
Darren masih berusaha bersikap professional dengan asisten kliennya yang tak lain adalah Lissa. Dia mempersilakan Lissa duduk. Karena sebelum meeting mereka makan siang terlebih dulu.
Mungkin sudah menjadi hal wajar bagi Darren menemui klien sejenis Lissa. Tapi semua itu bisa diatasi dengan baik. Apalagi dengan Lissa yang hanya sekadar seorang asisten. Bahkan kalau Darren boleh curiga, Lissa bekerja dengan Very bukan mengandalkan kecerdasannya. Melainkan selang kangannya.
Darren menikmati makan siang itu seperti biasa. Dia tidak peduli dengan Lissa yang duduk di hadapannya dan sejak tadi tak henti-hentinya mencuri pandang terhadapnya.
Makan siang yang cukup singkat itu selesai. kini dilanjut dengan agenda meeting seperti yang sudah dijadwalkan. Darren mulai serius membahas kerjasama antara perusahaanya dengan perusahaan Very. Begitu juga dengan Lissa yang sedang mendengarkan pemaparan Darren untuk disampaikan nanti pada atasannya.
“Bagaimana menurut anda, Nona Lissa?” tanya Darren setelah mengakhiri presentasi singkatnya.
“Menurut saya, anda sangat tampan.” Jawab Lissa melenceng jauh dari pembahasan.
Darren sudah menyangka kalau pengetahuan Lissa nol mengenai bisnis. Very menjadikan ia sebagai asisten mungkin hanya kedok pemuas napsu pria berumur itu.
“Mohon maaf Nona Lissa, saya tidak bisa melanjutkan meeting ini. karena menurut saya, anda sama sekali tidak professional.”
“Sudahlah, Tuan Darren yang tampan! Anda jangan munafik! Saya tahu kalau hubungan anda dengan sehabat, ups maksud saya mantan sahabat saya hanya sementara. Istri anda sangat mencintai kekasihnya. Meskipun saya tahu mereka sedang ada masalah, tapi saya yakin mereka akan berbaikan lagi. jadi, lebih baik kita bersenang-senang.” Ucap Lissa yang kini sudah mulai berani menyentuh lengan Darren.
Darren yang tersulut emosi pun langsung menghempaskan tangan Lissa. Tidak peduli dia dianggap kasar terhadap wanita. tapi kalau lawannya seperti Lissa, itu memang pantas.
“Oh, saya sangat suka sekali ternyata anda suka main kasar.” Lissa semakin menantang.
“Baiklah. Mulai sekarang saya akan membatalkan kontrak kerjasama ini. tidak peduli saya dengan denda yang harus saya bayar.” Ucap Darren dengan suara tegas.
Deg
Lissa tampak kalang kabut. Padahal dirinya yang sudah diminta langsung oleh Very untuk mencari cara agar bisa bekerjasama dengan perusahaan Darren. Kalau sudah begini, Lissa khawatir kehilangan pundi-pundi uangnya.
“Maafkan saya, Tuan Darren! Tolong jangan batalkan kontrak kerjasama ini. saya janji meeting selanjutnya, saya tidak akan menampakkan wajah saya lagi.” mohon Lissa ketakutan.
Darren tidak menanggapinya. Dia juga tidak semudah itu membatalkan kontrak kerjasama dengan sebuah perusahaan. Dia hanya menggertak Lissa saja. jelas wanita itu ketakutan, karena pekerjaannya juga akan terancam hilang.
“Saya akan menghubungi Tuan Very sendiri. Anda tidak perlu ikut campur lagi.” ancam Darren lalu bergegas keluar dari ruangan vvip itu.
***
__ADS_1
Setelah meetingnya hari ini gagal, Darren memutuskan tidak lagi kembali ke kantor. ia pulang dan akan melanjutkan pekerjaannya di rumah.
Pikiran Darren benar-benar sangat penat. Apalagi seteah berhadapan dengan Lissa. Wanita itu memang benar-benar berbahaya. Dia harus waspada jika selanjutnya akan berhadapan dengan Lissa lagi.
Sesampainy di rumah, ia segera mencari keberadaan sang istri. Karena di rumah, tepatnya di lantai bawah tampak sangat sepi.
“Bik, istriku kemana?” tanya Darren pada asisten rumah tangganya.
“Nona Aya sedang di atas, Tuan.”
Darren segera naik ke lantai dua dimana kamarnya berada. Dan bisa dipastikan kalau Aya ada di sana.
Cklek
Darren masuk ke kamar lalu tatapannya memindai mencari keberadaan Aya. Ternyata wanita itu sedang bersantai di balkon sambil mendengarkan musik melalui earphone. Darren melipat lengan kemejanya sampai siku, setelah itu menghampiri sang istri yang masih belum menyadari keberadaannya.
Aya tampak berbaring santai pada sofa panjang. Matanya terpejam dengan seulas senyum tipis dan gumaman lirih mengikuti lirik lagu yang sedang didengarnya.
Cup
“Sayang? Kok sudah pulang?”
Darren tersenyum. Dia sangat senang mendengar Aya memanggilnya dengan sebutan Sayang yang sudah tidak terpaksa lagi.
Darren duduk di samping istrinya. Setelah itu ia bersandar pada pundak Aya.
“Aku lelah. Dan ingin sekali bertemu dengan kamu.” Jawabnya dengan nada lesu.
“Ck, bukankah tadi kamu yang mengatakan agar jangan rindu? Saat kamu berangkat ke kantor.” sahut Aya sambil berdecak.
“Ya memang. Kamu jangan merindukan aku. cukup aku saja.” sahut Darren tak mau kalah.
Tak lama kemudian Darren tidur pada paha istrinya. Aya sepertinya merasa kalau suaminya sedang benar-benar penat. Akhirnya ia memberikan usapan lembut pada kepala Darren.
“Ada apa? Apa ada masalah di kantor?” tanya Aya.
__ADS_1
Darren tersenyum menikmati sentuhan lembut tangan Aya pada kepalanya. Lalu ia teringat dengan perbuatan Lissa tadi. dia berpikir sejenak. Lebih baik menceritakan pada Aya daripada suatu saat nanti Lissa berbicara yang tidak-tidak pada istrinya secara langsung.
“Ada yang ingin aku ceritakan sama kamu. Tapi jangan salah paham dulu, ok?” ucap Darren yang kini sudah memperbaiki posisinya duduk di samping Aya.
“Ok. Aku akan mendengarkannya.”
Darren pun mulai menceritakan di mana dia tadi meeting dengan kliennya yang pernah Aya temui secara tidak sengaja di kaantornya waktu itu. yang tak lain adalah Very. Lalu Darren mengatakan kalau meetingnya tadi diwakilioleh asistennya yaitu Lissa. Memang dulu saat bertemu Very, Aya melihat Lissa. Tapi dia belum sempat bertanya pada suaminya kenapa Lissa bisa berada di perusahaannya.
“Lalu bagaimana dengan meetinya bersama Lissa tadi?” tanya Aya menatap penuh selidik pada suaminya.
Bukan Aya ingin mencurigai suaminya yang akan berbuat hal sama seperti yang dilakukan Lissa pada Gandhi waktu itu. tapi dia ingin dengan pasti. Dan ingin Darren berkata jujur.
“Maka dari itu, aku tidak ingin kamu salah paham, Sayang. Dengarkan baik-baik…..”
Darren pun menceritakan apa yang diperbuat Lissa tadi. tapi dia juga segera melakukan pembelaan sebelum istrinya menuduh macam-macam. Apalagi Darren memang tidak suka dengan perangai Lissa ataupun wanita lainnya yang mempunyai sikap seperti Lissa.
Aya tampak geram mendengarnya. Dia tidak menyangka, sahabat yang selama ini begitu baik padanya, ternyata menusuknya dari belakang. Bisa jadi setelah ini Lissa akan merusak rumah tangganya. Namun Darren segera meyakinkan istrinya kalau hal itu tidak akan terjadi.
Darren juga mengatakan kalau Lissa tadi sempat mengadu domba dirinya dengan mengatakan kalau Aya masih mencintai Gandhi.
“Apa kamu percaya yang dikatakan Lissa?” tanya Aya.
“Memangnya ada alasannya agar aku tidak mempercayai ucapan Lissa tadi?” tanya Darren sengaja memancing Aya.
“Ck, gitu saja masih ditanyakan. Jelas ada. Karena aku mencintai kamu, dan aku tidak lagi mencintai Gandhi.” Jawab Aya dengan mencebikkan bibirnya.
Darren sungguh sangat senang luar biasa mendengar ungkapan perasaan Aya baru saja. setelah itu ia menarik Aya ke dalam pelukannya.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!