Batal Cerai

Batal Cerai
Ch 22. Amanat Mirza


__ADS_3

Aya lagsung memberikan gelas minum bekasnya tadi pada Darren. Karena memang airnya masih ada. Darren juga tidak banyak protes dengan memakai gelas yang sama. Yang penting dia butuh minum secepatnya.


Mama Devina dan Papa Mirza saling lirik lalu tergelak. Sungguh mereka sangat memaklumi pada sepasang pengantin baru yang masih tampak malu-malu kucing.


“Ehm, sepertinya tidak dalam waktu dekat, Ma. Darren sendiri juga masih sibuk dengan pekerjaannya. Bukan begitu, Mmass..?” ucap Aya dengan di akhir kata mendadak canggung dengan panggilan barunya untuk Darren.


Darren terkejut dengan panggilan dari Aya tadi. jujur saja, dalam hati ia sangat menyukai Aya memanggilnya seperti itu. andai saja pernikahannya normal seperti pernikahan pada umumnya. Pasti dia tidak segan-segan untuk menampakkan senyumnya pada Aya.


“Iya, Ma. Benar yang dikatakan oleh Aya. Nanti saja kita rencanakan sama-sama.” Ucap Darren.


“Ya sudah terserah kalian saja. tapi kalau bisa jangan menunda kehamilan ya, Ay? Mama dan Papa sudah ingin menimang cucu dari kalian. kalau perlu kamu bisa datang ke rumah sakit, Ay. Nanti biar Mama periksa dan Mama kasih vitamin untuk mempersiapkan kehamilan kamu.”


“Gampanglah Ma kalau masalah itu. kita bahas nanti.” ucap Aya yang tidak ingin terlalu jauh membahas masalah kehamilan. Karena memang pernikahannya dengan Darren hanya sementara. Kalaupun ingin punya anak, mungkin nanti jika dirinya sudah bersatu dengan Gandhi, kekasihnya.


Usai makan malam, Aya lebih dulu masuk ke dalam kamar. sedangkan Darren masih bersama Papa Mirza untuk ngobrol santai mengenai pekerjaan dan sepertinya ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh Papa Mirza.


Dan di sini lah Darren dan Papa Mirza berada. Di ruang kerja.


Kedua pria itu duduk di sofa saling berhadapan sambil menikmati kopi dan makanan kecil yang baru saja dibawakan oleh Mama Devina.


“Bagaimana pernikahan kamu dengan Aya?” tanya Papa Mirza tiba-tiba.


Darren tekejut dan tidak menyangka kalau mertuanya akan bertanya mengenai pernikahannya dengan Aya. Merasa sedikit was-was karena takut jika Papa Mirza mengetahui rencananya dengan Aya, maka Darren harus berhati-hati dalam menjawab. Bahkan kemungkinan besar dia harus berbohong untuk menutupi semuanya.

__ADS_1


“Baik, Pa. Aya istri yang sangat baik dan perhatian dengan Darren.” Jawab Darren.


Papa Mirza tampak menganggukkan kepalanya. Entah apa yang dipikirkan olehnya saat ini. karena Papa Mirza adalah tipe orang yang banyak tahu segala sesuatu yang ditutupi. Namun Darren berusaha untuk tidak menunjukkan kecurigaan.


“Kamu tahu, Ren? sebenarnya Aya sudah mempunyai kekasih. Tapi Papa melarang keras Aya untuk bersama pria yang bernama Gandhi itu.”


“Tahu, Pa. tapi selama menikah Aya baik-baik saja dan tidak ada tanda-tanda dia dekat dengan pria mana pun. Walau Darren sendiri awalnya tidak enak, seakan memaksa pernikahan ini.” jawab Darren benar adanya. Dia juga sudah tidak pernah melihat istrinya diam-diam bertemu dengan pria yang hampir melecehkan Aya itu. dan Darren juga tidak akan menceritakan kejadian itu.


“Syukurlah. Kamu tidak usah merasa bersalah seperti itu. Papa memang sudah memutus komunikasi antara Aya dan Gandhi, agar mereka tidak berhubungan lagi.maka dari itu Papa minta kamu untuk terus menjaga Aya. Jangan sampai pria itu datang lagi dan mengambil Aya darimu dengan mudahnya.”


“Iya, Pa. tenang saja.” jawab Darren cukup yakin, walau hatinya jelas sangat ragu.


Darren juga bingung. Bagaimana nanti jika mertuanya tahu tentang kabar perceraiannya dengan Aya. Memilih memenuhi amanat mertuanya atau memberikan kebebasan pada Aya tentang siapa pria yang cocok dan sangat dia cintai. Jika dirinya memaksa Aya untuk terus menjalani pernikahan ini rasanya tidak mungkin. Yang ada justru menyiksa perasaan Aya juga dirinya.


Sementara itu di dalam kamar, tepatnya di balkon kamarnya, Aya tampak melakukan panggilan dengan Gandhi. Kekasih yang selama ini hilang tanpa kabar.


Aya bukan main senangnya saat mendapat pesan dari Gandhi. Dan malam ini dia baru bisa ngobrol banyak dengan Gandhi.


Kedua insan yang sudah lama putus komunikasi itu kembali mengahangat. Mereka tampak mesra meskipun hanya ngobrol memalui panggilan suara.


Aya menanyakan kemana kepergian Gandhi selama ini. pria itu menjawab kalau sedang sibuk dengan pekerjaan kantor sekaligus kuliahnya. Untuk masalah kepergiannya yang mendadak waktu itu, Gandhi tidak bicara yang sesungguhnya. karena dia khawatir jika Aya tahu tentang rencana busuknya yang hendak meniduri Aya dengan memberikan obat tidur.


“Maafkan aku, Sayang. Malam itu setelah aku mengantar kamu sampai basement, aku mendapat panggilan dari Om Very dan diminta pulang malam itu juga. dan setelahnya, aku langsunh meninjau proyek di daerah yang sangat sulit sinyal. Ponselku juga hilang. Dan baru saat ini aku bisa menghubungi kamu lagi.kamu nggak marah kan?”

__ADS_1


Aya tampak lega mendengar penjelasan Gandhi. Dia senang akhirnya bisa berkomunikasi lagi dengan kekasihnya. Kemudian Gandhi menyampaikan maksudnya kalau beberapa bulan lagi dia akan datang ingin bertemu langsung dengan kedua orang tua Aya. Hanya saja Gandhi tidak menceritakan semua masalah kedua orang tuanya dan orang tua Aya pada Aya. Karena dia ingin bicara langsung saat nanti bertemu dengan Mirza.


Aya mendadak kelu. Kenapa dia tidak siap jika Gandhi secepatnya akan menikahinya. Apalagi statusnya saat ini sudah menjadi istri Darren. Sepertinya Aya harus mencari cara, bagaiman nanti ia akan bercerai dengan Darren sebelum Gandhi datang menemui Papanya.


Cukup lama Aya dan Gandhi menghabiskan waktu melalui sambungan telepon. Aya sampai tidak menyadari kalau sejak tadi Darren sudah masuk ke dalam kamar, dan pria itu sudah merebah di atas sofa yang tidak begitu nyaman.


Aya masih terus berbincang dengan Gandhi, namun kali ini dia masuk ke dalam kamar, lantaran di luar tampak hujan, dan udaranya dingin.


Aya sangat terkejut saat melihat Darren sudah ada di dalam kamarnya. Walau pria itu terlihat sedang tidur sambil menutupi wajahnya dengan salah satu tangannya. Aya segera mengakhiri panggilannya dengan Gandhi, karena tidak enak ada Darren.


Selesai mengakhir panggilannya, Aya segera berganti pakaian dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Membiarkan Darren tidur dengan posisi yang tidak nyaman. Namun Aya kembali bangun untuk mengambil selimut buat Darren.


Aya menyelimuti suaminya yang tampak pulas tidurnya. Entah kenapa Aya ingin berlama-lama memandangi wajah Darren yang tampan dan sedang terlelap itu. andai saja sikap Darren tidak dingin terhadapnya, mungkin ia…


“Mikir apa sih?” gumam Aya menyadari pikirannya yang tidak tentu. Bisa-bisanya ia berharap Darren bersikap hangat padanya.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2