
Ya, Aya sudah memutuskan dengan cara seperti ini agar pernikahannya dengan Darren berakhir. Tidak masalah jika namanya menjadi jelek dengan bukti foto kebersamaannya dengan Gandhi dulu sebagai jalan untuk mereka berpisah.
Aya ingin segera mengakhiri pernikahannya dengan Darren karena dia sudah tidak tahan hidup dengan pria yang masih terpaut dengan masa lalunya. Meskipun mereka tidak saling cinta, namun Aya merasa tidak dihargai selama tinggal di rumah Darren. Selain itu, dalam waktu dekat Gandhi akan datang dan bicara kepada orang tuanya. Lebih baik memang seperti itu. Aya bisa hidup dengan Gandhi, begitu dengan Darren yang bisa hidup bahagia tanpa dirinya.
Darren masih menatap nanar amplop coklat yang belum ia buka sama sekali. Dengan dada bergemuruh yang entah apa penyebabnya, Darren mengambil amplop itu lalu masuk ke ruang kerjanya. Dia segera menghubungi pengacaranya untuk mengurus perceraiannya dengan Aya.
Darren tampak bicara serius dengan pengacara yang akan menangani proses perceraiannya dengan Aya. Walau sebenarnya dalam hati Darren ada rasa tidak rela untuk melepas Aya, namun kalau perempuan itu yang kekeh ingin bercerai. Lebih baik ia mengabulkannya saja. asal Aya bisa bahagia. Sekalipun dengan pria seperti Gandhi.
Dalam hati Darren juga menyesal karena tidak bisa menjaga amanat dari Papa mertuanya dulu. Dia juga ikut merasa bersalah dalam hal ini, karena ia yang masih terbelenggu oleh kisah masa lalunya.
Tok tok tok
Darren mengerutkan kening saat mendengar ketukan pintu dari luar. Ia meletakkan ponselnya, lalu membukakan pintu ruang kerjanya.
Cklek
“Ada apa?” tanya Darren pada Aya yang sedang berdiri di hadapannya dengan sebuah koper di samping perempuan itu.
“Mulai hari ini aku tidak lagi tinggal di rumah ini. aku akan tinggal di apertemen. Dan ini alamatnya. Untuk keperluan proses perceraian kita nanti, kamu kirim ke alamat ini saja.”
Darren menerimanya begitu saja dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun Aya memilih membuang mukanya agar tidak melihat mata Darren.
“Sebelumnya kita sudah sepakat bukan dengan perceraian ini? jadi tidak mungkin kita menyesali perpisahan ini.” ucap Aya dengan menahan gejolak aneh dalam hatinya.
“Terima kasih. Terima kasih atas kebersamaan yang singkat ini. aku harap setelah ini kamu bisa menjalani hidup kau dengan baik.” Lanjut Aya setelah itu membuang nafasnya kasar.
Darren sama sekali tidak menimpali ucapan Aya. Dia juga merasakan sesak di dadanya yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Bahkan rasa sedih saat ditinggal pergi mendiang istrinya dulu tidak sesedih ini.
__ADS_1
“Dan satu lagi. jangan menemui kedua orang tuaku dulu sebelum proses perceraian kita selesai. biarlah Papa dan Mama tahu, tapi kamu jangn pernah menemuinya. Biar aku yang bertanggung jawab atas semua ini. aku pergi.”
Aya sama sekali tidak berani menatap mata Darren. Bahkan saat ia berpamitan pergi, dia berbalik badan begitu saja tanpa ingin tahu bagaimana reaksi pria itu. sedangkan Darren hanya bisa menatap kepergian Aya dari rumahnya dengan perasaan campur aduk. Ingin sekali ia mengejar Aya dan memeluk perempuan itu. tapi sayangnya hati Darren masih meragu.
**
Sebelumnya Aya meminta jatah cuti pada Papanya memang sengaja untuk mempersiapkan semua rencana perceraiannya. Jika ia sudah resmi bercerai dari Darren, ia akan kembali lagi ke perusahaan. Tentunya dengan status baru, yaitu istri Gandhi.
Saat ini Aya sudah tiba di apartemen yang baru saja ia sewa. Dia meletakkan kopernya di samping tempat tidur tanpa berniat memasukkan bajunya ke dalam lemari. Dia ingin istirahat sejenak dari rasa lelah hatinya.
Hampa. Itulah yang Aya rasakan saat pertama kali memasuki apartemen. Harusnya ia senang dan bahagia karena sebentar lagi terbebas dari pernikahan konyol yang membelenggunya. Namun kenyataannya tidak seperti itu. kenapa hati Aya sangat sesak seperti ini. kenapa dia tidak bisa menghilangkan bayang-bayang wajah Darren. Bahkan sosok pria dingin itu tadi tidak mengucapkan apapun saat kepergiannya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan hati Aya.
“Darren!!! Please menghilanglah dari pikiranku!!!” teriak Aya frustasi.
Deringan ponsel Aya, yang tak lain panggilan dari Gandhi justru Aya abaikan begitu saja. semua ini karena ia tidak bisa menghilangkan bayang-bayang wajah Darren.
“Tidak. Ini bukan jatuh cinta. Aku tidak jatuh cinta pada Darren. Aku hanya cinta pada Gandhi.” Gumam Aya pada dirinya sendiri.
***
Selama menunggu proses perceraiannya, Aya lebih menghabiskan waktunya di dalam apartemen. Ia akan datang jika nanti surat panggilan dari pengadilan datang untuk mengikuti jalanannya sidang perceraian.
Tidak lama setelah Darren mengajukan gugatan cerainya pada Aya, setelah itu ia mendapat surat panggilan sidang tahap awal. Dan surat panggilan untuk Aya ditujukan pada alamat sesuai dengan yang Aya minta dulu, yaitu di apartemen.
Panggilan sidang untuk Darren dan Aya akan digelar minggu depan. Dan selama itu Darren memilih pergi ke luar kota untuk menghindari mertuanya. jujur saja, selain menuruti keinginan Aya agar tidak bertemu dulu dengan kedua orang tuanya, Darren memang tidak ingin bertemu dengan Papa Mirza untuk mencari ketenangan.
Bodooh jika Darren tidak merasakan kehilangan atas kepergian Aya. Meskipun selama ini ia juga tidak menghendaki pernikahan itu, namun rupanya dengan hadirnya sosok Aya di hidupnya telah berhasil membuat hidup Darren berwarna.
__ADS_1
“Tidak. Aku hanya terbiasa saja dengan kehadiran Aya selama ini. dan ini bukan cinta.” Gumam Darren meyakini hatinya.
Saat ini Darren sudah siap pergi ke luar kota. Dia akan berangkat ke bandara dengan diantar oleh asistennya, yaitu Julian. Julian tentunya juga sudah tahu tentang kabar perceraian atasannya. Dia hanya menyayangkan saja kalau akhirnya atasannya itu harus berpisah.
“Tuan. Kalau anda mencintai Nona Aya, anda masih bisa membatalkan perceraian itu. saya yakin kalau Nona Aya juga mencintai anda.” ucap Julian.
“Kamu jangan sok tahu dan lebih baik tidak ikut campur. Dan perlu kamu tahu, kalau setelah aku bercerai dengan Aya, dia akan segera menikah dengan kekasihnya.”
“Tapi, Tuan! Anda bisa mengatakan pada Nona Aya, kalau Gandhi bukanlah pria baik-baik. Apa perlu saya yang kasih tahu Nona Aya mengenai kejadian obat tidur dulu?”
“Kamu jangan macam-macam, Lian! Jangan ikut campur urusan pribadiku. Lebih baik kamu urus perusahaan saja selama aku pergi ke luar kota. Cepat! Aku keburu ketinggalan pesawat.” Ucap Darren sebelum akhirnya keluar rumah lebih dulu dan diikuti oleh Julian.
**
Kabar perceraian Aya dan Darren ternyata begitu cepat sampai ke telinga orang tua Aya. Papa Mirza benar-benar terkejut dengan kabar itu. dia masih tidak percaya dan menganggap semua ini adalah berita bohong alias hoaks.
Papa Mirza segera menghubungi Aya. Namun ponsel putrinya itu tidak aktif. Lalu menghubungi Darren, yang ternyata juga sama.
“Ada apa sebenarnya? aku harap ini tidak benar.” Gumam Papa Mirza.
Setelah itu Papa Mirza menghubungi asisten Darren, yaitu Julian. Betapa terkejutnya saat Julian membenarkan berita itu. Darren menggugat cerai istrinya karena perselingkuhan Aya.
.
.
.
__ADS_1
*TBC
Happy Reading!!