Batal Cerai

Batal Cerai
Ch 43. Siang Pertama


__ADS_3

Julian sejak tadi sedang berdiam diri di ruang kerjanya. Pria itu sungguh dilemma hanya perkara makan siang. Tadi Aya sempat menawari bekal makanan, namun sampai sekarang perempuan itu tak kunjung datang ataupun menghubunginya untuk mengambil makanan itu. kalau dirinya memutuskan untuk makan di kantin, lalu kalau Aya memberikan makanan itu, jelas mubadzir.


“Apa sebaiknya aku masuk ke ruangan bos saja, ya? Mungkin saja Nona Aya lupa. Karena fokus meladeni suaminya yang sedang cemburu.” Gumam Julian sambil menimbang-nimbang.


Akhirnya Julian memutuskan untuk datang ke ruang kerja bosnya. Di saat jam makan siang seperti ini memang Julian sudah terbiasa keluar masuk ruangan bosnya tanpa mengetuk pintu. Tentu saja itu berlaku khusus untuk Julian. Namun alangkah terkejutnya dia saat baru masuk, sudah disuguhi dengan adegan live romantis Darren yang sedang menggendong Aya layaknya film india yang dulu sering ia tonton semasa kecil.


Brukk


Darren yang terkejut dengan kedatangan Julian secara tiba-tiba, ia melepas Aya begitu saja. hingga tanpa ia sadari, Aya terjatuh di atas lantai.


Aww….


“Nona, anda baik-baik saja?” Julian segera menghampiri Aya. Sedangkan Darren yang berada di dekat Aya pun merasa ng’blank.


“Jangan mendekat!” seru Darren mencegah langkah Julian.


“Maafkan aku!” Darren segera membantu Aya bangun. Setelah itu mereka berdua menuju sofa.


Sebenarnya Aya sangat malu karena Julian melihat apa yang baru saja ia lakukan dengan sang suami. tapi rasa sakit di punggungnya akibat jatuh, membuatnya lupa dengan rasa malunya.


“Bisa nggak kalau masuk itu ketuk pintu dulu?” tanya Darren pada Julian yang masih berada di dalam ruangannya.


“Maaf, Tuan.” Hanya itu yang diucapkan oleh Julian.


Aya mengambil salah satu box makanan lengkap dengan lauknya. Setelah itu ia berikan pada Julian, karena memang tadi dirinyalah yang menawarkan makanan.


“Terima kasih, Nona.” Ucap Julian setelah menerima makanan dari Aya.


“Sudah sana! Cepat pergi.” Usir Darren dengan kesal.


“Silakan dilanjutkan, Tuan!” teriak Julian saat hampir keluar dari ruang kerja Darren.


Darren hanya mendengus kesal. Setelah itu dia duduk di sofa sambil menghembuskan nafasnya kasar. Sungguh hari ini adalah hari sial baginya.

__ADS_1


“Silakan dimakan!” Ujar Aya setelah menyiapkan makanan untuk Darren.


Darren menerima makanan itu tanpa mengucap sesuatu. Lebih baik mengisi perutnya yang sudah kelaparan, agar ia bisa konsentrasi penuh. Entah apa yang akan dilakukan setelah ini. melanjutkan yang tadi sempat tertunda atau melanjutkan pekerjaannya.


Aya masih setia menemani suaminya makan siang. Darren pun sesekali menyuapi istrinya, karena Aya tidak ikut makan bersamanya.


“Ayo makan lagi!”


“Sudah, Ren! Aku tadi di rumah sudah makan.”


Akhirnya Darren tidak lagi menyuapi Aya. Dia menghabiskan semua makanan yang dibawa oleh istrinya. Rasanya memang selalu enak.


Usai makan siang, Aya segera membereskan sisa makanan itu. setelah itu ia akan pulang. namun Darren melarangnya.


“Kamu lanjutkan saja kerjaan kamu. Aku akan menyambutmu saat pulang nanti.” ujar Aya yang merasa tidak nyaman jika harus menunggui suaminya kerja. Takutnya malah terjadi seperti tadi.


“Hanya satu jam. Setelah ini aku antar pulang, sekalian juga aku pulang.”


Akhirnya Aya mengangguk pasrah. dia duduk di sofa sambil rebahan. Sedangkan Darren sibuk melanjutkan pekerjaannya.


Waktu berjalan begitu lambat. Satu jam yang dijanjikan Darren untuk Aya menunggunya, sampai sekarang pun pekerjaan tak kunjung selesai. akhirnya tidak ad acara lagi selain menghubungi Julian untuk melanjutkan pekerjaan itu. padahal dia hanya membutuhkan waktu lima belas menit lagi pekerjaan itu selesai.


Suara ketukan pintu dari luar membuat Aya bangun dari posisi rebahannya. Ternyata yang masuk adalah Julian.


“Tolong kamu kerjakan ini semua. Nanti saat jam pulang kantor, kamu berikan aku ke rumah.” ucap Darren.


“Ke rumah?” tanya Julian bingung.


“Iya. aku harus pulang sekarang juga, karena masih ada urusan penting.” Jawab Darren dengan suara berbisik dan melirik Aya sekilas.


Julian yang mengerti pun seketika paham. Ternyata bosnya ingin melanjutkan kegiatan tadi yang sempat tertunda. Akhirnya Julian pun pasrah. nasib sebagai bawahan sekaligus jomblo abadi yang mengenaskan.


**

__ADS_1


Kini Darren dan Aya sedang dalam perjalanan pulang. sejak tadi Darren tak henti-hentinya mengulaskan senyum pada Aya. Namun tidak untuk Aya. Dia sangat gugup karena sebentar lagi akan menunaikan tugasnya sebagai istri Darren. Padahal kalau boleh mengulur waktu, ingin sekali Aya melakukannya nanti malam, seperti kebanyakan pasangan suami istri melakukan.


“Kenapa diam saja?” tanya Darren menggenggam lembut tangan istrinya.


“Nggak apa-apa.” Jawab Aya berusaha tenang.


Sesampainya di rumah, mereka berdua bergegas masuk. Darren lebih dulu masuk ke ruang kerjanya untuk meletakkan tas kerjanya.


“Kamu siap-siap dulu ya? Setelah ini aku.”


Ucapa Darren baru saja sudah membuat jantung Aya semakin tak karuan. Memangnya harus bersiap-siap seperti apa. Karena memang Aya masih awam mengenai hal ini. bahkan untuk baju haram pun dia tidak punya.


Aya masuk ke kamar. dia hanya mandi dan memakai wangi-wangian saja. setelah itu keluar dari kamar mandi masih menggunakan bathrope. Bertepatan itu Darren baru masuk kamar. pria itu tersenyum hangat pada Aya sebelum masuk ke kamar mandi.


Aya menunggu suaminya di sofa sambil berselancar di dunia maya untuk mencari informasi mengenai malam pertama pasangan suami isri. Eh, tapi sekarang masih siang ya. Berarti siang pertama.


Aya membaca dengan teliti bagaimana cara melayani suami di atas ranjang. Dan bagaimana rasanya untuk pertama kalinya berhubungan badan dengan suami. sesekali Aya mengerutkan kening karena merasa ngeri. Bagaimana tidak. Informasi yang dia dapat bahwa untuk pertama kali melakukan hubungan badan, pasti rasanya sakit luar biasa. Karena untuk pertama kalinya selaput dara itu pecah, hingga mengeluarkan darah.


Aya bergidik ngeri. Dia memilih untuk tidak melakukanya sekarang. karena sangat takut. Mungkin setelah ini ia akan memberanikan diri untuk bernego pada Darren agar tidak melakukannya sekarang.


Namun tiba-tiba saja, tanpa Aya sadari, Darren sudah duduk di sampingnya. Pria itu tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh Aya dengan ponselnya. Darren justru sibuk menciumi telinga Aya dengan tangan yang mulai aktif membelai paha mulusnya.


Rasanya Aya seperti tersengat listrik. Dia sungguh tidak bisa menolak sentuhan Darren. Bahkan rasa takut yang ia bayangkan baru saja lenyap begitu saja berganti dengan rasa nikmat saat Darren mulai menyapu bibirnya dengan lembut.


Perlahan Darren mengambil ponsel Aya dan meletakkannya di sofa. Sedetik kemudian Aya merasa tubuhnya seperti melayang, karena Darren sudah menggendongnya membawa ke tempat tidur.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2