
Usai menghabiskan makan siangnya, Aya segera melanjutkan perjalanannya. Dia sudah berencana akan pergi ke luar kota. Ke kota yang tidak mungkin diketahui oleh Darren.
Dalam perjalanan, Aya sama sekali tidak fokus. Pikirannya masih tertaut dengan Darren. Termasuk hatinya. Pria yang selama ini berhasil mencuri hatinya ternyata tidak mencintainya. Sungguh tega sekali Darren pada dirinya
Aya memilih untuk menepikan dulu mobilnya. Hatinya sedang tidak baik-baik saja. dan sangat berbahaya jika terus memaksa melakukan perjalanan. Apalagi perjalanannya membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
Aya membuka kaca jendela mobilnya. Dia menelungkupkan kepalanya pada setir mobil. Tangisnya pecah begitu saja saat menyadari bahwa hatinya tidak bisa melupakan Darren. Namun untuk kembali lagi pada pria itu juga rasanya tidak mungkin. Walau Darren nanti sudah berusaha meminta maaf dan menjelaskan kesalah pahaman itu. tetap saja yang namanya perasaan tidak bisa dibohongi. Termasuk perasaan Darren yang masih terikat dengan mantan istrinya.
Aya tidak menyadari kalau di belakang mobilnya sudah ada sebuah mobil yang sejak tadi mengikutinya. Salah satu penumpang mobil itu juga keluar dan menghampiri mobil Aya dengan pelan.
Melihat kaca mobil Aya sedang terbuka dan terdengar suara isak tangis seseorang, orang itu merasa memiliki kesempatan untuk menculik Aya. Pria itu mengetuk dulu pintu mobil Aya. Dan saat Aya melihat ke arah luar, pria itu langsung membekap mulut Aya dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius.
Dengan mudah pria itu membawa Aya masuk ke dalam mobilnya untuk segera dibawa ke bosnya yang kini sudah menunggu di bandara. Sedangkan mobil Aya sendiri diserahkan pada salah satu penumpang mobil tadi, untuk menghilangkan jejak.
***
Keadaan Darren hari ini benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Pria itu sejak pagi sampai sore, sama sekali tidak beranjak dari tempat tidur. Julian pun sampai masuk ke kamar bosnya karena ada file penting yang butuh tanda tangan Darren.
“Tuan, apa anda sudah periksa ke dokter?”
Darren menggeleng lemah sambil memberikan file yang baru saja ia tanda tangani. Seharian ini dia memang hanya tiduran saja. mungkin karena memikirkan istrinya, ia sampai lupa untuk menghubungi dokter pribadinya.
Julian pun segera menghubungi dokter keluarga untuk segera datang memeriksa bosnya. Julian juga tidak tega dengan Darren yang selama ini sangat jarang sakit.
“Jul, aku minta tolong.”
“Apa, Tuan?”
__ADS_1
“Tolong kamu cari di mana istriku sekarang.”
Julian sangat terkejut. Dia memang sama sekali tidak tahu kalau istri bosnya sedang tidak ada di rumah. Darren juga menceritakan pada Julian tentang kesalah pahaman yang terjadi antara dirinya dengan Aya.
“Apa Tuan masih belum bisa melupakan Nona Jenifer?” tanya Julian.
“Entahlah Jul. akhir-akhir ini aku tiba-tiba teringat dengan dia. Bahkan aku sempat memimpikan dia pergi jauh meninggalkan aku. hingga ujung-ujungnya seperti ini. Aya pergi dari rumah ini.”
“Kalau begitu lebih baik anda tidak usah mencari Nona Aya. Biarkan saja dia pergi, Tuan.” Sahut Julian yang ikut jengkel dengan sikap Darren.
“Kamu berani mengguruiku, Jul?”
“Tuan, kalaupun saya berhasil menemukan Nona Aya dan membawanya pulang, tapi hati Nona Aya sudah terlanjur sakit Tuan. Saya kira saat anda membatalkan perceraian anda dulu karena anda sudah jatuh cinta pada Nona Aya. Mungkin sebentar lagi perceraian itu akan terjadi sungguhan.”
Selesai mengatakan itu, Julian segera keluar dari kamar darren. Darren sendiri tampak terdiam merenungi ucapan Julian. Namun meskipun Julian baru saja mengatakan hal itu pada Darren, dia tetap menjalankan perintah bosnya untuk mencari Aya.
Malam ini Darren masih berbaring di atas tempat tidurnya. Keadaannya sudah pulih. Dia tidak merasa pusing lagi setelah mendapat obat dari dokter.
Darren berjalan ke arah lemarinya. Dia ingin membuka salah satu laci bagian atas yang jarang sekali ia buka. Namun Darren sangat terkejut saat laci itu dalam keadaan tidak terkunci. Ya, walaupun kuncinya selalu menempel. Tapi dia memang selalu menguncinya dan tidak ada yang pernah membukanya.
“Apa jangan-jangan Aya yang membuka laci ini?” gumamnya dengan perasaan tak menentu.
Darren tampak mengacak rambutnya dengan kasar. Kalau ada orang yang berani membuka laci itu, dan orangnya adalah Aya, kini dirinya memang pantas disalahkan.
“Tidak!! Aya, maaafkan aku!!” gumamnya dengan perasaan semakin kacau.
Darren tidak bisa membiarkan hal ini terjadi berlarut-larut. Dia harus menemukan Aya secepatnya. Pria itu baru menyadari dengan ketidak hadiran Aya di sisinya membuat hidupnya berantakan. Dan bayang-bayang Jenifer yang belum lama ini menghampirinya ternyata bukan berarti apa-apa. Karena sampai kapanpun orang yang telah meninggal, tidak akan bisa kembali lagi. sekalipun Darren sangat mencintai wanita itu. tapi dulu. karena sekarang hanya nama Aya yang ada di hatinya.
__ADS_1
Darren tak henti-hentinya mengucapkan kata maaf pada Aya. Meskipun orangnya tidak ada di sini. tapi Darren berharap Aya bisa merasakan bahwa dirinya kini benar-benar kehilangan Aya.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. ponsel Darren bergetar ada notif pesan masuk. Dan itu pesan dari Julian.
Darren membaca pesan dari Julian yang mengatakan kalau hari ini Aya datang ke kantor hanya setengah hari saja. wanita itu sudah meminta ijin cuti lebih dulu pada Papanya dengan alasan akan pergi berbulan madu. Selebihnya, Julian tidak tahu kemana Aya pergi.
Darren meremat kasar rambutnya. Kini rencana bulan madunya dengan sang istri gagal karena ulahnya sendiri. Kemudian Darren membuka laci lemarinya itu dan mengambil barang-barang milik mendiang istrinya termasuk foto kenangannya bersama Jenifer.
Dengan nafas memburu akibat kekesalannya sendiri, Darren bahkan sampai membanting figura foto dirinya bersama Jenifer.
“Maafkan aku, Aya! Aku tidak bermaksud melukai perasaan kamu. Aku sangat mencintaimu, Aya!!”
***
Sementara itu di sebuah apartemen elit, tampak seorang wanita cantik sedang berdiri di balkon kamarnya dengan tangaan memegang gelas berisi Wine. Lissa tampak tersenyum sinis sambil menyusun rencana apik setelah mengetahui satu rahasia besar dari seorang Very Atmaja.
Apalagi tadi siang Very, atau sugar daddy’nya mengatakan akan pergi ke luar negeri dalam waktu yang tidak bisa ditentukan, justru akan membuat Lissa bisa semakin mulus menjalankan rencananya. Rencana untuk memiliki Darren.
“Sebentar lagi kamu akan menjadi milikku, Tuan Darren yang tampan. Dan buat kamu, Ayara! Semua hal yang kamu miliki akhirnya akan menjadi milikku juga. dulu Gandhi. Sekarang suami kamu.” Gumamnya dengan tawa sinis.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!