
Aya merasakan tidurnya sangat pulas. Tidak pernah sebelumnya ia tidur sepulas ini. terlebih semenjak mejadi istri Darren, sampai kepergiannya beberapa waktu yang lalu.
Waktu sudah menjelang pagi. Aya membuka matanya perlahan. Setelah itu dia menyadari ada sebuah lengan kokoh tampak melingkar di atas perutnya. Lalu dengkuran halus dari si pemilik lengan itu bisa Aya rasakan menerpa kulit wajahnya.
Tidak ada rasa terkejut. Dan Aya bisa menyimpulkan kalau penyebab tidur pulasnya adalah karena dipeluk oleh sang suami. sejenak Aya memandangi wajah tampan Darren yang sedang terlelap damai. Jantungnya tiba-tiba berdebar saat menatap bibir suaminya itu. namun secepat mungkin Aya memalingkan mukanya agar tidak berpikiran yang tidak-tidak.
Sebenarnya Aya masih ingin menikmati hangatnya pelukan Darren. Namun apalah daya, dia sudah tidak tahan dengan panggilan alam. Akhirnya Aya melepas perlahan tangan Darren dari perutnya dan segera beranjak menuju kamar mandi.
Selesai Aya dari kamar mandi, dia melihat jam masih menunjukkan pukul lima. Tapi dia sudah tidak bisa tidur lagi. akhirnya Aya memutuskan untuk pergi ke dapur. Memasak untuk Darren. Dan ini adalah masakan pertamanya untuk sang suami setelah mereka sepakat memperbaiki hubungan rumah tangganya.
Aya yang masih awam dengan tuga seorang istri dalam rumah tangga, ia mulai belajar perlahan. Dan dari sinilah ia memulainya. Yaitu mencoba untuk memasak. Meskipun rasanya dia sendiri tidak tahu, enak atau tidak. Namun dia tetap berusaha.
Bibi ART yang sudah bertugas di dapur sangat terkejut saat melihat kedatangan Aya yang ingin memasak. Bibi meminta Aya untuk keluar dari dapur saja, dan menyerahkan semua padanya.
“Nggak apa-apa, Bi. Itung-itung aku belajar menjadi istri yang sesungguhnya untuk Darren. Dan aku juga meminta Bibi untuk mengajariku.” Ucap Aya.
Bibi tampak tersenyum hangat, lalu menganggukkan kepalanya. Wanita paruh baya yang bertugas sebagai ART di rumah Darren sedikit banyak mengetahui bagaimana hubungan rumah tangga majikannya. Meskipun Bibi tidak tinggal menetap di rumah Darren. Apalagi selama kurang lebih satu bulan ini tidak melihat kehadiran Aya di rumah, Bibi bisa memastikan kalau rumah tangga majikannya sedang bermasalah. Lalu saat baru saja mendengar ucapan Aya yang ingin belajar menjadi istri sesungguhnya, Bibi ikut bahagia.
**
Cukup lama Aya menyibukkan diri di dapur. Saking fokusnya dengan masakan yang ia buat untuk sang suami, Aya sampai lupa melakukan tugas lainnya. Yaitu membangunkan Darren, lalu menyiapkan baju kerja pria itu.
“Bi, tolong lanjutkan dulu ya? Aku mau ke kamar dulu membangunkan Darren.” Ucap Aya.
Aya keluar dari dapur, namun langkahnya terhenti saat melihat Darren berjalan menuju ke arahnya. Pria itu sudah tampak segar dengan setelah kantornya.
“Ternyata kamu di sini. pantas saja saat bangun sudah tidak melihat keberadaan kamu di sisiku.” Ucap Darren.
“Maaf. Aku sibuk memasak. Sampai lupa tidak membangunkan kamu dan menyiapkan baju kerja kamu.”
“Nggak apa-apa. Ya sudah, apa makanannya sudah siap? Perutku sangat lapar. Dan pagi ini aku juga ada meeting.”
Aya menganggk. Lalu ia menuju dapur untuk mengambil beberapa makanan yang sudah selesai ia masak dan disajikan oleh Bibi.
__ADS_1
Kini Aya dan Darren sudah duduk di ruang makan. Aya mengambilkan makanan untuk suaminya. setelah itu mengambil untuk dirinya sendiri.
Darren mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Sejenak ia menghentikan kunyahannya. Dan Aya pun melihatnya.
“Apa makanannya tidak enak?” tanya Aya sedikit khawatir. Pasalnya ini masakan pertamanya buat Darren.
Namun Darren tidak menjawab. Pria itu kembali mengunyah dengan pelan sambil mengenali masakan yang sepertinya pernah ia rasakan sebelumnya. Tapi entah kapan. Dan rasanya sangat enak.
Sedangkan Aya yang melihat reaksi Darren masih diam. dia berpikiran kalau masakannya tidak enak. Dia pun segera mengambil piring Darren.
“Maaf kalau nggak enak. Biar aku ganti dengan masakan Bibi saja.” ujar Aya.
Namun Darren mencegahnya. Dia meletakkan kembali piringnya yang sudah diambil oleh Aya.
“Aku sangat menyukai masakan ini. rasanya sangat enak. Padahal masakan Bibi setahuku tidak seperti ini rasanya.” Ucap Darren membuat Aya tersenyum lega.
“Aku yang memasaknya.” Ucap Aya sekaligus membuat Darren terkejut.
Selama Aya tinggal di rumanya, memang Darren sangat jarang memperhatikan Aya di dapur. Dan memang hanya sesekali saja Aya ikut terjun ke dapur. Itu pun hanya membantu Bibi menyiapkan makanan saja.
Aya jelas sangat senang karena masakannya dipuji langsung oleh Darren. Mungkin setelah ini akan bersemangat untuk mencoba berbagai menu masakan baru demi suaminya.
Usai menikmati sarapannya pagi ini, Aya menyiapkan bekal dengan menu yang sama untuk dibawa Darren ke kantor. sedangkan Darren mengambil tasnya di ruang kerja.
Kini Aya mengantar suaminya pergi ke kantor sampai depan rumah. di sana juga sudah ada Julian yang sudah menunggunya. Kebetulan memang Darren meminta Julian untuk berangkat bersama dirinya.
“Aku berangkat dulu.” Pamit Darren.
Aya meraih tangan Darren, lalu mencium punggung tangannya. seketika hati Darren menghangat dengan sikap Aya yang seperti itu.
“Hati-hati!” ucap Aya tersipu malu.
“Ehm, iya. apa tidak ada yang lainnya lagi?” tanya Darren, membuat Aya bingung.
__ADS_1
Darren pun dengan cepat memgambil kesempatan untuk mencium kening istrinya. Aya pun pasrah. namun setelah itu Darren mengecup sekilas bibir Aya.
“Ehm!”
Darren dan Aya langsung menoleh ke sumber suara di mana Julian sekarang berdiri. Aya sangat malu karena kemesraannya dengan Darren disaksikan oleh Julian, asisten pribadi suaminya.
“Ya sudah, aku berangkat dulu. Baik-baik di rumah. kalau ada apa-apa segera hubungi aku.” pamit Darren mengabaikan Julian yang sejak tadi memasang wajah masam.
**
Kini Darren dan Julian sednag dalam perjalanan menuju kantor, dengan Julian yang mengemudikan mobilnya. Sedangkan Darren duduk di jok belakang sambil sibuk melihat beberapa dokumen melalui macbooknya.
Julian menatap bosanya dari kaca spion. Terlihat Darren senyum-senyum sendiri dengan tatapan tertuju pada macbooknya. Julian hanya mendengus kesal. Sudah bisa dipastikan kalau bosnya mulai bucin terhadap istrinya.
“Jadi, Tuan tadi meminta saya untuk datang ke rumah hanya untuk memperlihatkan kemesraan Tuan dengan Nona Aya?” tanya Julian yang entah dapat keberanian dari mana dia bisa menanyakan hal itu.
Mendengar pertanyaan Julian, Darren tampak memicingkan mata lalu membalas tatapan Julian dari kaca spion dengan tajam.
“Sejak kapan kamu aku bayar untuk ikut campur dalam masalah pribadiku?” tanya Darren.
“Sejak lama. Kalau Tuan lupa, saya juga yang mengurus mantan kekasih Nona Aya, dan membuat pria itu angkat kaki dari negara ini. bukankah itu termasuk masalah pribadi?”
“Julian! Apa kamu mau aku pecat?”
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1