Batal Cerai

Batal Cerai
Ch 84. Mau Melahirkan


__ADS_3

Kurang lebih selama seminggu, Aya dan Darren menghabiskan waktunya untuk baby moon di luar negeri. tepatnya di negara tempat kelahiran Darren, sekaligus negara di mana Papa Vano saat ini tinggal.


Papa Vano sangat senang dengan kedatangan anak dan menantunya itu. apalagi sebentar lagi pria itu akan dikaruniai cucu dari anak satu-satunya, yaitu Darren. Pria itu juga memberi banyak nasehat pernikahan pada Darren dan Aya.


Dan selama berada di luar negeri, Darren terus memanjakan istrinya. Mulai mengajak Aya jalan-jalan ke tempat-tempat wisata yang terkenal di negara itu, dan melakukan wisata kuliner. Apalagi Aya yang tengah mengandung, wanita itu sangat penasaran untuk mencoba berbagai macam makanan yang sangat menggugah selera.


Tak hanya itu saja, selain mengajak sang istri jalan-jalan, Darren tak lupa dengan calon buah hatinya. Dia juga mengajak Aya pergi ke tempat spa khusu ibu hamil. Darren ingin istrinya lebih rileks setelah beberapa kali mengajaknya pergi jalan-jalan.


Sungguh Aya sangat bahagia sekali menikmati honey moon sekaligus baby moon ini. meskipun sang suami hampir tak pernah absen menjamahnya setiap malam, namun Aya tetap senang melakukannya. Darren sendiri melakukannya dengan hati-hati. Jadi Aya sama sekali tidak merasa takut dengan kandungannya.


Dan hari ini waktunya mereka pulang ke tanah air. Aya dan Darren berpamitan pada Papa Vano. Pria paruh baya itu cukup bahagia dengan keberadaan anak dan menantunya selama di sini. sayangnya kebersamaan itu harus berakhir, karena mereka akan menjalani rutinitasnya kembali.


“Maafkan Papa kalau Papa tidak bisa pulang dan ikut tinggal bersama kalian. tapi Papa janji, saat cucu Papa nanti lahir, Papa akan pulang.”


Papa Vano memang belum pernah pulang sama sekali ke tanah air semenjak Darren terkena amnesia. Padahal dulu berjanji akan pulang, apalagi saat pesta ulang tahun Aya. Tapi, lagi-lagi pekerjaan dan kesehatan lah yang membuat pria itu batal pulang.


“Iya, Pa. doakan saja yang terbaik untuk keluarga kecil kami. Dan doakan proses lahiran Aya nanti lancar.” Sahut Darren.


Setelah itu Darren dan Aya segera menuju landasan udara dimana jet pribadinya menunggu.


***


Kehidupan Darren dan Aya semakin bahagia. Apalagi di usia kehamilan Aya yang sudah tujuh bulan, Darren semakin cinta pada istrinya. Badan Aya yang berisi dan perut yang membesar, membuat pria itu semakin gemas. Walau terkadang Aya sendiri merasa tidak percaya diri dengan tubuhnya yang menggendut.

__ADS_1


Dan selama itu pula, Aya masih menjalani rutinitasnya di perusahaan sang Papa. Apalagi posisinya yang sebagai CEO, jelas tidak bisa ia tinggalkan begitu saja. hanya Aya berusaha untuk tidak memforsir tenaganya. Dia berusaha mengatur waktu dengan baik agar seimbang dengan waktu istirahatnya. Mama Devina juga sangat protektif dengan kehamilan Aya.


Begitu juga dengan Darren. Pria itu semakin disibukkan dengan pekerjaan kantor yang tidak ada habisnya. Mungkin bisa dikatakan itu adalah rejeki dari si bayi yang ada di kandungan istrinya, jadi perusahaan Darren banyak dibanjiri kerjasama dengan beberapa perusahaan besar. Salah satunya perusahaan milik Tuan Tristan.


Karena semenjak bekerjasama dengan perusahaan Tuan Tristan, perkembangan perusahaan Darren semakin pesat. Hubungannya dengan pria itu juga sangat baik. Walau Darren masih melihat keanehan dari rekan bisnisnya itu.


***


Tanpa terasa usia kehamilan Aya sudah memasuki bulan ke sembilan. Kalau menurut dengan hari perkiraan lahiran, seminggu lagi Aya akan melahirkan bayi yang terdeteksi berjenis kelamin perempuan itu.


Dan selama itu pula, Darren tidak pernah lagi datang ke kantor. dia mengerjakan pekerjaan kantor dari rumah. kalau ada masalah urgen, Julian lah yang mewakilinya. Maklum saja, Darren tidak ingin terjadi sesuatu dengan istrinya. Bisa saja sewaktu-waktu istrinya melahirkan.


Pagi ini Aya bangun pagi-pagi sekali. Dia ingin jalan-jalan di halaman belakang rumahnya. Entah kenapa sejak semalam, dia merasa perutnya kram. Mungkin kontraksi palsu seperti yang pernah dikatakan oleh Mamanya. Hanya saja ia tidak bilang pada suaminya agar tidak membuat pria itu cemas.


“Sedang di belakang, Tuan. Tadi Non Aya bilang mau jalan-jalan.”


Darren langsung menuju halaman belakang. Darren melihat istrinya sedang duduk di sebuah kursi sambil mengusap perutnya. Dia tampak khawatir, apalagi melihat wajah Aya seperti sedang menahan sakit.


“Sayang, kamu kenapa?”


“Nggak tahu, ini tiba-tiba perutku terasa kencang sekali.” Jawab Aya sambil menahan sakit.


“Ayo kita masuk dulu! kenapa masih dipaksa jalan-jalan sih? Bagaimana kalau aku tidak datang. tidak ada yang tahu kan kalau kamu sedang kesakitan seperti ini.” gerutunya sambil memapah Aya.

__ADS_1


Darren mengira kalau istrinya hanya kelelahan saja. tidak terlintas pikiran kalau Aya akan melahirkan sekarang. karena HPLnya masih seminggu lagi.


Sesampainya di ruang tengan, Darren meminta pembantunya untuk membuatkan susu hangat dan roti untuk Aya sarapan. Sedangkan ia kini duduk berjongkok sambil memijit kaki istrinya.


“Sayang, yang sakit perutku. Kenapa kakiku yang kamu pijit?” keluh Aya.


“Ya, siapa tahu setelah ini rasa sakit di perutmu hilang.” Jawabnya dan kembali memijit kaki Aya.


Pembantu Darren datang dengan membawa susu hangat dan roti. Wanita itu seolah tahu kalau majikannya akan melahirkan. Namun, mengingat Aya yang sejak tadi perutnya belum terisi, Bibi pun meminta Aya untuk segera minum susu dan makan roti itu.


Benar saja, setelah Aya menghabiskan susu dan rotinya, perutnya semakin sakit. Seperti mulas-mulas.


“Tuan, lebih baik segera bawa Non Aya ke rumah sakit. Itu sepertinya mau melahirkan.” Ucap Bibi khawatir.


“Apa???” Darren terkejut sekaligus tidak percaya. Namun sedetik kemudian ia melihat ada aliran air yang keluar dari paha istrinya. Seketika itu Darren juga ikut lemas.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2