Batal Cerai

Batal Cerai
Ch 7. Pertunangan


__ADS_3

Keesokan harinya Aya bertemu dengan Lissa, sahabatnya. kebetulan juga Lissa hari ini cuti bekerja karena sedang kurang enak badan. Jadilah Aya mendatangi rumah Lissa untuk melihat keadaan sahabatnya itu sekaligus ingin bercerita tentang perjodohannya dengan Darren.


“Gila kamu, Ay! Lalu bagaimana dengan Gandhi? Bukannya kalian sama-sama setia.” Tanya Lissa yang sangat terkejut mendengar kabar perjodohan sahabatnya.


“Aku tidak akan memberitahu Gandhi, Lis. Karena aku dan Darren sudah sepakat untuk bercerai setelah beberapa bulan nanti kita menikah.”


“Kamu yakin dengan rencana itu, Ay? Karena seperti pada kebanyakan novel yang aku baca, justru pernikahan dengan perjodohan yang awalnya saling tidak tertarik ujung-ujungnya akan saling bucin loh. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib Gandhi nanti.”


“Jangan disamain dengan cerita novel dong, Lis. Dan tidak mungkin aku jatuh cinta pada pria kaku seperti Darren. Begitu juga dengan dia yang seolah tidak tertarik dengan perempuan.” Ucap Aya apa adanya.


Lissa hanya menghembuskan nafasnya pelan. Tapi saat dia bertemu dengan Aya kemarin saat bersama Darren, memang Lissa tahu kalau pria itu terlihat sangat dingin. Tapi tidak menutup kemungkinan jika suatu saat Aya dan Darren saling mencintai. Dan itu artinya,.. Lissa mengulas senyum tipis tanpa sepengetahuan Aya.


“Ya sudah kalau mau kamu begitu. Nanti kalau kalian cerai, manta suami kamu buat aku saja, boleh ya?” tanya Lissa sambil mengerlingkan matanya pada Aya.


“Dasar!!” Aya mentoyor kepala Lissa seolah ucapan Lissa hanya bercandaan.


Setelah itu kedua sahabat itu menghabiskan waktu seharian di dalam kamar. seperti biasa, mereka akan menonton drama kesukaan mereka. Padahal Lissa sendiri sedang sakit, tapi dengan kedatangan Aya, rasa sakit di badannya sudah hilang.


***


Hari pertunangan Aya dan Darren pun tiba. Acara itu digelar sangat sederhana di kediaman Mirza. Hanya keluarga inti saja yang hadir. Sedangkan dari pihak keluarga Darren, hanya Tuan Melviano dan Julian, asisten pribadi Darren.


Acara pertunangan itu berlangsung singkat dan lancar. Dan rencana pernikahan Aya dan Darren akan digelar setelah Aya wisuda. Tentu saja itu sangat mengejutkan bagi Aya. Namun tidak dengan Darren. Karena memang pria itu selalu menampakkan wajah datarnya. Dan perlu diingat, kalau Darren juga tidak tertarik dengan pernikahan keduanya ini. apalagi dari awal Aya sudah berniat untuk mempermainkan pernikahan.


Aya juga meminta pada kedua orang tuanya juga pihak keluarga Darren kalau pernikahannya nanti digelar secara sederhana saja tanpa ada pesta mewah. Mirza sempat menolak, namun setelah itu istrinya menyetujui permintaan Aya. Akhirnya Mirza menurut saja. yang penting pernikahan mereka sah.

__ADS_1


Kini semua orang sudah berkumpul di ruang makan untuk menikmati jamuan dari keluarga Mirza. Sedangkan Aya memilih untuk keluar sejenak karena ingin mengajak Darren bicara.


“Maaf, semuanya. Aya keluar dulu.” Pamit Aya dan mendapat tatapan penuh selidik dari Papanya.


Kini Aya dan Darren sudah ada di teras rumah. seperti biasa, Darren selalu tidak minat jika diajak berdua dengan Aya. Namun sepertinya ada hal penting yang akan disampaikan calon istrinya itu.


“Kamu ingat kan dengan rencana kita tempo hari?” tanya Aya dan mendapat anggukan kepala dari Darren.


“Baguslah kalau begitu. Nanti aku pikirkan lagi rencananya bagaimana kita akan bercerai, agar tidak membuat kedua orang tua kita curiga.” Lanjut Aya.


Darren sama sekali tidak memberikan reaksi apapun. Setelah itu dia beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan Aya begitu saja. jelas Aya sangat kesal dengan sikap Darren yang seperti itu. dengan cepat Aya mencekal lengan Darren yang hendak masuk ke dalam rumah.


“Bisa nggak sih kamu tidak dingin seperti ini? aku tahu kalau kamu juga tidak suka denganku dan tidak menghendaki perjodohan ini. setidaknya jangan aku saja yang berusaha untuk mencari cara untuk kita berpisah nanti.” kesal Aya menatap tajam ke arah Darren. Setelah itu ia pergi lebih dulu meninggalkan Darren yang masih terdiam.


Darren masih terpaku di tempatnya. Memang benar kalau dirinya juga tidak menghendaki perjodohan ini. setelah mendengar ungkapan kekesalan Aya baru saja, kenapa hatinya merasa tidak enak dengan perempuan itu. harusnya dia juga ikut berusaha untuk mencari cara bagaimana nantinya bisa berpisah dengan Aya. Kalau dirinya diam begini, memang terkesan kalau ia justru menghendaki perjodohan ini.


“Kamu mencari Aya, Ren?” tanya Mirza.


Darren hanya mengangguk samar demi tidak menimbulkan kecurigaan terhadap kedua orang tua Aya.


“Aya tadi berpamitan masuk ke kamar karena kepalanya pusing. maafkan Aya ya, Ren. Dia masih sedikit labil.” Sahut Mama Devina.


“Ehm, nggak apa-apa Tante.”


Setelah menyelesaikan makan malamnya, keluarga Darren berpamitan pulang. Mama Devina pun terpaksa memanggil Aya karena rasanya tidak pantas jika putrinya itu tidak ikut mengantar kepulangan keluarga calon suaminya.

__ADS_1


Aya mencium punggung tangan Papa Vano. Dan hal itu berhasil membuat Darren tersentuh. Bahkan istrinya yang terkenal bertutur lembut dulu tidak pernah sekalipun melakukan hal seperti Aya. Papa Vano sendiri sangat senang melihat sikap sopan Aya. Bahkan pria itu sampai mengusap lembut kepala Aya.


“Om sudah tidak sabar ingin memiliki menantu seperti Nak Aya.” Ujar Papa Vano berbinar.


Aya hanya mengulas senyum setelah itu menatap dingin pada Darren yang telah membuatnya kesal. Rasa hangat yang sempat menghampiri Darren musnah seketika saat melihat tatapan dingin Aya.


Setelah kepulangan keluarga Darren, Aya kembali masuk ke kamar. namun tiba-tiba saja Papanya menghentikan langkahnya dan meminta Aya untuk duduk.


“Ada apa sih, Pa? kepala Aya pusing.” ucap Aya dengan wajah malas.


“Pusing benaran apa bohongan?” tanya Papa Mirza yang mengerti kalau anaknya sedang berbohong.


“Papa tahu kalau kalian kamu dan Darren tidak saling cinta, Aya. Banyak sekali alasan kenapa Papa ingin kalian menikah. Papa sangat percaya kalau Darren adalah pria baik, meskipun sikapnya dingin seperti itu. dan Tuan Vano juga sudah lama menjadi rekan bisnis Papa yang sudah seperti keluarga sendiri. Jadi Papa mohon, menurutlah dengan Papa, Aya. Orang tua itu tidak pernah salah dalam menentukan pilihan untuk anaknya.” ucap Papa Mirza dengan lembut agar tidak membuat Aya emosi.


Aya hanya menggelengkan kepalanya. Menjalani rumah tangga dengan seseorang yang tidak ia cintai sagatlah sulit. Apalagi ini pengalaman pertamanya. Dan modal baik saja tidak cukup menurut Aya. Apalagi sudah lama ia menjalin hubungan Gandhi. Jelas ia sudah tahu luar dalam, sisi baik dan buruknya kekasihnya itu yang menurutnya lebih baik dari Darren. Kenapa Papanya tidak menyetujui hubungannya dengan Gandhi.


“Papa sudah tahu bukan kalau Aya menjalin hubungan dengan Gandhi? Sekarang Aya tanya, kenapa Papa menentang hubungan Aya dengan Gandhi? Tolong Papa kasih tahu alasan yang jelas!”


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2