
Kini Darren sudah kembali lagi ke kamar setelah menemui Julian. Aya masih terlelap dan dalam posisi yang sama. Darren pun kembali naik ke atas ranjang sambil memandangi wajah ayu istrinya.
Senyum manis Darren tak pernah surut melihat wajah Aya yang sedang terlelap damai. Apalagi saat teringat dengan kegiatan panasnya beberapa jam yang lalu. Ada rasa puas tersendiri yang Darren rasakan. Kemudian pria itu mengecup singkat bibir Aya yang sedikit terbuka.
Ngghhhh
Terdengar suara lenguhan Aya pertanda perempuan itu mulai bangun dari tidurnya setelah kelelahan bercinta. Darren pun masih setia memandangi istrinya.
“Darren?” ucap Aya sedikit terkejut saat melihat suaminya sedang memandanginya.
“Selamat sore, Sayang!” sapanya dengan tersenyum manis.
Aya yang nyawanya masih belum sepenuhnya kembali, mencoba untuk menajamkan pendengarannya atas ucapan Darren baru saja.
“Kenapa, Sayang?” lagi, Darren memanggil Aya dengan panggilan sayang.
“Kamu salah minum obat, Ren?” tanya Aya sambil menyentuh kening suaminya.
Darren hanya tersenyum. Apalagi saat ini ia melihat tubuh polos istrinya bagian atas, lantaran selimut Aya sedikit turun. Dan Aya masih belum menyadarinya. Atau mungkin perempuan itu lupa atas apa yang sudah terjadi pada dirinya beberapa jam yang lalu.
“Iya. aku salah minum obat. Dan aku butuh penawarnya.” Jawab Darren.
“Apa penawarnya?”
“Itu.” jawab Darren sambil menunjuk aset berharga Aya yang penuh dengan tanda merah.
Aya pun mengikuti arah wajah Darren yang menunjuk bagian tubuhnya. Dan alangkah terkejutnya dia saat melihat keadaan tubuhnya saat ini.
“Oh astaga!!!” pekik Aya setelah berhasil mengingat kejadian siang tadi.
Setelah itu Aya menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Sungguh ia masih malu untuk mempertontonkan tubuh polosnya pada sang suami. meskipun Darren sudah melihat semuanya.
“Kenapa ditutup seperti ini, hem?” bisik Darren tepat di telinga kiri Aya.
“Minggir sana! Jangan seperti ini, Ren! Aku sangat malu.” Jujur Aya yang kini justru menutupi wajahnya dengan selimut.
“Tidak. Aku tidak akan minggir dan masih betah begini, kecuali satu.”
“Apa?” tanya Aya dengan wajah masih tertutup selimut.
“Panggil aku Sayang. Dan seterusnya kamu harus memanggilku seperti itu.”
Aya langsung membuka selimutnya. Dia tidak percaya dengan apa yang baru saja Darren katakan. Terlebih dengan sikap Darren yang seperti ini. Pemaksa.
__ADS_1
“Pemaksaan itu namanya.” Protes Aya tak terima.
“Biarin. Atau kamu memang sengaja aku seperti ini terus, hem?” kini Darren malah melacarkan aksinya dengan cara memebri sentuhan pada seluruh tubuh Aya meskipun terhalang selimut.
“Darren, stop!” teriak Aya kegelian, sekaligus merasakan gelenyar aneh saat mendapatkan sentuhan dari suaminya.
“Aku tidak akan berhenti kalau kamu tidak mengubah panggilan namaku dengan panggilan Sayang.” Kekeh Darren masih dengan aksi nakalnya.
“Ok, Ok. Please Darren Sayang jangan seperti ini, ya?”
Darren tersenyum. Namun ia masih belum puas dengan pangilan Aya baru saja yang rasanya seperti terpaksa. Padahal sebenarnya iya.
“Tidak. Panggilan itu tidak ikhlas rasanya.” Ucap Darren pura-pura tidak terima. Dan ia masih merusuh pada tubuh istrinya.
“Sayang, jangan seperti ini. aku nggak tahan geli.”
“Ok, Sayang.”
Aya akhirnya bisa bernafas lega setelah Darren tidak merusuh lagi. setelah itu ia berusaha bangun untuk mencari pakaiannya.
Sshhhh….
Aya tampak meringis kala merasakan intinya terasa begitu ngilu akibat permainan ganas suaminya tadi.
“Semua ini gara-gara kamu sih.” Gerutu Aya menolak bantuan Darren.
Darren yang gemas melihat bibir manyun istrinya, tanpa aba-aba ia segera membuka selimut Aya dan langsung menggendongnya ke kamar mandi.
Aya berteriak minta diturunkan. Namun Darren tidak peduli. Akhirnya Aya pasrah dan mengalungkan tangannya ke leher Darren.
Darren menurunkan Aya ke dalam bathtub, kemudian mengisinya dengan air hangat. Setelah itu ia menanggalkan semua bajunya lalu ikut masuk ke dalam bathtub.
“Ren, kamu mau ngapain?” pekik Aya terkejut. Namun yang membuat terkejut adalah saat Aya melihat senjata milik suaminya.
Setelah masuk ke dalam bathtub, tepatnya di belakang Aya, Darren langsung merai kepala Aya dan menyambar bibirnya dengan cukup rakus.
“Itu hukuman karena kamu tidak memanggilku Sayang. Aku hanya ingin membantumu mandi, sekalian kita mandi bersama. Kalau kamu masih banyak tingkah, aku tidak segan-segan untuk mengulangi kegiatan panas seperti tadi.” ancam Darren.
Aya pun seketika diam. sungguh ia baru menyadari kalau sifat suaminya selain suka memaksa, ternyata Darren juga suka mengancam.
Darren kini mulai menyabuni seluruh tubuh Aya. Tak lupa ia menggosok punggung mulus istrinya itu. kalau tidak mengingat Aya masih kesakitan di bagian intinya, sudah bisa dipastikan kalau saat ini juga Darren akan kembali menyerang Aya. Apalagi senjatanya sudah mulai bereaksi.
**
__ADS_1
Kini Aya sudah berbaring di atas tempat tidur. Tentunya sudah berpakaian lengkap dengan kondisi tubuh lebih segar. Meskipun rasa ngilu bagian intinya masih sangat jelas terasa.
Cklek
Darren masuk ke dalam kamar sambil membawa nampan berisi makanan juga minuman. Pria itu cukup pengertian terhadap istrinya setelah apa yang ia perbuat tadi siang.
“Sayang, makan dulu. Kamu pasti sangat lapar.”
Aya hanya mengangguk. Kemudian Darren mulai menyuapi Aya dengan sabar.
“Aku tidak sedang sakit. Aku bisa makan sendiri.” Ujar Aya yang sebenarnya menolak disuapi Darren.
“Benar tidak sakit lagi? kalau begitu nanti malam kita bisa melakukannya lagi.”
Aya langsung memukul lengan Darren, karena arah bicaranya selalu ke hal-hal yang berbau mesyuum. Darren hanya terkekeh, namun ia tetap menyuapi istrinya.
***
Seminggu berlalu. Kehidupan rumah tangga Aya dan Darren sudah seperti pasangan pada umumnya. Mereka tampak harmonis. Aya juga sering datang ke kantor suaminya kalau Darren minta dibawakan bekal makan siang. Itu juga Aya lakukan sebelum ia kembali bekerja di kantor Papanya.
Namun tidak untuk hari ini. Darren tidak meminta istrinya mengantar makan siang ataupun membawakan bekal. Karena nanti siang setelah jam makan siang Darren ada meeting di luar. Jadi sekalian makan siang bersama kliennya.
“Ya sudah, aku berangkat dulu ya, Sayang! Jangan merindukan aku!” ucap Darren dengan kerlingan mata nakalnya.
Aya mencium punggung tangan Darren. Dia seperti tidak mengenal Darren. Pasalnya Darren yang dulu ia kenal tidak seperti sekarang ini.
Setelah berpamitan, Darren segera berangkat ke kantornya dengan mengendarai sendiri mobilnya. Darren memulai aktivitasnya seperti biasa. Apalagi akhir-akhir ini ia sering mendapatkan vitamin dari sang istri, jadilah ia tambah semangat.
Mulai dari pagi sampai siang Darren sangat sibuk dengan pekerjaannya. Hingga sebelum jam makan siang tiba, ia terpaksa menunda dulu pekerjaannya karena ada meeting dengan Tuan Very. Kali Darren akan datang sendiri, karena Julian sibuk menghandle pekerjaan lainnya.
Setibanya Darren di restaurant, ia segera masuk ke dalam ruangan vvip yang sudah dipesan oleh kliennya. Darren duduk di sana sendiri karena Tuan Very belum datang. tak lama kemudian terdengar pintu dibuka disertai langkah sepatu high heels. Darren langsung menatap ke arah pintu di mana seorang wanita dengan pakaian minim bahan sedang berjalan ke arahnya.
“Selamat siang Tuan Darren! Hari ini kita meeting berdua. Oh maksudnya saya dan anda. karena Tuan Very masih berada di luar negeri.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1