Batal Cerai

Batal Cerai
Ch 75. Sangat Nyaman


__ADS_3

Merasa mendapat pelukan hangat dari seseorang, Aya pun perlahan mengerjapkan matanya. dia ingin memastikan kalau tidak sedang bermimpi. Benar saja, saat mata Aya terbuka sempurna, ia sedang berada dalam pelukan seseorang yang sangat ia cintai. Meskipun Darren masih belum mengingat dirinya, dengan begini saja sudah membuat hati Aya tenang.


“Darren?”


Darren yang sejak tadi memejamkan matanya, namun tidak tidur, seketika membuka matany saat mendengar Aya sudah bangun.


“Bagaimana keadaan kamu?”


“Bagaimana keadaan kamu?”


Tanya dua orang itu bersamaan. Lalu keduanya sama-sama mengulas senyum tipis. Senyuman yang sangat Aya rindukan dari sosok Darren, suami yang selalu mencintinya.


“Aku sudah tidak apa-apa. Tadi kepalaku tiba-tiba pusing saat melihat kamu pingsan. Lalu bagaimana keadaan kamu sekarang?” ucap Darren dengan tatapan yang tak lepas dari mata Aya.


“Aku juga baik-baik saja. kata Mamanya hanya kelelahan dan tekanan darahku rendah.” Jawab Aya sambil menyentuh rahang kokoh suaminya.


Perlahan Darren melepaskan sentuhan tangan Aya. Setelah itu dia bangun dari tidurnya dan duduk di bibir ranjang. Aya tahu kalau suaminya pasti belum terbiasa dengan sentuhannya. Dia memakluminya, karena memang butuh proses lama untuk membuat Darren sembuh dari amnesianya.


**


Malam harinya Aya dan Darren berkumpul di meja makan bersama Papa Mirz dan Mama Devina. Kedua orang tua Aya memang sengaja belum pulang karena khawatir dengan keadaan Aya dan juga Darren. Namun saat melihat Darren terlihat sudah baik-baik saja, mungkin setelah makan malam nanti mereka akan pulang.


Aya tampak sibuk mengambilkan beberapa makanan di piring Darren. Darren sendiri tidak menolaknya. Justru dia sangat senang dilayani seperti itu. apalagi Aya terlihat melayaninya dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


Mereka berempat tampak menikmati makan malam itu. sambil sesekali diselingi dengan obrolan ringan, meskipun mereka tahu kalau Darren terlihat bingung. Namun tidak masalah, setidaknya Darren bisa tahu kelau Aya selama ini benar-benar tulus menicintainya.


Begitu juga kedua orang tua Aya. Meskipun mereka melihat Aya tampak menunjukkan rasa cintanya untuk Darren, namun dari lubuk hati mereka sebenarnya sangat sedih melihatnya. Rasanya hubungan pernikahan Aya dan Darren selama ini belum pernah menemukan kebahagiaan. Bahkan sebelumnya mereka berdua hampir bercerai lantaran tidak ada rasa cinta pada pernikahannya itu. setelah itu cinta mereka tumbuh, namun tidak bertahan lama sudah ada badai menerjangnya. Bahkan sampai membuat Darren amnesia.


Tanpa terasa air mata Mama Devina mengalir begitu saja. namun wanita itu buru-buru menghapusnya agar Aya tidak melihatnya. Yang ada justru membuat anaknya ikut bersedih. Sayangnya Darren lebih dulu melihat Mama mertuanya sedang mengusap air matanya. entahlah, apa yang dirasakan Darren saat ini.


“Aya, Papa tidak memaksa kamu untuk kembali ke perusahaan. Namun karena jabatan kamu masih menjadi Ceo di sana. Papa hanya ingin jika suatu saat membutuhkan kamu, Papa berharap kamu bisa datang.” ujar Papa Mirza sebelum pulang.


“Iya, Pa. Papa jangan khawatir. Aya pasti kembali ke perusahaan kok, Pa.” jawab Aya sambil melirik suaminya yang tampak diam saja.


Setelah kedua orang tua Aya pulang, Aya mengajak Darren duduk di ruang tengah. Dia ingin berduaan dengan suaminya walau Darren masih belum mengingat apapun tentangnya. Yang penting Aya berusaha membangun keharmonisan rumah tangganya seperti dulu, sebelum Darren mengalami amnesia.


“Apa kamu ingat, kalau aku sebenarnya juga menjadi Ceo di perusahaan Papa? Bahkan perusahaan kamu dan perusahaan Papa menjalin kerjasama.” Tanya Aya mencoba mengingatkan Darren. Namun sayangnya Darren menjawab dengan gelengan kepala.


“Nggak apa-apa kalau kamu nggak ingat. tapi, bolehkah aku kembali lagi ke perusahaan setelah sekian lama aku vakum?”


“Bukannya kamu sedang hamil? Apa tidak membuatmu kelelahan lagi dan berdampak pada kehamilanmu jika kamu bekerja lagi? maaf, meskipun aku masih belum mengingat apapun tentang hubungan kita, tapi aku akan berusaha bertanggung jawab sebagai suamimu dengan memberimu nafkah. Walau aku sendiri masih mengandalkan Julian.”


Aya mengulas senyum. Jujur saja dia sangat senang melihat Darren yang terus memperhatikan dirinya. Mungkin tidak akan lama lagi ia akan bisa membuat suaminya kembali seperti dulu lagi.


“Iya. tapi aku bekerja, tujuan utamaku bukan karena uang. Melainkan untuk membantu Papa. Apa kamu mengijinkanku?”


“Terserah kamu saja. aku mau istirahat dulu.” jawab Darren dan lebih dulu beranjak meninggalkan Aya.

__ADS_1


Darren menaiki tangga sambil memegangi kepalanya. Namun Aya sama sekali tidak melihatnya, karena Aya masih tak henti-hentinya tersenyum dengan perhatian yang diberikan oleh suaminya baru saja.


Darren lebih dulu sampai kamarnya. Dia mengambil beberapa obat dari rumah sakit tadi. obat yang hanya diminum saat kepalanya terasa pusing saja. kemudian Darren mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Julian.


Cklek


Aya masuk ke dalam kamar melihat suaminya baru saja merebah. Dia tahu kalau Darren belum memakai piyama tidurnya. Aya pun dengan sigap mengambilnya, juga ia berganti pakaiannya sendiri.


“Kamu, ganti baju dulu!” ujar Aya memberikan setelan piyama pada Darren.


“Nggak usah. Aku pakai ini saja.” tolaknya dan langsung tidur memunggungi Aya.


Aya sama sekali tidak marah. Dia mengembalikan piyama itu, lalu menyusul Darren yang sudah terlihat tidur.


“Maaf, bolehkah aku tidur sambil memelukmu?” bisik Aya yang entah didengar oleh Darren atau tidak.


Aya langsung merapatkan tubuhnya dan memeluk suaminya dari belakang. Sedangkan Darren yang masih belum sepenuhnya terlelap, dia merasa tidurnya sangat nyaman. Sepertinya benar apa yang akan ia lakukan besok, dengan bertemu Julian.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2