Batal Cerai

Batal Cerai
Ch 16. Bayangan Darren


__ADS_3

Kini Aya dan keluarganya dan juga Darren sudah tiba di sebuah restaurant yng cukup terkenal di kota. Aya sendiri sangat terkejut dengan pesta perayaan wisudanya kali ini. meskipun katanya pesta kecil-kecilan, namun menurutnya cukup istimewa. Dan satu lagi yang membuatnya tidak percaya adalah pesta itu dipersiapkan oleh Papa Vano, calon mertuanya.


Kini Aya sudah masuk ke dalam restaurant di mana sebagian tempat telah disewa untuk merayakan hari kelulusannya. Papa Vano sudah berdiri menyambut Aya sambi merentangkan tangan. Dengan langkah ragu Aya mendekati ca;on mertuanya itu dan menyambut pelukannya.


“Selamat ya, Nak Aya! Papa ikut bahagia di hari wisuda kamu ini. semoga ilmu yang telah kamu dapatkan selama ini bermanfaat dan bisa mewujudkan cita-cita kamu.” Ucap Papa Vano dengan tulus.


“Terima kasih, Om,-“


“Panggil Papa! Karena sebentar lagi kamu akan menjadi menantu Papa.” Sahut Papa Vano.


Aya hanya mengangguk. Sedangkan yang lainnya juga ikut senang melihat kedekatan Aya dengan calon mertuanya. khususnya Darren. Entah kenapa hati Darren sedikit terusik melihat kedekatan Aya dan Papanya. Bagaimana jika nanti Papanya tahu tentang hubungannya yang sebenarnya dengan Aya. Bagaimana jika nanti Papa Vano tahu tentang rencana perceraiannya setelah menikah dengan Aya.


Bukan Darren ingin memaksakan cinta pada Aya atau sebaliknya memaksa Aya untuk mempertahankan pernikahannya nanti. hanya saja Darren belum siap membuat Papanya kecewa untuk yang kedua kalinya.


Jika dulu Papa Vano kecewa dengan pernikahan pertamanya, walaupun pada akhirnya Papa Vano bisa menerima Jenifer. Dan untuk kali ini Darren sebenarnya tidak ingin membuat Papanya kecewa lagi. namun perlu diingat kalau Aya juga sudah mempunyai kekasih. Tentunya tidak mudah bagi perempuan itu meninggalkan kekasihnya hanya demi perjodohan ini. itu artinya Aya adalah tipe perempuan setia yang selalu mempertahankan dan menjaga hubungannya.


Kini semua sudah berkumpul untuk menikmati hidangan yang tersaji di atas meja. Aya juga menerima kado dari Papa Vano, namun atas nama Darren. Mungkin Papa Vano sengaja melakukan itu agar hubungan anak dan calon menantunya yang masih kaku perlahan menghangat.


“Terima kasih, Pa! terima kasih atas semua kejutan ini.” hanya itu yang bisa diucapkan oleh Aya sebagai rasa terima kasihnya atas pesta kecil-kecilan ini.


“Sudah, lebih baik kita makan dulu.” Ujar Papa Vano kemudian.


Usai makan-makan, akhirnya mereka memilih untuk pulang ke rumah masing-masing. Namun Darren diminta Papanya untuk mengantar Aya lebih dulu, karena memang tadi dia membawa mobil sendiri. Begitu juga dengan Papa Vano yang diantar oleh sopir.


Sebenarnya Aya mau menolak namun ia tidak enak dengan Papa Vano. Apalagi sama kedua orang tuanya yang setuju agar dirinya pulang bersama Darren.


Dalam perjalanan, seperti biasa kedua orang itu pasti saling diam. Darren yang fokus dengan jalanan, sedangkan Aya yang sibuk dengan pemikirannya sendiri.


“Terima kasih.” Ucap Aya tiba-tiba dan membuat Darren mengerutkan keningnya.

__ADS_1


“Terima kasih sudah hadir di wisudaku tadi sekaligus pesta kejutannya tadi.” lanjut Aya.


“Bukan aku yang membuat kejutan itu. tapi Papa. Kedatanganku tadi juga karena Papa.” Jawab Darren apa adanya.


Seketika wajah Aya berubah kesal mendengar pernyataan Darren baru saja. memang pria itu benar-benar menyebalkan. Tidak bisakah sedikit saja berpura-pura baik agar tidak membuat hatinya sakit. Atau memang seperti itu sikap Darren.


Aya akhirnya memilih diam dan membuang pandangannya ke arah luar. Darren sendiri kembali fokus dengan kemudianya. Hingga tanpa mereka sadari, mobil Darren sudah masuk ke dalam halaman rumah Aya. Aya segera keluar begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih yang ujung-ujungnya pasti membuat hatinya semakin kesal.


“Aya tunggu!”


Aya menghentikan langkahnya saat tiba-tiba Darren memanggilnya.


“Ini boneka kamu!” Darren membawa sebuah boneka milik Aya dan boneka itu adalah pemberian Gandhi tadi. aya sendiri tampak heran. Kenapa saat keluar dari mobi Darren, justru ia membawa buket bunga pemberian Darren daripada boneka yang diberikan oleh kekasihnya.


“Terima kasih!” ucap Aya reflek dan mengambil boneka itu dari tangan Darren.


Aya tercengang mendengar ucapan Darren baru saja. ingin sekali ia mencabik-cabik mulut Darren yang telah bicara asal dan tidak pernah disaring terlebih dulu.


“Arghhhh!!! Menyebalkan!” teriak Aya saat mobil Darren sudah berbalik. Dan ternyata Darren mendengarnya, karena kaca mobilnya kebetulan terbuka.


Darren menghentikan mobilnya sejenak. Dan hal itu membuat Aya terkejut. Namun ia segera masuk ke dalam rumah daripada berurusan lagi dengan Darren.


***


Usai acara wisuda Aya dan ditutup dengan pesta kecil-kecilan itu, malam harinya Aya pergi keluar untuk merayakan kelulusanya dengan sang pujaan hati. Tentunya dengan alasan yang tepat agar tidak dicurigai oleh Mamanya. Karena kebetulan sore tadi Papanya bepergian ke luar kota.


Kini Aya sedang dalam perjalanan menuju hotel di mana Gandhi menginap. Kali ini hotel bukan tempat biasanya Gandhi menginap, melainkan hotel yang berbeda. Kata Gandhi pada Aya, di hotel itu tersedia restaurant yang akan ia gunakan untuk merayakan pesta kelulusan sekaligus kejutan untuk Aya.


Setibanya di restaurant, Aya segera menuju salah satu kursi pengunjung yang sedikit lebih jauh dari keramaian. Di sana sudah ada Gandhi yang berdiri menyambut kedatangannya.

__ADS_1


Aya tersenyum menghampiri kekasihnya. Mereka berpelukan sejenak sebelum akhirnya duduk untuk menikmati dinner romantis.


Aya sangat terharu dengan rencana dinner Gandhi malam ini. karena Gandhi menyiapkan semuanya sangat sempurna. Iringan musik biola menemani makan malam romantis mereka. Dan di akhir acara Gandhi berjongkong di hadapan Aya sambil menyodorkan sebuah kotak bludru berwaran maroon dimana isinya ada sebuah cincin berlian yang sangat bagus.


“Ayara, maukah kau menikah denganku?” ucap Gandhi dengan tatapan lembut pada Aya.


Aya benar-benar terkejut sekaligus bahagia karena malam ini Gandhi melamarnya. Dengan yakin dan tidak mengulur waktu, Aya menjawab mantap lamaran kekasihnya itu.


“Iya. aku mau menjadi istri kamu.”


Gandhi langsung memakaikan cincin itu ke jari manis Aya. Setelah itu mengecup singkat punggung tangan Aya. Aya pun berdiri dan langsung memeluk Gandhi. Aya benar-benar bahagia karena lamarannya malam ini sangat berbeda dengan lamarannya bersama Darren waktu itu. beruntungnya Aya tidak pernah memakai cincin pertunangan dari Darren, hingga saat Gandhi melamarnya, pria itu tidak tahu tentang statusnya yang sebenarnya.


Gandhi tahu, meskipun masih lama ia akan menikahi Aya. Namun dengan mengikat perempuan itu terlebih dahulu bisa membuat Gandhi aman agar Aya tidak bisa dimiliki oleh siapapun.


“Apa kamu masih sabar untuk menungguku, Sayang? Aku janji, kurang dari setahun, aku akan segera menemui orang tua kamu dan meminta kamu secara resmi.” Ucap Gandhi.


“Tentu saja aku akan sabar. Terima kasih.” Ucap Aya dan kembali memeluk Gandhi.


Namun pelukan itu hanya sebentar karena tiba-tiba Aya melihat sekelebat bayangan Darren.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!

__ADS_1


__ADS_2