens wajah Aya. Wajah istri sementaranya.


Meskipun wajah Aya terlihat pucat, Darren akui kalau Aya sangat cantik. Pria mana pun yang melihatnya dipastikan akan jatuh hati pada sosok Aya. Dan beruntunglah pria yang menjadi kekasih Aya saat ini. sudah perhatian, sopan terhadap orang tua, dan tidak neko-neko meskipun anak orang kaya.


Darren terdiam sejenak. Bicara tentang kekasih Aya yang beruntung mendapatkan Aya, tapi justru kekasihnya itu yang tidak bersyukur. Darren jadi kasihan pada Aya yang selama ini dibohongi oleh Gandhi. Entahlah, kenapa hati Darren tidak terima melihat perlakuan Gandhi pada Aya. Ada rasa tidak rela jika nanti Aya mengakhiri pernikahan ini hanya demi memilih pria seperti Gandhi. Mungkin jika pria yang menjadi kekasih Aya lebih baik dari dirinya, Darren akan dengan ikhlas melepas Aya.


“Apa aku harus menunjukkan pada Aya tentang siapa Gandhi sebenarnya?” gumam Darren sambil mengingat amanat Papa mertuanya semalam.


Darren benar-benar dilemma. Kalaupun ia mengatakan siapa Gandhi pada Aya, lantas apa yang akan terjadi. Yang ada Aya jusstru semakin membencinya. Dan Darren tidak ingin itu terjadi. Meskipun nantinya pernikahan ini tidak bertahan lama, setidaknya hubungan mereka termasuk kedua orang tuanya masih baik-baik saja.


Ngghhhh….


Tiba-tiba Darren melihat pergerakan Aya yang mulai bangun dari tidurnya. Ia segera pura-pura tidur, biar Aya tidak canggung saat melihat posisinya sekarang.


Benar saja, saat mata Aya baru terbuka, ia melihat ada sosok pria ikut berbaring di sampingnya. Dan yang memalukan lagi, ia memeluk lengan pria itu yang tak lain adalah suaminya.


Aya melepas pelukannya dan sedikit memberi jarak pada Darren. Kepalanya masih sedikit pusing namun tidak ia pedulikan. Sebaiknya ia segera bangun, sebelum Darren mengetahui posisinya sekarang. tapi tunggu dulu! Aya baru sadar kalau sekarang sedang berada di kamarnya sendiri. Semalam Darren tidur di sofa. Lalu kenapa pria itu kini ikut berbaring di ranjang bersamanya. Apakah Darren memanfaatkan keadaannya yang tengah sakit.


Tok tok tok


Di tengah lamunannya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Aya yang masih merasa pusing hanya menyuruh orang itu masuk saja.


“Apa sudah baikan, Ay?” tanya Mama Devina yang datang dengan membawa segelas susu hangat untuk Aya.


“Sudah, Ma. Agak pusing sedikit.” Jawab Aya.

__ADS_1


Tak lama kemudian Darren bangun dari tidur pura-puranya, karena mendengar suara Mama Devina. Dia segera beranjak dari tempat tidur, dna tersenyum ramah pada Mama Devina.


“Sudah waktunya makan siang, Ren. Ayo makan dulu! Papa dan Ansel sudah di meja makan.”


“Iya, Ma. Setelah ini Darren turun.”


Darren beranjak menuju sofa untuk mengambil ponselnya. Sementara Mama Devina keluar dari kamar setelah memberikan susu hangat untuk Aya, dan meminta Aya ikut turun sekalian.


Darren membalas pesan dari dari asistennya, setelah itu ia masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka. Bahkan sikapnya pada Aya terlihat datar seperti biasanya. Dan hal itu membuat Aya sangat kesal. Padahal ia hendak bertanya pada pria itu.


Setelah Darren keluar dari kamar mandi, kini giliran Aya. Dia merasa badannya sangat lengket, dan ingin mandi. namun tiba-tiba saja badannya terhuyung hendak jatuh. Andai Darren tidak sigap menangkapnya, sudah bisa dipastikan kalau ia akan jatuh ke lantai.


Tanpa mengucapkan sesuatu, Darren memapah Aya masuk ke kamar mandi. dalam benaknya Aya ke kamar mandi ingin mencuci mukanya sebelum makan siang di bawah. Namun sesampainya di depan pintu kamar mandi, Aya menghentikan langkahnya.


“Aku bisa sendiri.” Ucapnya dengan suara lemah.


Darren tidak peduli. Ia tetap mengantar Aya masuk.


Darren menurut dengan ucapan Aya. Pria itu segera keluar dari kamar mandi dan membiarkan Aya berbuat semaunya. Aya tetap kesal melihat sikap Darren yang selalu datar seperti itu.


Aya tidak jadi mandi. ia hanya mencuci mukanya saja, karena badannya masih terasa lemah. Lebih baik setelah ini rebahan lagi, dan meminta Bibi membawakan makanannya ke kamar.


Setelah keluar dari kamar mandi Aya tidak melihat Darren di sana. Tapi dia tidak peduli.


“Menyebalkan sekali! Untung saja pernikahan ini hanya sementara. Apa jadinya jika mempunyai seperti dia? Mana ada wanita yang betah.” Gerutu Aya.


Cklek


Baru saja Aya mengumpati Darren, tiba-tiba pria itu muncul begitu saja dengan membawa nampan berisi makanan lengkap.

__ADS_1


“Makanlah!” ucap Darren mengambil piring berisi makanan legkap dengan lauknya dan diberikan pada Aya.


Aya sendiri kesusahan menelan ludahnya saat melihat perhatian Darren. Belum hilang rasa kesalnya terhadap pria dingin itu, kini hatinya seolah dibuat menghangat seketika dengan kepedulian Darren.


“Kamu bisa makan sendiri kan? Atau minta disuapin lagi?” tanya Darren karena Aya tak juga menerima piring itu.


“Ehm, Bisa. Makasih.” Jawab Aya segera mengambil piring berisi makanan itu.


Setelah itu Darren duduk di sofa tak jauh dari Aya. Dia sengaja menunggu Aya menyelesaikan makannya. Sedangkan ia sendiri belum makan, dan memilih makan setelah ini.


Darren pura-pura sibuk dengan ponselnya agar Aya tidak canggung saat sedang makan. Namun Aya sendiri terlihat hanya makan sedikit saja, karena mulutnya masih terasa pahit dan selera makannya sedikit berkurang.


Aya mencerna ucapan Darren baru saja. “Bisa makan sendiri, atau mau disuapin lagi?”. apa itu artinya Darren tadi menyuapinya. Karena Aya benar-benar lupa saat sedang demam tinggi tadi pagi. biar nanti ia tanya pada Mamanya saja daripada bertanya langsung pada Darren yang akan membuat pria itu besar kepala.


Aya hanya makan sedikit. Setelah itu ia meletakkan piringanya di atas meja. Namun dengan cepat Darren mengambil piring itu agar Aya tidak sampai berdiri. Dia khawatir jika Aya terjatuh lagi seperti tadi.


“Ini masih banyak. Kenapa tidak dihabiskan? Kamu masih betah sakit? Merepotkan saja.” ucapnya dingin sambil duduk di bibir ranjang tepat di hadapan Aya.


Jujur Aya ingin sekali memaki pria di hadapannya ini. niat perhatian apa tidak sih. Kalau ujung-ujungnya tetap menjengkelkan.


“Aku nggak minta perhatian kamu. Kalau kamu merasa repot, aku tidak masalah. Kamu bisa pergi sekar,-hhmmp….”


Darren tiba-tiba membungkam bibir Aya dengan bibirnya. alhasil perempuan itu tidak bisa melanjutkan perkataannya. Namun yang ada membuat jantung Aya berdegup tak beraturan.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2