Batal Cerai

Batal Cerai
Ch 47. Jabatan Baru


__ADS_3

Aya cukup nyaman dalam pelukan suaminya. namun ada hal yang sedikit mengganjal hatinya. Baru saja ia mengungkapkan perasaannya pada Darren, namun kenapa pria itu diam saja tidak membalasnya. Apakah Darren tidak mencintainya. Atau memang Darren adalah tipe pria yang tidak perlu mengungkapkan perasaannya dengan kata-kata. Cukup puaskan Aya dengan perlakuan dan sikap Darren selama ini tanpa ungkapan cinta yang sebagian besar memang diinginkan oleh kaum wanita. akhirnya Aya hanya pasrah. tidak mungkin Darren tidak mencintainya kalau sudah berjalan sejauh ini.


“Sayang, bagaimana kalau kita pergi berbulan madu?” tanya Darren setelah mengurai pelukannya.


“Kapan? Dan kemana? Kamu tahu sendiri kan kalau minggu depan aku sudah aktif bekrja lagi. otomatis kita sudah tidak punya banyak waktu, kecuali weekend.


Darren terdiam, membenarkan ucapan istrinya. Tapi memang untuk pergi berbulan madu tidak harus dipaksakan. Harus dipikir dan direncanakan secara matang.


“Gampanglah, Sayang. Nanti kita cari hari yang pas. Aku ingin mengajak kamu ke negara kelahiranku, di mana saat ini Papa tinggal. Bagaimana?”


“Boleh. Pasti Papa sangat senang jika kita berkunjung ke sana sekaligus untuk bulan madu.” Sahut Aya antusias.


Darren menyunggingkan senyum melihat reaksi bahagia Aya. Setelah itu ia membisikkan sesuatu tepat di telinga Aya.


“Kalau begitu, kita bulan madunya di rumah saja dulu. Sekarang.” bisik Darren.


Aya melotot tak percaya menoleh pada suaminya. padahal semalam mereka baru saja melakukan kegiatan panas itu. dan siang ini pun suaminya meminta lagi.


“Apa kamu nggak capek?”


Darren menggelengkan kepalanya. Tak lama kemudian tubuh Aya melayang begitu saja saat Darren sudah membopongnya masuk ke dalam kamar.


Akhirnya siang itu mereka kembali bergulat dalam kenikmatan. Darren yang sudah merasakan candu tubuh Aya, ia hampir sulit mengakhiri kegiatan itu. kalau saja tidak mengingat Aya sudah terkulai lemas.


***


Seminggu berlalu. Hari ini juga adalah hari pertama Aya bekerja kembali di perusahaan Papanya setelah beberapa waktu lalu sempat cuti. Darren tidak mengijinkan istrinya pergi ke kantor dengan membawa mobilnya sendiri. Ia akan setia antar jemput. Lagi pula jalan ke kantor Darren dan Papa Mirza searah. Kalaupun Darren ada keperluan, atau sedang ke luar kota, tentunya ia akan meminta sopir untuk mengantarnya.


Perusahaan Darren dan Papa Mirza juga masih menjalin kerjasama. Jadi, Darren masih bisa bertemu dengan sang istri di jam kantor jika memang sedang ada meeting.


Saat ini Aya dan Darren sedang dalam perjalanan ke kantor. Darren mengantar Aya terlebih dulu. Namun kali ini, dan untuk pertama kalinya, Darren hanya mengantar sampai depan kantor saja, karena dia ada meeting penting dengan kliennya.


“Selamat bekerja ya, Sayang!” ujar Darren setelah menghentikan mobilnya.


Aya mencium punggung tangan suaminya, lalu dibalas kecupan lembut di keningnya oleh sang suami.


Aya melambaikan tangannya setelah keluar dari mobil. Setelah itu ia masuk.

__ADS_1


Aya yang sudah terkenal ramah dengan beberapa karyawan, ia menyapa satu per satu karyawan Papanya yang kebetulan berpapasan dengannya. namun saat Aya baru saja tiba di ruang kerjanya dulu, yaitu ruangan direktur keuangan, ternyata di sana sudah ada yang menempati.


“Selamat pagi, Nona? Ada yang bisa saya bantu?” sapa pria seumuran Darren dengan ramah.


“Maaf. Kamu siapa? Dan kenapa bisa berada di sini?” tanya Aya bingung. Karena Papanya juga tidak memberitahu apapun padanya.


“Perkenalkan, saya Naufal. Direktur keuangan yang baru.” Jawabnya.


“Oh, ya sudah.” Aya tidak bertanya apapun lagi. karena dia yakin pria itu juga tidak akan mengerti. Lebih baik bertanya langsung pada Papanya.


Aya masuk ke ruang kerja Papanya. Ternyata ruangan itu masih kosong. Akhirnya Aya memilih untuk menunggu sebentar, karena dia bingung mau masuk ke ruangan mana.


Cklek


Papa Mirza baru saja datang, langsung masuk ke ruang kerjanya.


“Pa? Papa ini gimana sih? Aku sudah kembali ke kantor tapi kok posisiku sudah ada yang menempati. Lalu aku harus bekerja di bagian apa lagi?” tanya Aya sedikit kesal.


“Biarkan Papa duduk dulu dong, Ay!” jawab Papa Mirza.


Aya pun mengikuti kemana Papanya pergi. Yaitu menuju sofa yang tak jauh dari meja kerja Papa Mirza.


“Langsung saja deh, Pa. sekarang aku harus di posisi mana?”


“Semenjak menikah kok kamu jadi nggak sabaran gini sih, Ay? Baiklah. Ruangan kamu sekarang ada di sebelah ruangan Papa.”


Aya terdiam sejenak. Ia mengingat-ingat kalau ruangan di samping ruang kerja Papanya adalah ruangan CEO. Ruangan CEO dan Direktur Utama memang bersebelahan. Apa itu artinya ia akan menjabat posisi itu.


“Pa? Papa nggak salah?” tanya Aya memastikan.


“Nggak. Karena kamu anak Papa yang pantas mendapatkan posisi itu. sebentar lagi ada meeting untuk memberitahukan jabatan baru kamu.”


Papa Mirza sebelumnya memang sudah berdiskusi dengan istrinya mengenai posisi Aya saat masuk lagi ke perusahaan. Karena selama ini posisi CEO ditempati oleh saudara dari pihak sang istri. Kebetulan, seminggu yang lalu adik ipar Mama Devin aitu mengundurkan diri karena akan pindah ke luar kota. Jadi Papa Mirza memutuskan Aya lah yang menggantikan posisi itu.


“Yaahhhh, nggak seru dong Pa kalau aku yang jadi CEO nya.” Keluh Aya, dan membuat Papa Mirza heran. Karena dimana-mana orang pasti senang dengan jabatan CEO. Kenapa Aya justru terlihat tidak senang.


“Kenapa memangnya? Apa kamu mau pilih jadi Cleaning Service? Atau Office Girl?”

__ADS_1


“Ih, Papa ini bercandanya nggak asyik. Begini, Papaku Sayang. Kalau yang jadi CEO nya aku, jelas waktuku sangat padat. jadi nggak bisa punya banyak waktu dengan suami dong, Pa.”


Mirza hanya menggelengkan kepalanya setelah mengetahui alasan Aya menolak jabatan CEO. Tapi dia juga bahagia karena dengan begitu hubungan anak dan menantunya sangat harmonis.


“Kerja, Aya! Jangan mikirin enak-enak saja. suami kamu juga jadi CEO. Sama kan jabatan kalian. apalagi kita masih menjalin kerjasama.”


“Ok deh, Pa. Aya setuju kalau begitu. Aku masuk ke ruangan baruku dulu ya, Pa?” ujar Aya lalu mencium pipi Papanya dengan singkat.


Papa Mirza hanya tersenyum melihat tingkah putrinya.


“Jangan lupa nanti jam sepuluh meeting, Ay!” seru Papa Mirza mengingatkan.


***


Sementara itu pagi ini Darren meeting dengan kliennnya yaitu Tuan Very. Mereka hanya berdua saja. dan meetingnya pun dilakukan di luar atas permintaan Tuan Very.


“Apa anda sudah menikah lagi Tuan Darren?” tanay Tuan Very tiba-tiba.


Memang pembahas meeting kali ini tidak terlalu serius. Mereka hanya menyepakati tentang kunjungan proyek yang ada di kota C. jadi sekarang bisa santai.


“Dari mana anda tahu kalau saya sudah pernah menikah, Tuan? Dan maaf, sepertinya ini privasi saya.” jawab Darren merasa tidak nyaman dengan pertanyaan kliennya.


“Maaf, bukannya saya lancang. Tapi itu sudah hal umum yang diketahui banyak kalangan pembisnis kalau anda seorang duda. Kalau tidak berkenan menjawab, saya tidak memaksa. Maaf, saya hanya ingin lebih dekat saja dengan anda.” ujar Tuan Very berusaha tetap tenang.


“Saya sudah menikah.”


“Wah, selamat buat pernikahan kedua anda. semoga langgeng. Nanti kalau ada kesempatan, kita bisa makan malam bersama, sekaligus anda bisa mengajak istri anda.”


Darren jelas tidak langsung mengiyakan. Apalagi kliennya itu sudah pernah bertemu dengan Aya. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada hubungan rumah tangganya.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2