
Lissa tidak peduli jika tadi ia sempat berpapasan dengan sahabatnya, khususnya dengan calon suami Aya yang pernah ia temui tadi siang di sebuah restaurant. Lagi pula Aya juga tidak terlalu peduli dengan tujuannya di hotel ini. apalagi calon suami Aya yang terlihat datar. Yang terpenting saat ini ia bisa menyalurkan hasrattnya pada sosok pria yang sudah lama ia idam-idamkan. Ya, siapa lagi kalau bukan Gandhi.
Tanpa Aya ketahui ternyata sudah beberapa bulan ini Lissa menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi dengan Gandhi, kekasih sahabatnya. hubungan saling butuh lebih tepatnya. Karena Gandhi juga tidak pernah mengungkapkan perasaannya pada Lissa. Dia hanya membutuhkan tubuh Lissa saja. begitu juga dengan Lissa yang tidak mempermasalahkan hal itu.
Saat ini Lissa sudah berpakaian haram siap untuk memberikan kepuasan pada Gandhi. Sedangkaan Gandhi sendiri masih berada di kamar mandi. lissa juga heran, padahal kedatangan Gandhi tadi siang mereka berdua sudah melakukannya, tapi malam ini Gandhi menghubunginya lagi untuk melakukan hal yang sama. Tapi Lissa juga tidak keberatan. Justru dia semakin senang karena merasa dibutuhkan.
Sementara Gandhi yang memilih menjalin hubungan dengan sahabat kekasihnya, karena selama menjalin hubungan dengan Aya, dia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali hanya ciuman. Dan bertepatan itu Lissa datang menggodanya. Sebagai pria normal, jelas Gandhi tidak bisa menolaknya. Namun ia sudah mengatakan pada Lissa kalau dia tidak bisa menjanjikan apapun, karena cintanya hanya untuk Aya.
Cklek
Lissa mengulas senyum termanisnya saat melihat Gandhi keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk kimono. Dengan langkah gontai, ia menghampiri pria itu dan bersiap untuk menghabiskan malam indah bersama.
***
Sementara itu malam ini Darren sangat sulit memejamkan matanya. pria itu dirundung gelisa setelah apa yang terjadi beberapa saat yang lalu bersama Aya. Perempuan yang akan menjadi istrinya.
Darren mengusap kasar wajahnya. Setelah itu jemarinya menyentuh bibirnya sendiri. Bibir yang dengan lancang telah mencium Aya. Darren sungguh tidak menyangka kalau ia bisa melakukan hal itu. terlebih setelah melakukannya, ia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Aya semakin membencinya.
Tapi tunggu dulu, bukankah itu akan lebih baik. Lagi pula diantara dirinya dan Aya tidak ada rasa ketertarikan. Justru Darren sangat menyesali perbuatannya itu karena ia sama seperti sedang menghianati mendiang istrinya.
“Jenifer, maafkan aku. aku tidak bermaksud menduakan kamu.” Lirihnya sendu.
Akhirnya Darren mencoba merebahkan tubuhnya agar segera menemui kantuknya. Namun nihil. Hingga pagi menjelang, pria itu masih terjaga. Tampak jelas ada lingkaran hitam di kelopak matanya. mau absen dulu dari kantor, tapi pagi ini ada meeting. Akhirnya dengan wajah yang lesu, Darren masuk ke kamar mandi sebelum bersiap ke kantor.
“Kamu sakit, Ren?” tanya Papa Vano saat sedang duduk di meja makan bersama Darren.
__ADS_1
“Nggak, Pa. kurang istirahat saja semalam.” Jawab Darren sembari mengambil makanan untuk sarapannya.
“Memangnya semalam kamu pulang jam berapa? Lalu di garasi itu mobil siapa? Mobil kamu kemana?” tanya Papa Vano beruntut. Karena memang pria itu tidak mengenali mobil Aya, calon menantunya.
“Mobil Aya, Pa.” jawab Darren singkat dengan tatapan fokus tertuju pada piringnya.
Tuan Vanno pun menyunggingkan senyumnya. Itu artinya semalam Darren baru saja berkencan dengan Aya. Dan itu berarti diantara mereka berdua sudah menunjukkan perkembangan dalam hubungannya. Terlebih pada Darren.
Tuan Vano sendiri khawatir jika Darren tidak bisa melupakan mantan istrinya. Wanita yang sangat dicintai oleh anaknya dan harus pergi untuk selamanya. Meskipun kejadian itu sudah lama, hampir lima tahun. Namun dengan mendengar kalau semalam putranya itu baru pulang berkencan dengan Aya, itu tandanya Darren sudah move on dari Jenifer.
Usai sarapan, Darren menghubungi Julian agar berangkat ke kantor dari rumahnya. Jadi mobilnya nanti Julian yang bawa, sedangkan dirinya mengembalikan mobil Aya.
“Papa berangkat dulu, Ren. Kebetulan hari ini Papa mau ke luar kota untuk meninjau pembangunan proyek baru kita.” Pamit Tuan Vano pada putranya.
“Iya, Pa. hati-hati di jalan. Ini sebentar lagi Darren juga berangkat.”
Darren menunggu di luar hotel saat Julian mengambil mobilnya di basement. Namun saat pria itu tengah menatap jalanan, tiba-tiba saja Darren melihat seorang perempuan yang sudah beberapa kali ia temui. Perempuan itu tak lain adalah Lissa.
Yang membuat Darren bingung adalah Lissa saat ini sedang bersama seorang pria yang sedang berciuman dengan Aya kemarin malam. bahkan kedua orang itu berjalan memasuki sebuah restaurant yang ada di seberang hotel sambil bergandengan tangan.
Kemudian Darren ingat. perempuan itu semalam bilang pada Aya kalau akan menemui sepupunya yang sedang menginap di hotel miliknya. Jadi Darren tidak terlalu mempedulikannya walau ada yang aneh di hatinya.
Kini Darren sudah dalam perjalanan menuju rumah Aya untuk mengembalikan mobilnya. Dia masuk ke halaman rumah Aya, kemudian memberikan kunci mobilnya satpam rumah Aya. Karena memang Darren sedang terburu-buru.
Baru saj Darren hendak pulang, ia melihat Aya keluar rumah hanya mengenakan pakaian rumahannya. Pakaian yang menurutnya sangat mini. Namun sepertinya Aya tidak menyadari keberadaannya, jadi Darren juga tidak perlu menghampiri perempuan itu. perempuan yang sudah membuatnya tidak tidur semalaman.
__ADS_1
Sedangkan Aya yang baru menyadari mobilnya sudah ada di rumah, ia bertanya pada satpam.
“Siapa yang mengatar mobilku, Pak?”
“Oh, Tuan Darren, Nona. Ini kuncinya. Tadi Tuan Darren hanya menitipkan saja setelah itu buru-buru pergi.”
Aya menerima kunci mobil itu dan mengucapkan terima kasih pada satpam rumahnya. Dia juga merasa lega karena tidak bertemu dengan pria itu pagi ini. pria yang sudah membuatnya tidak bisa tidur semalaman.
Ternyata Aya juga merasakan hal yang sama dengan Darren. Lebih tepatnya setelah kejadian dimana Darren menciumnya. Hanya saja Aya baru bisa tidur menjelang pagi. jadi dia tidak masalah mau bangun siang, karena tidak ada pekerjaan.
Hari ini Aya ada keperluan ke kampusnya untuk menyelesaikan beberapa administrasi mengenai persiapan wisudanya. Aya juga sudah berjanji dengan Lissa akan berangkat bersama. Karena memang mereka berdua akan wisuda bersama.
Pukul sebelas, Aya sudah tampak rapi dan bersiap menjemput Lissa ke rumahnya. Meskipun kepalanya masih pusing dan sedikit terlihat mata pandanya, namun Aya harus tetap berangkat ke kampus.
“Kamu sakit, Ay? Kok ada kantong matanya gitu?” tanya Lissa saat baru saja masuk ke mobil Aya.
“Kurang tidur saja, Liss. Kepalaku agak pusing.” jawab Aya sambil menolej sebentar ke arah Lissa. Namun sedetik kemudian Aya membulatkan matanya ssat melihat banyak sekali tanda merah di leher Lissa.
“Astaga Lissa!!”
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!