Batal Cerai

Batal Cerai
Ch 41. Datang Bulan


__ADS_3

Aya langsung salah tingkah mendengar ucapan Mamanya baru saja. apalagi saat ia melihat Darren yang tampak biasa saja. memang sebagai pasangan suami istri, memiliki momongan adalah hal yang wajar yang diharapkan semua orang, termasuk Mama dan Papa Aya. Namun bagi Aya sendiri, ia masih ingin menikmati masa indah pernikahannya yang baru saja terjalin. Terlebih ia juga belum menunaikan kewajibannya sebagai istri.


Setelah berpamitan pulang, kini Aya dan Darren sudah masuk ke dalam mobil. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, namun Darren rasanya masih ingin menghabiskan waktu berdua bersama istrinya di luar rumah.


“Apa kamu sudah ngantuk, Ay?” tanya Darren yang masih fokus dengan kemudinya.


“Belum sih. Ada apa?”


“Oh ya sudah, kita hang out dulu ya?”


Aya mengangguk saja. atau lebih tepatnya pasrah dengan keinginan Darren. Kemudian Darren mengemudikan mobilnya ke suatu tempat jajanan ramai pinggir taman kota yang kalau semakin malam semakin ramai. Di sana banyak sekali orang berjualan makanan ringan atau jajanan sebagai teman nongkrong para kaula muda. Tempat yang disediakan juga lesehan, namun kebersihannya terjamin.


Darren kini memarkirkan mobilnya agak jauh dari tempat penjual jajanan itu. karena memang sangat ramai, jadi tempat parkir khusus mobil sedikit lebih jauh daripada yang roda dua.


Mereka keluar dari mobil dengan Darren menggandeng tangan istrinya menuju salah satu stand makanan penjual berbagai macam sate atau bakaran, lengkap dengan minuman hangat tradisional.


Darren sudah mencari tempat duduk yang nyaman. Meskipun tetap berbaur dengan pengunjung lainnya yang sedang makan di sana. Kemudian ia mulai memesan makanan dan minumannya.


Suasana tempat yang mereka kunjungi memang berada di luar. Jadi angin malam jelas terasa menerpa kulit Aya yang kebetulan ia memakai baju lengan pendek. Darren pun cepat peka dengan situasi tersebut. Ia melepas sweaternya lalu memakaikan pada istrinya.


“Maaf kalau dingin dan kamu tidak terbiasa. Kamu pakai ini saja.” ujar Darren membantu memakaikan sweaternya.


“Terima kasih.”


Makanan yang mereka pesan akhirnya datang juga setelah beberapa saat menunggu. Suasana romantis sangat mereka berdua rasakan, meskipun bukan di tempat yang mewah. Aya sangat menikmatinya. Apalagi sikap manis suaminya yang baru ia tahu ternyata mampu membuatnya sangat nyaman.


Kebersamaan Aya dan Darren itu sempat menarik perhatian beberapa pengunjung lain. Bagaimana tidak, Aya dan Darren adalah satu-satunya pasangan yang ada di tempat itu. yang lainnya datang berkelompok bersama teman-teman mereka. Namun baik Aya maupun Darren sama sekali tidak peduli. Lagipula dirinya pasangan halal.


Tanpa terasa mereka berdua menghabiskan waktu cukup lama. Hingga pukul setengah dua belas malam, Darren dan Aya baru memutuskan untuk pulang. sepenjang perjalanan pulang, Aya sudah tampak menguap beberapa kali. Apalagi perutnya yang sudah kenyang, membuatnya ingin sekali cepat sampai rumah dan segera tidur.


Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai rumah. Aya lebih dulu masuk, bukan karena rasa kantuk lagi, melainkan perutnya yang tiba-tiba sakit.


Setelah sama-sama berganti baju tidur, kini tibalah mereka berdua menuju tempat tidur untuk beristirahat. Darren merebahkaan tubuhnya tepat di samping Aya. Bahkan ia sudah tak segan lagi memeluk istrinya, dan hal itu sudah rutin ia lakukan. Aya pun juga merasa nyaman.


Cup

__ADS_1


Darren mengecup kening istrinya. Dia masih belum bisa tidur meskipun waktu sudah larut. Lalu Aya mendongak ke atas menatap suaminya yang tak kunjung tidur.


“Kenapa?”


“Nggak apa-apa. Tidurlah kalau kamu sudah ngantuk.” Jawab Darren lalu mengeratkan pelukannya.


Aya melotot tajam saat berada dalam pelukan suaminya, karena ia merasakan sesuatu yang keras di bawah sana. Namun Darren semakin mengeratkan pelukannya lagi seolah ingin meredam miliknya yang mulai resah.


“Jangan seperti ini! aku nggak bisa nafas.” Ujar Aya mencoba melepas pelukan suaminya.


“Maaf.” Hanya itu yang diucapkan Darren sambil menahan sesuatu di bawah sana yang semakin bergejolak.


Rasa kantuk Aya pun hilang begitu saja setelah merasakan milik Darren menyentuh pahanya. Apakah memang seperti itu. atau Darren sedang menahan hasrattnya yang harusnya disalurkan dengan dirinya?


“Kenapa seperti itu?” tanya Aya bingung.


Darren hanya menahan senyum, lalu mengusap kepala istrinya.


“Nggak apa-apa. Aku tidak akan memaksa dan meminta sampai kamu benar-benar siap.” Jawab Darren cukup pengertian.


Darren pun menatap intens mata istrinya. “Jadi, kalau sudah selesai, kamu akan memberikannya?” tanyanya.


“I..iya.” jawab Aya dengan gugup.


Senyum manis terukir dari bibir Darren. Dia sungguh senang sekali akhirnya Aya menyanggupinya untuk memberikan haknya. Dia janji akan sabar menunggu Aya sampai selesai datang bulan.


“Ya sudah, ayo tidur! Sudah malam.” ucap Darren menarik Aya ke dalam pelukannya.


**


Selama belum kembali bekerja di perusahaan sang Papa, Aya sangat menikmati perannya sebagai seorang istri. Mulai dari menyiapkan sarapan, keperluan pribadi Darren sebelum berangkat ke kantor, dan lain-lainnya sudah terbiasa Aya lakukan. Hanya saja untuk yang satu itu masih belum bisa ia lakukan karena memang belum selesai masa periodenya.


Pagi ini Darren sarapan bersama istrinya. Darren tak ada bosan-bosannya dengan masakan sang istri yang sangat enak.


“Hari ini kamu nggak usah bawain aku bekal makan siang. Tapi aku minta kamu yang datang ke kantor membawakan makan siang untukku. Apa kamu tidak keberatan?” tanya Darren.

__ADS_1


“Nggak apa-apa. Nanti aku akan memasak menu baru.” Jawab Aya dengan senang hati.


“Ya sudah, nanti kamu berangkatnya diantar sopir saja, jangan pergi sendiri. Ok?”


Aya mengangguk. Setelah itu mereka melanjutkan sarapannya.


**


Darren kini sudah berada di kantor. suasana hatinya selalu bahagia untuk menjalani pekerjaan. Terlebih semenjak hubungannya dengan Aya membaik.


Darren mulai fokus dengan pekerjaannya. Hari ini jadwalnya cukup padat. jadi dia harus berkonsentrasi penuh untuk urusan kantor. bukan lagi memikirkan Aya yang sedang ngapain saja di rumah. apalagi jam sebelas nanti dia ada meeting dengan kliennya dari perusahaan asing yang hendak bekerjasama dengan perusahaannya. Kemarin Darren masih membaca proposalnya. Dan hari ini akan meeting secara langsung untuk persetujuan kerjasama itu.


Waktu itu pun tiba. Julian baru saja masuk ke ruangan Darren untuk memberitahu kalau kliennya sudah datang dan menunggu di ruang meeting.


Tak lama kemudian Darren menuju ke ruangan meeting. Sesampainya di sana dia melihat Julian tampak berbincang dengan kliennya. Dan kliennya itu datang bersama asisten pribadinya yang Darren sendiri merasa tidak asing. Karena posisinya wanita itu sedang duduk membelakanginya.


“Selamat siang Tuan Darren!” sapa seorang wanita yang diyakini asisten dari kliennya itu.


Darren terkejut. Ternyata wanita itu adalah Lissa. Mantan sahabat istrinya. Namun ia berusaha bersikap professional. Apalagi dia tidak begitu kenal akrab dengan Lissa.


“Selamat siang juga.” jawab Darren menerima uluran tangan Lissa. Setelah itu ia segera melepasnya.


“Ini Tuan Very Atmaja, atasan saya yang mengajukan kerjasama dengan perusahaan anda.” lanjut Lissa dengan pandangan yang tak lepas dari Darren.


Darren mengulurkan tangannya pada pria yang tidak terlalu muda juga tidak terlalu tua itu. pria itu tersenyum sopan. Namun Darren merasa seperti pernah bertemu sebelumnya dengan pria itu. tapi entah di mana.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


 


__ADS_2