Batal Cerai

Batal Cerai
Ch 39. Membiasakan


__ADS_3

Meskipun ini bukan pertama kalinya mereka berciuman, namun ciuman kali ini rasanya sangat berbeda. Benar, jika jantung mereka sedang berpacu kuat, namun kegiatan itu cukup membuat mereka rileks. Apalagi Darren yang sangat menikmati bibir manis Aya. Aya sendiri tidak menolaknya. Justru ia perlahan mulai membalas ciuman Darren. Hingga Aya menepuk dada Darren karena ia hampir kehabisan pasokan oksigen.


“Maaf!” lirih Darren sambil jemarinya mengusap bibir basah Aya sisa salivanya.


“Nggak apa-apa. Maaf, aku lupa menyiapkan baju untuk kamu.” Ucap Aya setelah sadar kalau memang ia belum menyiapkan baju ganti untuk suaminya. semua itu karena ia yang sejak tadi fokus dengan buket bunga pemberian Darren.


Aya melangkah begitu saja meninggalkan Darren. Namun Darren justru menarik Aya hingga ia terjatuh ke pangkuan Darren yang sudah duduk di tepi ranjang.


“Ada ap…pa?” tanya Aya dengan gugup saat menyadari poisisnya tidak nyaman.


Darren membelai rambut Aya dan juga pipinya. Namun Aya masih memalingkan muka karena rasa gugup yang tak kunjung menghilang.


“Ay?” panggil Darren sambil meraih dagu istrinya agar menghadap ke arahnya.


“Lihat aku! Aku tahu kalau kamu sedang gugup.”


Aya terpaksa menatap Darren. Meskipun apa yang dikatakan Darren benar, tapi dia ingin tahu apa yang ingin dikatakan oleh suaminya itu.


“Mulai sekarang, kamu juga harus membiasakan hal-hal seperti barusan.”


Aya masih tidak mengerti. Dia tampak mengerutkan keningnya meminta penjelasan pada suaminya.


“Benar kamu tidak mengerti? Apa perlu aku ulangi lagi, agar kamu ingat dan semakin terbiasa?” tanya Darren lalu mendekatkan bibirnya pada bibir Aya. Namun sesegera mungkin Aya menahan bibir Darren yang sudah manyun dengan jarinya.


“Iya, aku sudah mengerti. Tak perlu ditunjukkan seperti itu.”


“Nah itu sudah pintar. Jadi, mulai sekarang kita harus terbiasa melakukan ini. ok?”


Aya terdiam sejenak. Entah kenapa tiba-tiba terlintas bayangan saat dirinya masih menjadi kekasih Gandhi dulu. Dia juga pernah berciuman dengan Gandhi. Lalu terbesit rasa bersala pada Darren, karena bibirnya ini sudah tidak suci lagi. ya, meskipun Darren sudah seringkali menciumnya. Tapi dia tidak ingin seperti wanita murahaan.


“Kenapa harus terbiasa?” pertanyaan aneh keluar begitu saja dari bibir Aya.

__ADS_1


“Karena kita suami istri. Bukankah kita sudah sepakat untuk saling berbagi, termasuk salah satunya ini.” jawab Darren sambil menunjuk bibir Aya.


“Tapi, apa kamu tidak marah jika bibirku ini bukan kamu saja yang pernah menciumnya? Bisa saja aku membiasakan hal ini, tapi aku tidak ingin terlihat seperti wanita murahan seperti yang pernah kam,-“


Ssttttt


Darren menutup bibir Aya dengan jarinya. Dia ingat tentang apa yang pernah ia katakan pada Aya dulu. Saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau Aya sedang berciuman dengan Gandhi. Bahkan ia lah yang mengatai Aya seperti wanita murahan, dan bukan tipenya.


“Maafkan aku! maafkan atas ucapanku waktu itu, Aya! Bukankah kita juga sudah sepakat untukmemulainya dari awal. Jadi aku sudah menerima semua masa lalumu dengan dia. Begitu juga dengan kamu. Kita sama-sama mempunyai masa lalu. Dan marilah kita raih masa depan kita bersama.” Ucap Darren sungguh-sungguh. Dia benar-benar menerima masa lalu Aya saat masih bersama Gandhi dulu. Sekalipun istrinya itu sudah melakukan hal lebih dari sekadar berciuman. Darren menerimanya.


“Terima kasih. Aku juga menerima masa lalu kamu, Ren.” Jawab Aya.


Aya juga jelas menerima masa lalu Darren dengan mendiang istrinya. Meskipun ia sama sekali tidak pernah tahu bagaimana perjalanan cinta suaminya dengan mantan istrinya dulu, sampai harus dipisahkan oleh maut. Karena bagi Aya, jika ia menerima masa lalu Darren, cukup dengan menjalani kehidupannya ke depan tanpa mengungkit masa lalu yang hanya menjadi kenangan.


“Ya sudah, aku akan mengambilkan baju ganti untuk kamu dulu.” Aya segera beranjak dari pangkuan Darren, yang sejak tadi membuatnya tidak nyaman. Apalagi saat tak sengaja pantatnya menyenggol sesuatu yang membuat Aya sedikit bergidik.


**


Saat ini Aya dan Darren sudah berada di ruang makan. Darren tampak lahap menikmati masakan Aya yang sangat enak. Aya pun yang melihatnya sangat senang. Dia sebagai istri merasa sangat dihargai oleh suaminya.


“Ada apa? Kamu ingin pergi ke suatu tempat?”


“Tidak. Aku ingin pulang menemui Papa dan Mama. aku ingin meminta maaf pada mereka. Tapi,-“


“Kamu jangan takut. Aku akan mengantar kamu besok sekaligus menemani kamu. Aku yakin Papa dan Mama tidak marah. Percayalah!” sahut Darren sambil menggenggam tangan istrinya.


Memang setelah seharian di rumah tadi Aya memikirkan kesalahannya yang sempat membuat Papa dan Mamanya shock. Aya tidak ingin menunda lebih lama lagi hanya karena belum siap. Dia ingin segera bertemu dengan kedua orang tuanya untuk menjelaskan semuanya.


“Terima kasih.”


***

__ADS_1


Sementara itu di waktu yang sama di negara yang berbeda, tampak seorang pria sedang terduduk lesu di kursi kerjanya. Tatapannya kosong setelah hal berharga yang ia miliki raib begitu saja. apalagi penyebabnya adalah dirinya sendiri.


Gandhi benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Melakukan apapun dia tidak bersemangat. Terlebih sejak kepulangannya dua hari yang lalu.


Bayangan indah tentang kebersamaannya dengan Aya pun masih teringat jelas di benaknya. Meskipun hubungan asmaranya dengan Aya kandas akibat kesalahannya sendiri, namun Gandhi masih meyakini kalau Aya masih mencintainya. Meskipun rasa cintanya tidak sebesar dulu. Apalagi mereka sudah lama menjalin hubungan. Dan Gandhi sangat yakin kalau Aya tidak akan jatuh cinta pada pria yang saat ini menjadi suaminya.


“Aku akan datang lagi menemui kamu, Aya. Tapi tidak untuk saat ini. karena kamu masih emosi dengan kejadian kemarin. Setelah semua urusanku beres, dan aku menyelesaikan kuliahku, aku akan menemui kamu kembali.” Gumam Gandhi dengan rasa penuh percaya diri.


Drt drt drt


Gandhi mendengar suara deringan ponselnya yang ada di atas meja. Ia hanya melihat siapa orang yang sedang menghubunginya. Di sana ada nama Lissa. Namun Gandhi enggan mengangkatnya. Bahkan sampai deringan ke empat pun Gandhi masih mengabaikannya. Karena dia tidak pernah menganggap Lissa lebih dari seorang pemuas bira hinya. Apalagi karena Lissa lah yang menjadi penyebab kandasnya hubungannya dengan Aya.


Cklek


Pintu ruang kerja Gandhi terbuka begitu saja. Omnya masuk dengan membawa beberapa dokumen penting pada Gandhi.


“Sudahlah, Gan! Kamu jangan bersedih terus. Masih banyak perempan di dunia ini. bukan hanya dia saja. kalau kamu seperti ini terus, perusahaan akan bangkrut.”


“Maaf, Om. Mulai sekarang aku akan berusaha fokus dengan pekerjaan dan kuliahku.”


“Nah, gitu dong. Sekarang kamu cek dokumen ini. karena besok Om akan pergi ke Indonesia. Karena tidak mungkin kamu yang pergi ke sana.”


Gandhi hanya mengangguk. Lalu menerima dokumen yang baru saja dibawa Omnya. Tak lama kemudian terdengar suara deringan ponsel Om Very.


“Iya, Sayang! Persiapkan dirimu, besok aku akan ke sana.” Ucap pria empat puluh tahun itu dengan wajah sumringah karena yang menghubunginya adalah asisten pribadinya sekaligus sugar baby’nya.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2