Batal Cerai

Batal Cerai
Ch 73. Lebih Agresif


__ADS_3

Aya tersenyum geli melihat tingkah aneh suaminya. tapi ia tidak akan putus asa. Biarlah jika ia yang harus lebih agresif. Tidak ada salahnya juga, karena status mereka suami istri. Atau bisa dilakukan sekarang.


Aya melihat Darren masuk ke kamar mandi. dia yakin kalau suaminya itu sedang mandi. lalu Aya menyiapkan baju ganti untuk suaminya, sekalian menunggunya. Karena dia juga belum mandi.


Sambil menunggu Darren keluar dari kamar mandi, Aya mengusap perutnya yang masih rata. Hari ini dia sama sekali tidak merasakan mual. Mungkin karena calon buah hatinya itu sangat nyaman berada dekat Papanya. Aya juga berharap morning sickness nya tidak separah hari-hari yang lalu.


Cklek


Darren keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk saja. karena tadi dia langsung masuk tanpa membawa baju gantinya sekalian. Darren mendadak canggung dengan penampilannya saat ini, terlebih ada Aya yang masih berada di kamar.


“Kenapa kamu terus melihatku?” tanya Darren salah tingkah.


Aya mendekati suaminya dengan membawa baju ganti Darren yang sudah ia siapkan tadi.


“Ini baju ganti kamu. Apa perlu aku bantu pakai?” tanya Aya dengan raut wajah biasa-biasa saja.


“Kamu jangan macam-macam ya, Aya? Jangan memanfaatkan kesempatan ini.” tolak Darren dengan wajah semakin memerah.


“Ya sudah, aku nggak maksa kok. Padahal dulu kamu biasa saja tanpa busana di hadapanku. Begitu juga aku.”


Darren memelototkan matanya. dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Aya. Walau wanita itu megatakan kalau Aya hamil karena dirinya. Dan apa yang dikatakan oleh Aya baru saja harusnya benar. Tapi kenapa ia masih belum percaya sepenuhnya.


Aya melewati Darren yang masih melamun begitu saja. dia masuk ke kamar mandi. namun tiba-tiba saja ia merasa ada yang mencekal lengannya, dan menariknya pelan ke dalam pelukannya.


Ahhhh…


Aya sampai memekik saat tubuhnya berada dalam pelukan Darren yang masih menggunakan handuk. Mereka berdua saling menatap dalam dengan degupan jantung yang tak beraturan. Jika Aya tadi sengaja menggoda Darren, tapi kenapa sekarang ia yang gugup sendiri. Apalagi tatapan tajam mata Darren membuatnya tidak bisa berpikir jernih.


“Benarkah kita dulu sudah terbiasa tanpa busana seperti yang kamu katakan tadi?” tanya Darren dengan tatapan yang tak lepas dari mata Aya.

__ADS_1


“I…iya. ben..nar.” jawab Aya dengan gugup.


Darren semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh Aya. Dia juga merasa aneh dengan rekasi tubuhnya saat berdekatan dengan Aya. Ada semacam rasa candu, namun dia tidak tahu harus melakukan apa. Apa dia melakukan seperti yang dilakukan Aya tadi? mencium bibir wanita itu.


Dan ternyata benar. Darren tiba-tiba saja mendaratkan bibirnya pada bibir Aya. Hingga membuat Aya seketika nge’blank. Namun ia mencoba tetap tenang dan membiarkan apa yang akan dilakukan oleh suaminya selanjutnya.


Bibir Darren masih diam dan belum bergerak ataupun mulai membelitkan lidahnya. Sekilas bayangan memang ada. Dia merasa pernah dalam posisi seperti ini. namun setelah itu dia merasa kepalanya berdenyut, hingga akhirnya ciuman itu terlepas begitu saja.


“Kamu kenapa, Ren?” tanya Aya khawatir saat melihat Darren memegangi kepalanya.


Darren memilih duduk di atas ranjang. Nafasnya tersengal dengan kepala yang masih berdenyut. Aya pun mengurungkan niatnya untuk mandi.


“Minumlah dulu! maafkan aku karena telah membuatmu seperti ini!” Sesal Aya.


“Terima kasih. Kamu tidak salah. Aku tadi hanya berusaha mengingat masa laluku, tapi kepalaku langsung berdenyut.”


“Ya sudah, kamu mandilah dulu!”


Setelah Aya masuk ke kamar mandi, Darren memakai bajunya. Lalu ia merebahkan tubuhnya sejenak berharap rasa pusing itu segera hilang.


***


Seperti janji Aya pada Darren kemarin, hari ini ia membawa suaminya ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaannya. Sebelumnya Aya sudah mendapat rekomendasi dokter yang akan membantu proses penyembuhan suaminya.


Hasil pemeriksaan Darren sama sekali tidak menunjukkan gejala buruk. Memang seperti itu efeknya jika Darren berusaha mengingat masa lalunya. Dokter menyarankan agar pasien tidak terlalu memaksakan kehendaknya untuk mengingat masa lalunya itu.


Usai dari rumah sakit, mereka berdua langsung pulang. karena kebetulan Aya meminta Julian datang ke rumah. sebelumnya ia sudah memberitahu pada Julian tentang keadaan suaminya. jadi ia berharap Julian nantinya bisa membantunya.


*

__ADS_1


“Apa kabar anda, Tuan?” tanya Julian saat Darren dan Aya sudah sampai rumah.


“Baik. Maaf, saya tidak bisa mengingat siapa anda.” ucap Darren.


“Dia asisten pribadi kamu. Kamu adalah seorang Ceo. Jadi selama ini yang menangani perusahaan kamu adalah Julian.” Sahut Aya memberitahu.


Aya mempersilakan Julian masuk. Dia membisikkan sesuatu pada Julian agar mengajak ngobrol Darren tanpa harus memaksa untuk mengingat masa lalunya. Atau dengan membahas pekerjaan, bisa membuat Darren ingat sesuatu.


“Aku tinggal dulu, ya?” pamit Aya.


“Anda baik-baik saja, Nona Aya?” tanya Julian saat melihat wajah pucat Aya.


“Aku baik-baik saja. hanya sedikit capek dan butuh istirahat sebentar.” Jawab Aya lalu ia mengangguk pada suaminya, agar ngobrol dulu bersama Julian.


Aya menaiki tangga menuju kamarnya. Namun setelah beberapa langkah, ia merasa kepalanya pusing. hampir saja ia jatuh kalau tidak ada seseorang yang sigap menangkapnya.


Grep


“Aya! Kamu kenapa?” Darren sangat panik saat Aya sudah tidak sadarkan diri.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


__ADS_2