
Aya menatap dalam mata Darren setelah pria itu menghubungi seseorang untuk membatalkan perceraiannya. Di saat hati Aya sedang kalut, ada sepercik rasa bahagia saat Darren membatalkan perceraiannya. Namun dia masih tidak mengerti tentang apa maksud Darren sampai membatalkan perceraian itu.
“Kita bahas nanti di rumah.” ucap Darren lalu kembali menarik Aya ke dalam pelukannya.
Aya yang masih shock dengan kejadian baru saja memilih diam saat Darren mulai melajukan mobilnya. Aya masih tidak percaya sekaligus tidak menyangka kalau Gandhi dan Lissa, sahabatnya sendiri ada main di belakangnya.
Sedangkan Darren yang fokus dengan kemudinya, sesekali melirik ke arah Aya yang masih diam. mungkin Aya masih sakit atas penghianatan kekasihnya baru saja. namun langkah yang diambil Darren untuk membatalkan perceraiannya, menurut dia tidak salah. Setelah ini ia akan mengajak Aya bicara baik-baik mengenai hubungan rumah tangganya.
Perjalanan dari hotel menuju rumah cukup menghabiskan waktu lama. Hingga tanpa Darren sadari, Aya tertidur pulas sambil duduk. Dan tak kama kemudian mobilnya memasuki halaman rumah.
Darren menepuk pelan pipi Aya agar bangun. Namun rupanya Aya tidak bereaksi apapun. Karena memang semalam Aya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Akhirnya Darren terpaksa menggendong Aya masuk dan membawanya ke kamar.
Kini Darren sudah membaringkan Aya di atas tempat tidur kamar tamu. Karena memang yang paling dekat dan tidak butuh waktu untuk menaiki ke lantai dua.
Darren bisa melihat mata sembab Aya usai menangisi penghianatan kekasihnya. Entah kenapa dia juga ikut sakit saat melihat Aya bersedih seperti ini. tak lama kemudian Darren beranjak menimggalkan Aya yang masih tidur. Namun tiba-tiba tangannya ditarik Aya, hingga ia terjatuh di samping perempuan itu.
Aya memeluk Darren dan kembali menangis. Ternyata Aya memang sejak tadi tidak tidur. Dia belum ingin mendapat banyak pertanyaan dari Darren, akhirnya ia membiarkan Darren menggendongnya dan membawa masuk ke dalam kamar.
“Sudah, Aya! Apa kamu masih mengharapkan pria itu?” tanya Darren sambil membelai rambut Aya.
Aya mengurai pelukannya dan menatap mata Darren yang kini juga tengah menatapnya. Lalu ia menggeleng pelan.
“Aku menangis bukan karena masih mengharapkan dia. Tapi aku menyesal karena tidak mendengar ucapanmu yang sempat mengatakan kalau Gandhi adalah seorang baj***an. Jadi, selama ini kamu tahu semuanya, Ren?”
Darren tak langsung menjawab pertanyaan Aya. Dia membenarkan posisinya. Duduk bersandar pada ranjang. Begitu juga dengan Aya.
__ADS_1
“Aku memang tidak pernah kenal dengan dia. Hanya saja aku pernah melihat dia sering jalan bersama sahabat kamu. Maaf, jika aku tidak pernah memberitahu kamu tentang ini. aku tidak ingin kamu membenciku jika aku mengatakan hal itu yang kamu kira sebuah kebohongan.” Ujar Darren menjelaskan semuanya. Termasuk saat Aya yang diberi obat tidur oleh Gandhi dan hampir dilecehkan oleh pria itu kalau saja Julian tidak memergokinya.
Kini Aya pun mengerti tentang ucapan Julian waktu itu yang belum selesai. aya benar-benar merasa perempuan paling bodohh karena sekian lama dipermainkan oleh Gandhi dan juga sahabatnya.
“Maafkan aku, Ren!” hanya itu yang bisa Aya katakan pada Darren, sambil bersandar pada bahunya.
“Semuanya sudah berlalu. Wajar jika kamu kecewa. Namun itu lebih baik, kamu ditunjukkan sekarang saat semuanya belum terlambat.”
“Terima kasih, Ren. Lalu apa maksud kamu tadi membatalkan perceraian kita? Bukankah semuanya sudah berjalan? Dan untuk apa kamu membatalkan perceraian ini kalau kamu sudah tahu bagaimana sikapku selama ini dan diantara kita tidak ada,-“
“Stttt!”
Darren mengentikan ucapan Aya dengan menutup mulut perempuan itu dengan jari telunjuknya.
“Aku membatalkan perceraian kita karena memang sidang itu ditunda karena kita sama-sama tidak hadir saat mediasi. Namun hal yang lebih penting adalah, aku ingin kita memperbaiki semuanya. Kita mulai dari awal. Kita memang tidak saling cinta. Tapi apa salahnya kita menjalin hubungan baik, setidaknya berteman baik dulu untuk mencari kecocokan itu. bagaimana?”
Aya tidak menyangka dengan usulan Darren baru saja. apalagi pria itu berkata dengan tenang. Tidak seperti biasa yang sikapnya selalu dingin dan datar. Aya juga sama dengan Darren yang masih ragu dengan perasaannya terhadap pria itu. dan tidak ingin menyimpulkan dengan cepat. Apalagi hubunganya dengan Gandhi baru saja berakhir. Dia tidak ingin menjadikan Darren sebagai pelariannya.
Aya mengulas senyum menatap Darren. Tak lama kemudian ia menganggukkan kepalanya. Darren pun menarik Aya ke dalam pelukannya lagi. dia sangat bahagia karena Aya telah kembali lagi. hari-harinya kini akan berwarna lagi dengan hadirnya Aya, setelah mereka sepakat untuk batal bercerai.
Dan mulai hari ini juga, Aya akan kembali tinggal di rumah Darren, suaminya. Darren juga akan mengantar Aya untuk mengambil beberapa pakaiannya di apartemen. Dan untuk mobil Aya yang masih tertinggal di basement hotel, Darren akan meminta Julian untuk mengambilnya.
***
Sementara itu Gandhi yang kini sedang berada di kamar hotelnya seorang diri tampak sedang kacau. Apalagi setelah Aya memergoki ulahnya bersama Lissa. Dan yang membuat Gandhi masih tidak percaya adalah saat dia tadi mengusir Lissa, perempuan itu mengatakan kalau sebenarnya Aya selama ini sudah menikah.
__ADS_1
“Aya! Ternyata selama ini kamu yang lebih dulu menghianatiku. Jadi anggap saja kita impas. Dan aku akan memperjuangkan kamu lagi. aku akan merebut kamu dari suamimu.” Gumam Gandhi yang masih kekeh ingin kembali pada Aya.
Lissa tadi memang tidak mengatakan banyak hal pada Gandhi. Perempuan itu cukup sakit hati atas sikap Gandhi yang menyalahkannya. Akhirnya ia membuka rahasia Aya yang selama ini sudah menikah dengan pria lain. Setelah itu Lissa pergi meninggalkan Gandhi.
Tak lama kemudian terdengar suara bel. Gandhi langsung membuka pintu, dan melihat seorang pria yang tidak ia kenal sedang berdiri tepat di depan kamarnya.
“Siapa anda? ada perlu apa?” tanya Gandhi.
“Tidak penting anda tahu siapa saya. kedatangan saya ke sini hanya untuk memperingatkan pada anda agar tidak lagi mengganggu Nona Aya. Dia sudah mempunyai suami. dan lupakan niat anda untuk merebut Nona Aya dari suaminya. karena saya mempunyai banyak bukti tentang kebusukan anda selama ini terhadap Nona Aya. Termasuk saat anda hendak melecehkan Nona Aya dengan memberi obat tidur waktu itu.”
Deg
Gandhi sangat terkejut mendengar penuturan pria yang sedang ada di hadapannya itu. kini dia tidak bisa berkutik lagi untuk merebut Aya. Apalagi kedua orang tua Aya nantinya pasti akan tahu tentang kebusukannya selama ini.
“Lebih baik anda segera angkat kaki dari negara ini!” ujar Julian lalu pergi meninggalkan Gandhi.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1