
Kini Aya sudah tiba di hotel di mana Gandhi menginap. Hotel langganan Gandhi jika sedang berkunjung ke kota ini, karena pria itu sudah tidak memiliki tempat tinggal lagi di negara ini setelah memutuskan untuk pindah ke luar negeri bersama Omnya.
Sesampainya di kamar hotel sang kekasih, Aya langsung memeluk erat kekasihnya itu sambil memukul kecil dada Gandhi karena kesal.
“Kamu senang sekali sih memberi kejutan seperti ini.” ungkap Aya setelah pelukannya terlepas.
“Tapi kamu suka kan, Sayang? Selain aku ingin memberimu kejutan, aku juga ada tugas dari Om masalah bisnisnya.”
Aya mengangguk paham. Jujur ia sangat bahagia dengan kedatangan kekasihnya. Karena memang baru beberapa waktu yang lalu kekasihnya itu pulang. dan kini sudah datang lagi. kalau bisa berharap, Aya ingin Gandhi tinggal menetap di sini. sayangnya itu sangat sulit.
“Ya sudah, apa kita mau jalan sekarang?” tanya Gandhi menatap lekat mata Aya.
Aya menganggukkan kepala. Setelah itu ia memicingkan matanya saat tak sengaja melihat bekas merah pada leher Gandhi.
“Sayang, ini kenapa kok merah?” tanya Aya penuh selidik.
“Apa sih? Merah?” tanya Gandhi lalu mencari cermin untuk melihat apa yang dimaksud oleh Aya.
“Oh, ini tadi nggak sengaja kena tali ransel saat baru saja mengambil tas di bandara. Benar saja, kok rasanya agak perih.”
Aya bernafas lega setelah mendengar jawaban Gandhi. Padahal ia hampir berpikiran negative. Tapi tidak mungkin juga Gandhi melakukan itu. karena selama ini ia sangat tahu kalau Gandhi juga setia padanya.
**
Kini Aya dan Gandhi sudah keluar hotel untuk pergi makan malam di tempat favorit mereka. Tanpa Aya ketahui, ternyata Darren yang juga sedang ada di hotel itu melihat Aya sedang jalan bergandengan tangan dengan seorang pria. Apalagi Darren melihat dua orang itu baru saja keluar dari kamar hotel. Berbagai pikiran buruk pun muncul dalam benak Darren mengenai Aya. Namun ia segera menepisnya. Lagi pula dia tidak memiliki hubungan apapaun dengan Aya kecuali hanya pernikahan sandiwaranya nanti.
Kini Aya dan Gandhi sudah tiba di sebuah restaurant tempat favorit mereka. Tempat itu memang sedikit lebih jauh dari kota di mana tempat tinggal Aya. Jadi Aya akan merasa aman, tidak akan ada yang melihatnya.
“Sayang, kamu berapa lama di sini?” tanya Aya bergelayut manja pada lengan Gandhi.
“Tiga sampai empat hari. Aku ada kerjaan di sini. aku janji akan meluangkan waktu untuk kita berdua selama aku masih di sini.” ujar Gandhi membuat Aya tersenyum senang.
Gandhi membelai lembut pipi Aya sembari menunggu pesanan makanan mereka datang. keduanya juga saling menatap dalam penuh kerinduan. Aya sendiri rasanya tidak ingin Gandhi pergi sedetikpun dari jangkauannya.
“Aku sangat merindukanmu, Aya!” ucap Gandhi mendekatkan bibirnya pada bibir Aya.
__ADS_1
Aya sendiri tidak menolak saat merasakan bibir hangat Gandhi. Karena berciuman sudah menjadi hal biasa bagi mereka berdua selama menjalin hubungan. Hanya saja Aya masih bisa membentengi dirinya untuk tidak terjerumus ke perbuatan yang lebih dari ciuman. Meskipun Gandhi sudah berulang kali mencoba mengajak dan seringkali kecewa karena penolakan Aya.
Keduanya semakin menikmati pagutan itu. apalagi tempat yang dipilih Aya dan Gandhi sangat mendukung dan jauh dari keramaian pengunjung lainnya. Tangan Gandhi mulai bergerak nakal hendak meraih sesuatu yang sejak dulu sangat dia inginkan. Namun sayangnya Aya dengan cepat mencegahnya dan bersamaan dengan pelayan resto datang membawa pesanan makanan mereka.
Gandhi hanya menghembuskan pelan nafasnya. Tidak apalah, yang penting dia sudah merasakan manis bibir kekasihnya itu.
“Terima kasih!” ucap Aya pada pelayan resto.
Gandhi memegang tangan Aya sebelum menyantap makan malamnya.
“Sayang, apa kamu mencintaiku?” tanya Gandhi.
Mendapati pertanyaan sang kekasih, Aya mendadak gugup. Padahal Gandhi tidak pernah bersikap seperti ini. apa mungkin pria itu tahu kalau beberapa hari yang lalu ia bertunangan dengan Darren.
“Kamu ini bilang apa sih? Jelas aku mencintaimu. Apa kamu tidak percaya?”
“Bukan seperti itu. aku hanya memastikan saja. aku janji akan segera menikahimu setelah pendidikanku selesai. kumohon agar kamu selalu setia.”
Aya menganggukkan kepalanya. Dia bisa melihat kesungguhan hati Gandhi. Lalu menghubungkan dengan kalimat yang pernah diucapkan oleh Papanya mengenai keluarga Gandhi. Meskipun Papanya pernah memiliki hubungan tidak baik dengan kedua orang tua Gandhi, harusnya tidak bisa dikaitkan dengan Gandhi yang notebene pria baik yang sangat setia selama menjalani hubungan.
“Aku akan selalu setia menunggumu.” Jawab Aya setelah mengecup singkat bibir kekasihnya.
Setelah itu keduanya menikmati makan malam yang cukup romantis sambil bercengkrama membicarakan kehidupannya masing-masing. Gandhi selalu mendengarkan semua keluh kesah kekasihnya. Pria itu tampak mengukir senyum dengan melihat sikap Aya yang manja. Sikap yang selalu ia rindukan saat sedang berjauhan dengan perempuan itu.
Cukup lama Aya dan Gandhi menghabiskan waktunya. Setelah itu mereka pulang dengan Aya mengantar Gandhi kembali dulu ke hotel.
“Besok kalau pekerjaanku selesai, kita bisa jalan lagi.” ucap Gandhi saat sudah sampai depan kamar hotelnya.
“Ok, aku tunggu. Ya sudah, aku pulang dulu. Selamat beristirahat!” pamit Aya sebelum pergi.
Argghhh
Aya sangat terkejut saat tiba-tiba Gandhi menarik tangannya dan pria itu langsung mencium bibirnya dengan rakus. Padahal mereka sedang berada di depan kamar hotel. Meskipun suasana sedang sepi. Tapi Aya sangat tidak nyaman.
“Maaf, aku masih merindukanmu, Sayang!” ucap Gandhi sambil mengusap bekas saliva di bibir Aya.
__ADS_1
“Ya sudah hati-hati di jalan!” lanjut Gandhi memilih masuk ke kamarnya lebih dulu. Aya juga langsung pulang meninggalkan kamar hotel Gandhi yag pintunya baru saja tertutup.
Aya mengusap dadanya pelan saat merasa aneh dengan sikap Gandhi yang tak biasa. Pria itu terlihat lebih agresif dari biasanya. Dan Aya bisa merasakan sendiri saat sedang makan malam tadi.
“Ehm!”
Aya sangat terkejut saat hendak memasuki lift ada seseorang yang sedang berdiri di belakangnya. Karena sejak tadi memang Aya sedang melamun.
Aya membulatkan matanya saat melihat pria itu adalah Darren. Bagaimana bisa pria itu juga berada di hotel ini. apalagi dilantai yang sama dan lift yang sama. Apa mungkin Darren tadi melihat adegan ciumannya dengan Gandhi.
“Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya Aya saat keduanya sudah masuk ke dalam lift.
“Bukan urusan kamu.” Jawab pria itu datar seperti biasanya.
“Apa kamu sedang membuntutiku? Lalu kamu akan melaporkan apa yang baru saja kamu lihat kepada Papaku?” tuduh Aya.
Darren memutar tubunya menghadap ke arah Aya. Entah kenapa dia terusik dengan tuduhan yang baru saja dilontarkan oleh Aya. Walau kenyataannya dia melihat apa yang dilakukan oleh Aya dengan kekasihnya baru saja. namun untuk melaporkannya pada orang tua Aya rasanya sangat tidak mungkin.
“Perlu kamu tahu, kalau hotel ini adalah milikku.” Ucap Darren membuat Aya sangat terkejut.
“Dan satu lagi, aku tidak peduli dengan apa yang kamu lakukan dengan pria tadi. bukan urusanku. Kamu juga sudah tahu bukan kalau kamu bukan tipeku. Tipeku bukan perempuan murahan.”
Plakkkk
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1