
Sebenarnya Darren mengundang Gandhi di acara pesta ulang tahun istrinya semalam. Namun karena ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan, akhirnya Gandhi tidak bisa datang. dan baru bisa datang hari ini. itu pun info dari Julian kalau Darren dan Aya masih berada di hotel.
“Semoga pernikahan kalian bahagia dan selalu langgeng sampai nanti. dan selamat buat kehamilan kamu juga, Ay.” Ucap Gandhi dengan tulus.
Lagi-lagi Aya hanya mengucapkan terima kasih.
“Oh ya, satu lagi. aku juga ingin meminta maaf atas perbuatan Om Very pada kalian. khususnya kamu, Ren. Memang kesalahan Om Very pada kalian sangat fatal. Padahal berawal dari kesalah pahaman yang berujung pada balas dendam. Aku tidak meminta kalian untuk mengasihi Om Very karena keadaannya sekarang. Hanya saja aku ingin kelian berdua memaafkan kesalahannya. Aku jamin, tidak akan ada kejadian seperti waktu itu lagi.”
Very memang masih hidup setelah mendapat beberapa pukulan dari Papa Mirza waktu itu. hanya saja Gandhi tidak ingin menceritakan dengan detail keadaan Omnya yang sangat memprihatinkan. Dia hanya ingin meminta maaf pada Darren dan Aya, agar suatu saat jika Omnya meninggal, pria itu bisa pergi dengan tenang.
Darren tampak melirik istrinya. Aya memberi jawaban dengan anggukan kepala. Lagi pula semua masalah itu sudah berlalu. Kalau pun Very saat ini sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, itu semua adalah hukuman yang dia terima. Darren tidak berhak memberikan hukuman lagi.
“Iya. aku dan istriku sudah memaafkannya.” Jawab Darren.
“Terima kasih. Ya sudah kalau begitu aku pamit dulu. masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan.” Pungkas Gandhi sebelum pergi.
“Silakan! Semoga kamu segera menemukan belahan jiwa kamu, Gan!” pesan Darren. Gandhi hanya tersenyum.
***
Kini Aya dan Darren menjalani kehidupannya dengan bahagia. Rencana baby moon mereka akan terealisasi setelah usia kandungan Aya memasuki usia empat bulan, yaitu sekitar satu minggu lagi.
Keseharian Aya dan Darren juga masih bekerja di perusahaan masing-masing. Karena mereka berdua juga sama-sama memiliki jabatan penting di perusahaan. Namun untuk Aya, dia tidak terlalu memforsir tenaganya. Karena ada nyawa yang harus ia jaga di dalam kandungannya.
__ADS_1
Pagi ini Aya sedang mempersiapkan sarapan untuk suaminya. hampir setiap pagi Aya selalu masak untuk suaminya. karena itu memang permintaan dari Darren sendiri. Katanya dia kurang bersemangat kerja kalau tidak sarapan dengan menu hasil masakan istrinya. Aya pun sangat senang dan sama sekali tidak keberatan.
“Sayang, nanti sore sepertinya aku pulang agak terlambat. Karena ada meeting di luar. Nanti kamu pulangnya dijemput sopir saja, ya?” ucap Darren saat pria itu baru saja memasuki ruang makan.
“Iya. tapi nggak perlu dijemput sopir. Aku mau pulang ikut Papa saja. nanti kalau kamu selesai meeting, jemput aku ya? Aku kangen sekali dengan masakan Mama.”
“O ya sudah kalau begitu.”
Memang akhir-akhir ini Aya ingin sekali makan masakan Mamanya. Sudah lama juga ia tidak berkunjung ke rumah orang tuanya. Alasannya adalah karena pekerjaan.
Setelah menyelesaikan sarapannya, sepasang suami istri itu segera pergi ke kantor. Darren lebih dulu mengantar istrinya. Pria itu selalu siap sedia demi sang istri tercinta. Kalau pun ada pekerjaan penting, Darren pasti meminta sopir untuk menjemput atau mengantar Aya. Seperti nanti sore.
Kini Darren sudah tiba di depan perusahaan milik mertuanya. Aya mencium punggung tangan suaminya sebelum keluar dari mobil. Tak lupa Darren membalasnya dengan kecupan singkat pada kening istrinya, lalu turun ke perut Aya.
“Sehat-sehat ya, Sayang! Papa menyayangi kalian berdua.” Ucap Darren dengan tulus.
Menyesal. Tentu saja rasa itu masih ada. Yaitu menyesal karena pernah dibohongi oleh sosok mantan istrinya. Wanita yang ia cintai mati-matian. Namun Darren juga bersyukur. Dengan kematian Jenifer, hatinya bisa terbuka dan mengetahui siapa sebenarnya sosok Jenifer.
**
Seperti yang dikatakan oleh Darren pada Aya tadi pagi, sore ini, lebih tepatnya saat usai jam kantor, Darren dan Julian ada meeting dengan klien barunya di sebuah restoran.
Darren dan Julian sudah tiba di lokasi. Mereka berdua segera menuju ruangan vvip yang sudah dipesan sebelumnya. Namun sayangnya di sana belum ada siapa-siapa.
__ADS_1
“Bukankah kita yang datangnya terlanbat, Jul? kenapa klien kita juga belum datang?” tanya Darren pada asistennya sambil melihat jam tangannya.
“Ini baru saja ada pesan dari asisten Tuan Tristan kalau mereka akan datang sedikit terlambat, Tuan.” Jawab Julian sambil mengecek ponselnya.
Darren hanya berdecak. Padahal dia sudah merasa bersalah karena datang terlambat. Ternyata kliennya lah yang lebih terlambat.
“Bagaimana bisa menjalin kerjasama, jika tidak bisa datang tepat wak,-“
“Selamat sore!” sapa seorang pria yang baru saja memasuki ruangan vvip itu.
Darren dan Julian menyambut kedatangan kliennya bersama asistennya itu. mereka berdua juga membalas sapaan dari pria yang sepertinya asisten kliennya.
Mata Darren membulat saat melihat seorang pria dengan tatapan datar sedang berjalan ke arahnya. Pria yang pernah ia temui secara tidak sengaja dan di saat waktu yang tidak tepat pula. padahal saat itu Darren berharap tidak bertemu lagi dengan pria itu setelah aksi tak senonohnya bersama istrinya di dalam lift kepergok oleh orang lain. Ternyata orang itu kini menjadi kliennya.
“Selamat sore, Tuan Tristan!” sapa Darren sambil mengulurkan tangannya.
“Sore!” jawab pria itu dengan tatapan yang masih sama seperti saat pertama bertemu dulu.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!