Batal Cerai

Batal Cerai
Ch 23. Aya Sakit


__ADS_3

Keesokan paginya Darren bangun lebih dulu. Badannya jelas terasa sakit karena posisi tidurnya semalam tidak nyaman. Namun saat ia bangun, Darren melihat tubuhnya tertutup dengan selimut tebal. Siapa lagi lagi melakukannya kalau buka Aya. Lagi-lagi Darren kagum dengan sikap perhatian istrinya itu. lalu tatapannya tertuju pada Aya yang masih nyenyak dalam balutan selimut.


Darren bergegas masuk ke kamar mandi. mungkin setelah ini ia akan turun untuk menikmati udara pagi. mengingat ini adalah pertama kalinya ia menginap di rumah mertuanya. beruntung ada Ansel, yang mungkin bisa menjadi teman ngobrolnya.


Setelah Darren mencuci mukanya, ia keluar dari kamar mandi dan melihat Aya masih tidur. Namun kali ini Darren melihat keanehan dari tidur Aya. Perempuan itu tampak gelisah, dengan banyak gerak walau matanya terpejam. Darren mendekati Aya. Dia melihat dari jarak dekat, dan wajah Aya memerah dengan keringat sudah membasahi keningnya.


Akhirnya Darren memberanikan diri untuk menyentuk kulit Aya. Ternyata badan Aya sangat panas. Darren pun segera membuka selimut Aya dan memperbaiki posisi tidurnya.


“Aya, bangun! Minum dulu!” ujar Darren sambil menepuk-nepuk pipi Aya.


Aya sedang menggigil. Dengan perlahan ia membuka mata, dan Darren langsung memberinya minum. Setelah itu merebahkannya lagi.


“Dingin!” gumaam Aya mencari selimutnya.


Darren memang sengaja membuka selimut Aya, karena tidak baik jika kondisi badan sedang demam malah menutupnya dengan selimut.


“Jangan pakai selimut! Kamu tunggu dulu, aku ambilkan makan terus kamu minum obat ya?” ujarnya dengan lembut.


Aya masih terus meracau kedinginan. Tangannya bergerak mencari selimut, namun tak juga ketemu. Akhirnya ia menarik tangan Darren hingga pria itu jatuh tepat di atas tubuh Aya.


Darren sangat terkejut. Ia hendak bangun, namun Aya justru memeluknya dengan erat. Sungguh posisi yang sangat mambahayakan. Beruntungnya Aya sedang sakit, jadi Darren berusaha tetap tenang.


Darren perlahan mengubah posisinya di samping Aya namun tidak melepas pelukan Aya. Karena Aya semakin mengeratkan pelukannya karena rasa dingin dalam tubuhnya.


Darren menghela nafasnya panjang. Mungkinkah Aya demam sejak semalam? Betapa bodohnya ia sampai tidak mengetahui keadaan sang istri. Kemudian ia ingat tentang cara mengatasi deman, yaitu dengan skin to skin. Namun Darren tidak ingin melakukannya. Yakut jika nanti dituduh memanfaatkan kesempatan. Akhirnya ia membiarkan Aya memeluk tubuhnya sampai perempuan itu benar-benar nyaman.


Sekitar dua puluh menit kemudian, Darren bisa mendengar dengkuran halus Aya. Mungkin setelah minum tadi, atau memang Aya sudah menemukan kenyamanan, hingga dia tertidur kembali. Meskipun demamnya belum berkurang.


Perlahan Darren melepas pelukan Aya. Dia harus segera turun untuk meminta pembantu agar membuatkan Aya bubur. Namun sebelumnya ia melipat selimut yang ada di atas sofa, daripada nanti menimbulkan curiga orang yang masuk ke kamar ini.


Darren menuruni tangga sedikit tergesa-gesa. Dia langsung menuju dapur mencari pembantu agar membuatkan bubur untuk Aya.

__ADS_1


“Ada apa, Ren? Kok buru-buru gitu?” tanya Mama Devina yang kebetulan juga ada di dapur.


“Ehm, itu Ma. Darren mau minta bantuan Bibi untuk membuatkan Aya bubur. Dia sedang sakit, badannya demam.” Jawab Darren.


Mama Devina sangat terkejut. Pasalnya kemarin saat makan malam, Aya tampak baik-baik saja. apalagi sebagai Mamanya sangat hafal jika Aya sedang demam seperti ini, pasti akan rewel seperti anak kecil. Dan hal ini akan manjadi pengalaman pertama Darren saat menghadapi Aya yang sedang sakit.


“Kamu naik lagi saja, temani Aya. Biar Mama buatkan bubur sekaligus nanti Mama bawakan obat untuk Aya.” Ujar Mama Devina.


Darren merasa tidak enak. Niat hati meminta tolong bantuan Bibi, kini justru merepotkan mertuanya. tapi setelah itu dia segera kembali ke kamarnya.


Benar saja, sesampainya di kamar, Darren melihat Aya kembali gelisah dengan mata terpejam. Dia mendekati Aya lagi dan demamnya makin tinggi. Darren pun semakin khawatir. Apa sebaiknya dibawa ke rumah sakit saja.


Drt drt drt


Darren mendengar deringan ponsel Aya di atas nakas. Dia mengabaikannya saja, karena menajga privasi istrinya. Namun rupanya ponsel itu kembali berdering. Mau tak mau Darren mengambil ponsel itu dan melihat siapa yang menghubungi Aya pagi-pagi seperti ini.


“My Honey calling….”


Melihat Aya yang semakin parah keadaannya, ia segera menerima panggilan itu, dan setelahnya ia akan menon aktifkan ponselnya.


“Halo, Sayang! Kenapa lama sekali sih, Say,-“


“Aya sedang sakit.” Jawab Darren singkat, lalu segera menutup panggilan itu.


Mendengar langkah seseorang hendak membuka pintu kamar, Darren segera menon aktifkan ponsel istrinya sebelum Gandhi kembali menghubungi.


“Ini buburnya masih hangat. Kamu bangunkan Aya, dan ini obatnya juga sudah Mama siapkan.” Ujar Mama Devina sambil meletakkan bubur di atas meja.


“Iya, Ma.” Jawab Darren dan langsung bergerak sesuai perintah.


Lagi-lagi Aya menarik tangan Darren dan memeluknya dengan erat. Sungguh Darren sangat tidak nyaman. Apalagi masih ada Mama Devina di dalam kamar.

__ADS_1


“Sini biar Mama bantu!” ujar Mama Devina.


“Maaf ya, Ren. Mungkin kamu baru tahu, kalau Aya sedang sakit memang seperti ini. sangat rewel seperti bayi. Nanti kalau demamnya sudah turun, siap-siap saja dengan permintaannnya yang aneh-aneh.” Ucap Mama Devina yang kini berusaha membangunkan Aya.


Kini Aya sudah bangun dan bersandar pada pundak Mamanya. Matanya masih sedikit terpejam, karena tidak tahan dengan demamnya yang tak kunjung turun. Darren sendiri sudah duduk di depan Aya sambil membawa mangkok bubur dan siap menyuapi istrinya.


Perlahan Darren menyuapi Aya hingga bubur itu habis. Setelah itu memberikan air putih dan meminum obatnya.


“Ma, dingin Ma!” racau Aya setelah kembali merebah.


“Jangan rewel, Aya! Ingat, kamu sudah punya suami.” Mama Devina mengomeli Aya di depan Darren.


Bagi Darren ini adalah pemandangan yang sangat langkah dan baru ia temui. Di balik sosok Aya yang akhir-akhir ini peduli terhadapnya, ternyata perempuan itu kalau sedang sakit cukup meresahkan. Darren juga tidak mungkin membiarkan Mama Devina di sini menemani istrinya. Jadi ia terpaksa mengambil alih tugas Mama Devina.


“Biar sama Darren saja, Ma! Mama bisa keluar.” Ujar Darren dengan sopan.


“Baiklah. Nanti sarapan kamu biar diantar Bibi saja. karena Aya pasti tidak bisa ditinggal.” Jawab Mama Devina cukup membuat Darren tercengang.


***


Sementara itu Gandhi sejak tadi terus menghubungi ponsel Aya. Meskipun ia tahu kalau ponsel kekasihnya sedang tidak aktif.


Yang membuat Gandhi penasaran adalah sosok pria yang bicara padanya baru saja. siapa pria yang berani memegang ponsel Aya. Apa ada sesuatu yang tidak ia ketahui selama ini. lalu, katanya tadi Aya sedang sakit. Apa mungkin itu tadi suara adik Aya. Kalau Papa Aya tidak mungkin menurut Gandhi.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2