
Darren tidak peduli dengan posisinya yang sedikit membungkuk, padahal tangannya sedang memegang piring yang masih ada makannya. Semua itu karena dia benar-benar sangat menikmati bibir manis Aya. Ya, bahkan dengan berani Darren menyapukan lidahnya pada bibir Aya. Sedangkan Aya sendiri tampak diam, tidak membalas ciuman itu. entah karena masih terkejut atau merasa kalau saat ini dia sedang bermimpi.
Darren yang mulai merasakan candu pada bibir Aya, ia berusaha memberi gigitan kecil pada bibir Aya, agar perempuan itu mau membuka mulutnya, sehingga ia bisa mengeksplor lebih dalam lagi. namun sayangnya Aya lebih cepat sadar setelah merasakan lidah Darren mulai menerobos masuk ke dalam mulutnya. Aya merasa sangat tidak nyaman. Apalagi dia baru saja makan. Eh, apa itu artinya jika ia tidak habis makan, ia akan membalas dan membiarkan Darren mencumbunya?
Nafas Aya tersengal setelah mendorong dada Darren. Bahkan makanan yang Darren bawa sejak tadi tumpah begitu saja mengenai baju pria itu.
“Maaf!”
“Maaf!”
Ucapnya bersamaan. Keduanya sama-sama canggung setelah kejadian beberapa saat yang lalu. Aya segera membersihkan tumpahan nasi pada baju Darren dengan menggunakan tisu. Namun dengan cepat Darren memegang tangan Aya untuk tidak melakukan itu.
“Nggak apa-apa. Biar aku bersihkan sendiri.” Ucap Darren.
Darren mengambil tisu dan membersihkan tumpahan nasi itu dengan cepat. Setelah itu ia membawanya keluar. Membiarkan Aya sendiri di dalam kamar dengan jantung yang masih berdegup.
Selepas kepergian Darren, Aya memegangi bibirnya. masih ada sisa saliva bekas ciumannya dengan Darren. Aya masih dibuat tidak percaya dengan apa yang terjadi baru saja. jujur saja, ia sempat terbuai dengan ciuman itu.
**
Darren yang kini sudah turun, pria itu makan siang sendirian di ruang makan. Sedangkan penghuni rumah yang lainnya sedang bersantai di ruang tengah.
Darren senyum-senyum sendiri saat mengingat kejadian baru saja. kenapa ia ingin mengulaginya lagi? mengingat dulu saat mencium Aya, Darren tidak merasakan seperti ini. jelas saja, karena waktu itu bibirnya hanya menempel. Tidak bergerak seperti tadi.
Cukup lama Darren menghabiskan makan siangnya. Mungkin sambil melamun membayangkan ciumannya dengan Aya tadi. dan saat selesai, di hendak masuk ke kamar lagi untuk melihat keadaan Aya, ternyata istrinya itu sudah turun dan bergabung dengan orang tuanya. Akhirnya Darren ikut bergabung di sana.
Darren duduk di sofa tunggal. Sedangkan Aya bersama Mamanya. Mirza sendiri tampak fokus dengan majalah yang sedang dipegang.
“Gimana, Ren menghadapi anak Mama yang satu ini kalau sedang sakit?” tanya Mama Devina.
“Apaan sih, Ma?” gerutu Aya tanpa berani menatap Darren.
__ADS_1
“Nggak apa-apa, Ma. Darren tidak keberatan kok.” Jawab pria itu cukup sopan.
“Tuh, dengerin Ay! Seharian suami kamu tidak keluar kamar sama sekali demi menemani kamu yang sedang sakit. Sudah gitu kamu kayak perangko lagi. nempel terus pada Darren dan tidak mau ditinggal.” Ujar Mama Devina membuat Aya terkejut.
“Kalau bisa dihilangin lah, Aya kebiasaan kamu ini. bagaimana nanti kalau sudah punya anak dan kamu sakit. Bisa-bisa suami kamu yang kerepotan.” Sahut Papa Mirza setelah meletakkan majalahnya di atas meja.
“Darren nggak keberatan kok, Pa. justru sangat senang. Karena dengan begitu Darren merasa dihargai dan dianggap sebagai suami.” jawab Darren dengan sopan dan sedikit menyindir Aya.
Aya yang merasa tersindir, dia langsung berdiri meninggalkan ruang tengah. Dia menuju dapur untuk mencari sesuatu. Sedangkan Mama Devina dan Papa Mirza hanya menggelengkan kepalanya saat melihat sikap Aya.
“Kamu harus mempunyai stok sabar yang banyak, Ren untuk menghadapi Aya.” Ucap Papa Mirza.
Setelah itu Papa Mirza dan Mama Devina beranjak dari ruang tengah. Mereka berdua ingin beristirahat sejenak. Sedangkan Darren masih berada di tempatnya sambil menunggu Aya yang sejak tadi di dapur tak kunjung kembali.
Aya di dapur sejak tadi berada di depan kulkas untuk mencari buah segar. Namun sepertinya stok buah-buahannya sedang habis. Pembantunya juga pasti sedang istirahat, dan tidak mungkin ia meminta untuk membelikannya buah sekarang juga.
Aya keluar dari dapur. Dia melihat suaminya masih ada di sana. Lalu Aya melewatinya begitu saja dan mencari keberadaan adiknya.
“Kemana sih Ansel siang-siang gini tidak ada di rumah?” gumamnya kembali melewati Darren yang masih duduk di ruang tengah.
“Ada yang kamu inginkan?” tanya Darren tiba-tiba sudah berdiri di belakang Aya.
“Nggak usah. Aku nggak mau merepotkan orang lain.” Jawab Aya, lalu beranjak naik ke lantai dua untuk mengambil ponselnya.
Darren mengikuti istrinya. Setelah sampai kamar, dia melihat Aya mengambil ponselnya yang sejak tadi pagi tidak aktif, tapi Aya tidak mengetahuinya. Dan Darren tidak ingin Aya mengaktifkan ponselnya, hingga perempuan itu kembali berhubungan dengan Gandhi yang pastinya sejak tadi mengkhawatirkan istrinya.
“Aku nggak repot. Barangkali kamu mau keluar beli sesuatu? Sekalian aku juga mau keluar.” Ucap Darren sebelum Aya melihat ponselnya.
Aya berpikir sejenak. Daripada memesan buah segar melalui aplikasi online, yang datang mungkin sudah tidak segar lagi. padahal kalau di rumah ada, pasti dijamin buahnya sangat fresh dan dingin pula. akhirnya Aya pun tidak menyia-nyiakan tawaran Darren.
“Baiklah.” Jawab Aya lalu mengambil jaket.
__ADS_1
**
Kini Aya dan Darren sudah keluar rumah. Darren mengemudikan mobilnya menuju stand penjual buah segar sesuai instruksi Aya. Dimana penjual itu ada di pasar tradisional yang menurut Darren sangat tidak higienis.
Setelah mobil Darren berhenti, Aya segera keluar. Namun tiba-tiba Darren mencekal tangan Aya.
“Beli di mana? Biar aku yang beliin. Kamu tunggu di sini saja.” tanya Darren.
“Itu!” Aya menunjuk sebuah gerobak berisi macam-macam buah kupas.
Memang stand buah itu berada di pasar. Namun Aya sering membeli di tempat ini. lagian tempatnya juga bersih dan buahnya terjamin higienis. Apalagi Mamanya juga berlangganan di sini jika kebetulan ingin membeli buah kupas.
“Beli yang lain saja. kita ke supermarket. Di sana sangat banyak.” Ujar Darren dan menyalakan mesin mobilnya.
“Kamu saja yang pergi ke supermarket. Aku bisa beli sendiri dan pulangnya nanti naik ojol saja.” ucap Aya dengan kesal, lalu keluar begitu saja dari mobil Darren.
Darren mau tidak mau ikut keluar menyusul Aya menuju penjual buah itu. Aya sendiri tidak peduli dengan keberadaan Darren yang saat ini mengikutinya. Bahkan Darren yang membayar semua buah yang dibeli Aya.
Setelah membawa beberapa kantong plastic buah-buahan, Aya pergi begitu saja mengabaiakn Darren. Mungkin Aya hendak mencari tukang ojek untuk mengantarnya pulang.
“Aya, kamu mau kemana? Ayo pulang!” ujar Darren menarik tangan istrinya.
“Kamu pulang sendiri sana!” sahut Aya kesal.
“Mau pulang sama aku atau aku cium seperti tadi?”
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!