
Darren terdiam mematung saat Aya jatuh ke pangkuannya. Padahal ini juga salah dia. Jelas Aya yang tidak siap akan jatuh. Apalagi saat mencium aroma parfum yang dipakai Aya saat ini. ada yang tidak beres dengan dirinya.
Sedangkan Aya yang sadar akan posisinya, ia segera bangun dan duduk di di samping Darren dengan wajah ditekuk. Padahal ia juga merasakan hal yang sama dengan Darren saat baru saja berada di pangkuan pria itu.
Tanpa mengucapkan sesuatu, Darren pun melajukan mobilnya menuju tempat dimana ia akan membeli cincin pertunangannya. Berhubung toko perhiasan jam segini belum buka, akhirnya Darren memilih untuk ke apartemennya dulu untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Apartemen itu memang seperti kantor keduanya Darren. Terkadang kalau sedang penat ia akan singgah di apartemennya itu daripada pulang ke rumahnya.
“Kamu mau bawa aku kemana?” tanya Aya saat menyadari mobil Darren memasuki kompleks apartemen elit.
“Mau bekerja.” Jawab pria itu tanpa berdosa sama sekali.
“Gila kamu ya? Untuk apa menjemputku kalau hanya untuk menemani kamu bekerja.” Aya jelas tidak terima dengan sikap semena-mena Darren.
“Aku nggak minta kamu menemaniku bekerja. Karena memang toko perhiasan jam segini belum buka. Kalau kamu nggak mau nunggu, ya sudah, pulang lagi sana!!”
Aya menggertakkan giginya menahan kesal sambil menatap Darren yang tampak acuh. Bukan dia tidak mau pulang sesuai perintah Darren. Yang ada nanti akan banyak pertanyaan dari Mamanya.
“Ya sudah, turunkan aku di sini. aku mau pergi bertemu temanku.” Ucap Aya akhirnya.
Tidak masalah jika tidak pulang. dia bisa pergi dengan memesan taksi online dan bertemu dengan Lissa. Masalah cincin pertunangan, biar Darren sendiri yang membeli. Mau kebesaran atau kekecilan. Aya tidak peduli.
Darren pun menghentikan mobilnya sesuai permintaan Aya. Dan Aya segera keluar tanpa menatap Darren yang juga tampak acuh.
Brakk
Aya sengaja menutup pintu mobil Darren dengan kasar. Lalu ia merogoh slingbag’nya untuk mencari ponselnya dan memesan taksi online.
“Astaga!!!” pekik Aya saat ia baru sadar kalau ponselnya tertinggal di rumah. mobil Darren juga sudah melaju meninggalkannya. Dan tidak ada cara lagi selain mengejar mobil Darren yang hendak memasuki gerbang apartemen.
Darren sendiri menatap heran pada Aya yang sedang mengejarnya. Namun ia tetap melajukan mobilnya tanpa peduli. Begitu juga dengan Aya yang terus mengejar mobil Darren sampai memasuki basement.
“Aku mau menunggu di apartemen kamu.” Ucap Aya dengan nafas tersengal saat Darren baru saja keluar dari mobilnya.
Darren hanya mengangguk samar tanpa meminta penjelasan pada Aya yang mengejar mobilnya dan memilih ikut ke dalam apartemen.
__ADS_1
Kini mereka berdua sudah masuk ke unit apartemen Darren. Aya langsung duduk di sofa karena sangat lelah. Sedangkan Darren mengambil air mineral untuk Aya yang terlihat sangat kelelahan.
“Terima kasih.” Ucap Aya merasa sedikit tersentuh dengan perhatian Darren.
Setelah itu Darren masuk ke ruang kerjanya, membiarkan Aya menunggunya di ruang tamu.
Aya melihat seisi ruangan di unit apartemen Darren yang sangat bersih dan juga rapi. Bahkan dindingnya saja juga bersih. Tidak ada foto keluarga atau foto Darren sendiri. Mungkin itu lah salah satu penyebab wajah Darren tampak kaku. Karena tida hobi berfoto.
**
Cukup lama Aya menunggu Darren yang sejak tadi berada di ruang kerjanya. Bahkan sampai waktu makan siang, pria itu tak kunjung keluar. Aya yang lapar campur capek karena mengejar mobil Darren tadi akhirnya ketiduran di sofa.
Darren sendiri memang seperti itu. kalau sudah sibuk dengan pekerjaannya, ia sampai lupa waktu. Termasuk makan siang. Kalau saja saat ini perutnya tidak berbunyi, pasti dia akan melanjutkan pekerjaannya sampai sore nanti. setelah itu ia memesan makanan melalui aplikasi online.
“Astaga!” Darren menyadari sesuatu. Ia segera keluar dari ruang kerjanya untuk melihat seseorang yang sejak tadi menunggunya.
Darren melihat Aya sedang tidur di sofa. Air mineral yang ia berikan juga sudah habis tak bersisa. Meskipun Darren tidak menghendaki perjodohannya dengan Aya, namun pria itu masih memiliki rasa kemanusiaan. Akhirnya ia memesan dua porsi makan siang untuknya dan juga Aya.
Sambil menunggu pesanan makanannya datang, Darren membereskan pekerjaannya. Biar nanti setelah makan siang, ia tinggal pergi.
“Makanlah! Setelah ini kita pergi.” Ucap Darren lalu memberikan makanannya untu Aya.
Karena memang perutnya sudah lapar sejak tadi, Aya segera menyantap makanan itu tanpa cuci muka atau cuci tangan terlebih dulu. Dan melihat tingkah Aya seperti itu, membuat Darren bergidik.
“Kenapa? Aku jorok? Begitu kan yang kamu pikirkan? Aku tidak peduli. Lagian aku juga bukan tipe kamu kan?” tanya Aya seolah mengerti isi kepala Darren.
Darren tidak peduli. Dia juga kembali melanjutkan makannnya.
***
Kini Aya dan Darren sudah berada di pusat perbelanjaan. tepatnya di toko perhiasan.
Sejak tadi Aya tampak sibuk dengan ponselnya. Darren sampai kesal karena Aya tidak memperhatikan karyawan toko saat menanyakan model cincin seperti apa yang disukai.
Aya yang tangannya sedang memegang ponsel, sibuk berbalas pesan dnegan Gandhi, ditarik begitu saja oleh Darren demi melihat ukuran jari Aya.
__ADS_1
“Bisa nggak sih nggak kasar sama perempuan?”
“Coba mbak yang model ini, cocok nggak di jari manis calon istri saya.” ucap Darren mengabaikan celotehan Aya.
Aya pun akhirnya diam menurut dengan Darren. Daripada membuat malu dirinya sendiri dan juga Darren.
“Yang ini saja, Mbak!” ucap Darren setelah memilih salah satu cincin yang menurutnya sangat cocok di jari Aya. Bahkan tanpa sadar, Darren sejak tadi memegang tangan Aya. Aya sendiri juga heran dengan sikap Darren yang tiba-tiba hangat seperti itu. apa hanya perasaannya saja. dan memang benar. Setelah menyadari apa yang dilakukannya, Darren melepas tangan Aya begitu saja.
“Dasar pria kaku!” desis Aya dengan kesal.
Usia menyelesaikan pembayaran, Darren dan Aya segera keluar dari toko perhiasan itu dan bergegas mencari gaun untuk acara pertunangannya nanti.
“Ay!” teriak seseorang yang tidak asing di telinga Aya.
Aya pun menoleh. Ternyata yang memanggilnya adalah Lissa. Kedua sahabat itu saling menghampiri dan berpelukan sejenak. Lalu tatapan Lissa tertuju pada pria tampan yang sedang bersama sahabatnya.
“Ay, siapa dia? Tampan sekali.” Tanya Lissa dengan kagum.
“Ceritanya panjang. Nanti aku jelaskan.” Bisik Aya tak ingin didengar oleh Darren.
“Gila kamu, Ay! Kamu mau selingkuh dari Gandhi?” ucap Lissa dan didengar jelas oleh Darren. Namun Darren sama sekali tidak peduli.
“Sttt!! Nanti aku certain semua ke kamu. Ok! Sekarang aku pergi dulu.” Pamit Aya karena merasa tak enak membuat Darren menunggu.
Sedangkan Lissa hanya menatap kepergian Aya dan pria tampan itu dengan tatapan penuh arti.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1