Batal Cerai

Batal Cerai
Ch 40. Minta Maaf


__ADS_3

Lissa tidak tahu kalau bos sekaligus pria yang menjadi sugar daddy’nya adalah Om dari Gandhi. Sebenarnya Lissa masih mengharapkan Gandhi, namun setelah kejadian waktu itu Gandhi terlihat seperti menghindarinya. Terbukti dari beberapa kali ia menghubungi Gandhi, namun pria itu selalu mengabaikannya.


Akhirnya Lissa mencoba menghubungi Om Very yang rencananya akan datang berkunjung ke perusahaannnya dalam waktu dekat. Ternyata pria itu justru akan datang besok. Tidak masalah tidak mendapatkan Gandhi. Masih ada Very yang justru bisa menjadi sumber kekayaannya hanya bermodal selang kangan.


Sedangkan Very sendiri akhir-akhir ini lebih semangat berkunjung ke Indonesia, selain karena ia sedang membuka cabang baru perusahaannya, ia juga ingin mencari cara untuk bekerjasama dengan seseorang yang sejak dulu sangat ia benci. Apalagi di sana ia mempunyai Lissa yang bisa ia manfaatkan untuk mencari cara bagaimana agar dirinya bisa menjadikan lawannya itu bekerjasama di perusahaannya.


***


Seperti yang dijanjikan Darren pada Aya kemarin, bahwa hari ini ia akan menemani sang istri untuk pulang ke rumah orang tuanya. Lebih tepatnya untuk menjelaskan tentang kabar miring yang sempat berhembus mengenai perceraian Aya dan Darren tempo hari.


Sepulang dari kantor Darren melihat istrinya sudah tampak menunggunya. Aya menyambut kedatangan Darren seperti biasa. Setelah itu mereka masuk ke kamar.


Darren mandi terlebih dulu sebelum berangkat ke rumah mertuanya. karena memang Aya dan Darren akan berangkat sekarang juga, sekalian nanti makan malam di sana.


Setelah melewati beberapa persiapan, kini Darren sudah tampak rapi dengan pakaian casualnya. Begitu juga dengan Aya. Kemudian mereka pun berangkat.


Dalam perjalanan, Aya tampak gugup sekali. Rasa takut jelas masih ada, meskipun suaminya sudah berusaha menenangkan dan mengatakan kalau semuanya akan baaik-baik saja. Aya yang sudah paham dengan watak Papanya jelas tidak bisa tenang, walau ia tidak menunjukkannya pada Darren.


Sebelum mereka sampai di rumah Papa Mirza, Aya lebih dulu membeli buah tangan untuk orang rumah. setelah itu Darren kembali melajukan mobilnya.


Kini Aya dan Darren sudah turun dari mobil. Mereka segera masuk ke dalam rumah. tak lupa Darren menggandeng tangan Aya yang tiba-tiba terasa dingin.


“Kamu tenang saja!” ujar Darren sambil senyuman tipis di bibirnya.


Kini Aya dan Darren sudah masuk ke dalam rumah. di ruang tengah tampak terdengar kedua orang tua Aya sedang berbincang. Lalu Darren mengucapkan salam, sontak kedua orang paruh baya itu menoleh ke sumber suara.


“Aya, Darren? Kalian datang kok nggak bilang-bilang?” ujar Mama Devina yang menyambut antusias anak menantunya.

__ADS_1


Berbeda dengan Papa Mirza yang menatap dingin anak perempuannya. Bagaimana tidak, jika anak perempuan yang ia banggakan hidup berumah tangga bahagia dengan Darren, tiba-tiba saja  terdengar kabar perceraian mereka. Bahkan suaminya lah yang menggugat lantaran Aya terbukti berselingkuh dengan pria yang sejak dulu sangat dia benci.


Melihat raut wajah dingin suaminya, Mama Devina mencubit lengan Papa Mirza agar tidak lepas kendali saat melihat Aya.


“Sini, Sayang!” ajak Mama Devina mempersilakan.


Darren mencium punggung tangan Mama mertuanya. Aya memeluk Mamanya dengan menahan tangis karena rasa bersalahnya. Setelah itu tatapan Aya tertuju pada Papanya yang masih setia duduk di sofa. Padahal Darren sudah menghampirinya, namun Papa Mirza tidak berpindah posisi sama sekali.


Aya langsung bersimpuh di hadapan Papanya. Tangisnya pecah menyadari akan kesalahan yang sudah ia perbuat.


“Maafkan Aya, Pa! Aya janji tidak akan mempermainkan pernikahan lagi.” ucapnya sambil menangis tersedu.


“Jangan seperti ini, Sayang! Bangunlah. Papa tidak marah sama kamu. Dan Papa sudah memaafkan kamu.”


Papa Mirza memang sebelumnya sangat marah pada Aya. Namun melihat sang anak bersimpuh seperti baru saja, membuatnya ikut iba. Bagaimanapun kesalahan yang telah dilakukan oleh anaknya, selagi anaknya mau memperbaiki kesalahannya, sebagai orang tua tidak berhak untuk menghakiminya. Cukum membimbing dan mengarahkan ke jalan yang benar.


“Papa sebelumnya sudah mengatakan bukan, kalau dia bukan pria yang baik untuk kamu. Papa bersyukur kamu sudah melihat keburukannya, sebelum semuanya terlambat.” Ujar Papa Mirza yang sudah tahu tentang Gandhi bukanlah pria baik-baik, dan dia sudah berselingkuh dengan sahabat Aya sendiri.


“Maafkan Aya, Pa!”


Papa Mirza tampak mengusap kepala Aya dengan kasih sayang. Jujur saja pria itu juga sangat merindukan Aya yang selama ini tidak ada kabar. Maklum saja, meskipun Aya sudah berumah tangga, Papa Mirza tidak bisa sedikitpun hilang kabar dari putrinya. Mengingat cinta pertama seorang ayah adalah anak perempuannya.


Kini suasana sudah kembali menghangat. Darren juga ikut menjelaskan semuanya. Bukan hanya Aya saja yang salah, melainkan dirinya juga. karena memang sebelum menikah mereka berdua sudah sepakat untuk bercerai. Darren mengakui semuanya. Dia meminta maaf dan ingin memperbaiki semuanya dengan Aya dengan cara memulai hubungan rumah tangganya dari awal.


“Mama dan Papa sangat paham kalau tidak mudah bagi kalian menjalani pernikahan atas perjodohan. Ditambah lagi kalian juga belum saling kenal sebelumnya. Namun dengan adanya kejadian ini, Mama berharap kalian benar-benar ingin menjalani pernikhan ini sungguh-sungguh.” Kali ini Mama Devina yang bicara.


Darren menganggukkan kepalanya. Begitu juga dengan Aya. Mereka berdua sangat bersyukur kalau Papa dan Mamanya tidak marah, dan justru memberikan dukungan.

__ADS_1


Obrolan mereka terjeda sejenak karena sudah waktunya makan malam. mereka berempat segera menuju ruang makan. Papa dan Mama Aya sangat bahagia karena malam ini rumah tampak ramai dengan kedatangan anak menantunya. Sedangkan Ansel, adik Aya, entah pergi kemana anak itu. maklum saja, anak muda jaman sekarang lebih suka menghabiskan waktunya di luar rumah bersama teman-temannya.


“Lalu, kapan kamu akan kembali ke kantor, Ay?” tanya Papa Mirza tiba-tiba saat mereka sedang menikmati makan malamnya.


Bukan tanpa alasan Papa Mirza bertanya seperti itu. karena memang akhir-akhir ini pria itu tampak kualahan dengan pekerjaan kantor. terlebih sejak Aya yang menjabat direktur keuangan meminta ijin cuti yang ternyata hanya rekayasanya saja.


Mendapat pertanyaan kapaan kembali ke kantor, Aya melirik suaminya seolah meminta persetujuan. Bagaimana pun juga ia harus patuh pada suaminya. dan Darren menjawabnya dengan anggukan kepala.


“Iya, Pa. bulan depan Aya akan kembali ke kantor.” jawab Aya yang memang sengaja mengulur waktu. Entah apa alasannya, Darren dan kedua orang tua Aya tidak lagi bertanya.


“Ya sudah, ayo dilanjutkan lagi makannya. Kebetulan sekali Mama tadi masak cukup banyak. Tidak tahunya kalian akan datang.” ujar Mama Deviba mengalihkan pembicaraan.


Usai makan malam, mereka kembali berkumpul di ruang tengah. Namun tidak lama, karena Aya dan Darren harus pulang malam ini juga. mengingat besok, Darren masih bekerja.


“Kalau weekend, Aya akan usahain untuk menginap di sini, Ma.” Ucap Aya saat melihat kesedihan Mamanya.


“Iya, nggak apa-apa. Mama tunggu secepatnya kabar baiknya.” Jawab Mama Devina sambil mengusap perut Aya.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


__ADS_2